Holiday Writing Challenge by GagasMedia

Ai (cinta tak pernah lelah menanti).
Page 62&63.
Winna Efendi’s version.

“Aku tidak ingin kehilangan kamu, juga tidak ingin kehilangan Shin. Kamu mengerti maksudku?”

Aku berhenti untuk menatapnya lekat-lekat. Akhir-akhir ini, sebuah pertanyaan terus-menerus membuatku risau. “Ai, tidak pernahkah kau merasa aku hanya akan menjadi pengganggu dalam hubunganmu dan Shin?” tanyaku lagi.

Dia tersenyum dan menggeleng. “Kau dan Shin adalah dua orang yang berbeda, tapi kalian sama pentingnya untukku. Bersama Shin, aku menemukan begitu banyak kecocokan, hubungan kami sangat menyenangkan. Tapi, bersamamu, Sei, aku selalu merasa seperti memiliki rumah untuk kembali.”

Aku terhenyak. “Kamu banyak berubah, Ai-chan.” Dia bukan lagi gadis kecil yang manja dan impulsif. Kalimatnya seolah menyadarkanku bahwa kami sudah beranjak dewasa, dengan pilihan-pilihan penting yang harus dibuat.

“Manusia berubah, Sei. Kita tidak bisa jadi orang yang sama selamanya. Tapi, bukan berarti persahabatanku denganmu juga ikut berubah. Aku masih tetap menyayangimu seperti dulu.”

Walau tidak banyak yang diucapkannya, sedikit banyak aku mengerti. “Ai, kamu… benar-benar menyukai Shin?”

Ai terpaku menatapku setelah mendengar pertanyaan itu, lalu tersenyum. “Sei, kau juga benar-benar menyukai Shin, kan?”

Ya, tentu saja. Aku dan Ai sama-sama mengaguminya, dengan cara yang berbeda. Mungkin, nasib yang membawanya ke sini, takdir yang mempertemukannya dengan kami, sama seperti benang merah yang mempertemukan aku dengan Ai. Shin sekarang adalah prioritas baru dalam hidup Ai—aku tidak lagi bisa memiliki Ai sendirian.

“Ikutlah bersama kami ke Tokyo,” pintanya.

Aku berhadapan dengan Ai, memandang wajahnya yang terbakar matahari dengan rambut melambai-lambai. Aku mengangguk.

Siang itu, aku menyerahkan kertas pemilihan universitas kepada sensei. Baris pertama, Todai. Baris kedua, Todai.

Bulan demi bulan berlalu, seakan berlari menuju waktu ujian akhir. Aku, Ai dan Shin sibuk belajar—mengerjakan soal-soal latihan dua kali lebih tekun, mendengarkan sensei dengan lebih saksama, meminjam buku-buku pelajaran lebih banyak. Di sore hari, kami lebih banyak menghabiskan waktu bertiga, belajar di samping dapur sebelum restoran ramai, atau di toko buku, membeli buku referensi latihan soal.

***

Ai
Page 62&63.
My version.

“Aku tidak ingin kehilangan kamu, juga tidak ingin kehilangan Shin. Kamu mengerti maksudku?”

Aku mengangkat wajah untuk menatap Ai sepintas, lalu mendesah lamat-lamat. Sementara Ai kelihatan bingung harus mengatakan apa lagi, aku beranjak dari kursi menuju perapian. Sedari tadi apinya tidak besar dan potongan kayu bakar Redovein—kayu bakar urat merah—terlihat melayang dan berputar di tengah-tengah.

“Ai, tidak pernahkah kau merasa aku hanya akan menjadi pengganggu dalam hubunganmu dan Shin?” aku bertanya tanpa menatap Ai.

“Kau dan Shin adalah dua orang yang berbeda, tapi kalian sama pentingnya untukku. Bersama Shin, aku menemukan begitu banyak kecocokan, hubungan kami sangat menyenangkan. Tapi, bersamamu, Sei, aku selalu merasa seperti memiliki rumah untuk kembali.”

Aku tertegun. Bukan dikarenakan api perapian yang padam oleh angin kencang yang menerobos papan gubuk tua yang sudah keropos ini. Bukan pula karena potongan kayu bakar Redovein terjatuh dan meledak-ledak saat saling berbenturan. Akan tetapi, karena rasa-rasanya tanpa benar-benar aku sadari, Ai sudah berubah. Dan itulah yang aku katakan kepada Ai saat aku berpaling menatapnya.

“Kamu banyak berubah, Ai-chan,” tuturku dengan cara yang tidak biasa.

Ai menyulam senyum tipis di balik cahaya rembulan yang temaram, yang menyelusup masuk melalui lubang atap yang menganga lebar. Aku menciptakan lubang itu tanpa sengaja semalam, setelah aku mendengar rencana yang dibeberkan Ai dan Shin. Mengingat itu, tiba-tiba saja aku ingin meninju apa saja sekarang, hanya saja aku tidak mungkin melakukannya sekarang. Aku tidak mau menakuti Ai seperti yang aku lakukan semalam saat aku memporakporandakan hutan dalam satu detik. Maka, aku hanya menyipitkan mata ke arah perapian dan seketika api kembali membuat Redovein melayang-layang, kali ini lebih cepat.

“Manusia berubah, Sei. Kita tidak bisa jadi orang yang sama selamanya. Tapi, bukan berarti persahabatanku denganmu juga ikut berubah. Aku masih tetap menyayangimu seperti dulu.”

Aku membuang muka dan tersenyum muram. Itu masalahnya, Ai. Tidakkah kau mengerti? Tidak ada manusia yang bisa memporakporandakan hutan hanya dalam sekejap mata. Tidak ada manusia yang bisa mematik api hanya dengan sipitan mata. Tidak ada manusia yang memiliki mata yang bisa menghancurkan apa saja.

Tidak ada manusia yang memiliki Perdiculrum, sepasang mata merah yang hanya dimiliki oleh keturunan suku Perdiditarx, suku yang paling ditakuti di Gerumnoa.

“Ai, kamu… benar-benar menyukai Shin?” aku bertanya meski seharusnya aku sudah tahu jawabannya. Bukankah itu juga yang menjadi alasan kenapa Ai setuju pada rencana Shin untuk meninggalkan Gerumnoa dan kembali ke Tokyo—bagian dari dunia manusia, tempat di mana mereka sepatutnya berada?

“Sei, kau juga benar-benar menyukai Shin, kan?” Ai balik bertanya, dan aku hanya diam. Tidak ingin menjawab. Tidak perlu menjawab. Ai bisa membaca pikiran siapa saja. Mencoba untuk menyangkal adalah hal yang sia-sia. “Ikutlah bersama kami ke Tokyo,” mintanya kemudian.

Aku menggeleng samar-samar, lalu menunduk. Ai menyebutkan namaku, namun aku enggan mengangkat wajah, terlalu takut untuk menatapnya. Bahkan sampai Shin datang untuk menjemput Ai, aku masih betah memandangi lantai kayu yang semakin lama semakin hancur karena tatapanku. Sebelum mereka benar-benar pergi, aku tidak akan mengangkat wajah. Sebab aku tahu, jika aku mengangkat wajah sekarang, mereka akan terkapar tidak bernyawa saat itu juga.

Biasanya aku tidak akan ragu membunuh siapa saja yang memiliki keinginan yang berseberangan dengan keinginanku. Namun kali ini saja, aku ingin membuat semuanya berbeda. Hanya untuk mereka.

Sebab dari mereka, aku tahu apa itu persahabatan, Dari mereka pula, aku mengenal apa itu cinta.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s