Holiday Writing Challenge by GagasMedia

Sometimes
Terkadang cinta harus menunggu…

Delapan Belas

***

Magentha

Aku sedang makan siang dengan Sam di Deligracias. Deligracias sendiri adalah sebuah kafe minimalis yang tidak terlalu luas. Awalnya aku sempat ragu. Bagaimana tidak? Namanya terdengar asing di telingaku, apalagi letaknya yang cukup jauh dari pinggir kota. Entah sejak kapan, namun tahu-tahu apa yang aku pikirkan terlihat begitu transparan bagi mata Sam. Pria itu dengan mudahnya membaca pikiranku, lalu tersenyum.

“Jangan terkecoh oleh pikiranmu sendiri,” begitu ia memperingatkanku. “Kafe ini memang tidak begitu terkenal, namun pantas disandingkan dengan semua kafe yang kaukenal,” sambungnya.

Aku tersenyum malu dan mengangguk. Lalu aku mengikutinya masuk ke dalam.

Kesan pertama Deligracias bagiku adalah nyaman. Kursi dan mejanya disusun sedemikian rupa sehingga—tidak jelas bagaimana bisa—terlihat lebih rapi daripada kafe-kafe lain yang pernah aku kunjungi. Lantai kayunya berbunyi setiap kali beradu dengan langkah kaki. Musik klasiknya mengalun dengan volume yang pas. Lampu kuningnya yang menyala tidak terlalu terang. Sebuah perpaduan yang membuatku jatuh cinta dan berjanji akan datang lagi.

“Aku akan datang ke sini lagi,” cetusku setelah memesan sesuatu. Sam hanya tersenyum. “Sekalipun makanannya terbukti tidak enak,” sambungku. Dan senyuman Sam semakin melengkung. Aku tidak tahu kenapa ia begitu namun saat pesananku datang dan aku mencicipinya, mendadak semuanya menjadi begitu jelas.

“Enak,” aku berseru tertahan sambil memandangi steak yang aku pesan dengan takjub.

Sam terkekeh di seberang. “Apa kubilang,” katanya. Kemudian ia mulai menyantap nasi gorengnya. Aku mengangkat bahu dan kembali menyantap steak-ku.

Aku sempat bertanya-tanya kenapa tiba-tiba Sam mengajakku ke sini, kenapa bukan ke kafe tempat kami makan siang bersama untuk pertama kalinya, atau ke kedai mie yang menyediakan mie yang menurut Sam terenak di seluruh Indonesia. Semula aku menyangka karena kafe di sini menyediakan makanan yang tidak kalah enaknya. Akan tetapi saat Sam tiba-tiba mencetuskan sesuatu, aku tahu alasannya tidak sesederhana itu.

“Ini kafe favorit Jo,” cetusnya dengan ringan. Ia tampak tidak masalah menyebutkan sebuah nama yang belakangan ini jarang keluar dari mulutnya. Lalu Sam mulai bercerita.

Katanya, Jo sering minta diantarkan ke sini untuk makan siang. Jika kebetulan mereka sedang beda keinginan—Jo ingin makan siang di sini sementara Sam ingin makan siang di kedai mie favoritnya, Jo akan lebih banyak mengalah. Akan tetapi, sesekali Jo bisa jadi begitu keras kepala sehingga mereka harus melewati perdebatan yang panjang. Pernah satu kali mereka putuskan untuk mengunjungi kedua-duanya. Kedai mie, lalu kafe ini. Namun begitu sampai di sini, mereka malah hanya memesan minuman, terlalu kenyang untuk memesan makanan lagi. Yang terjadi kemudian adalah Sam duduk santai dan menemani Jo yang sedang menulis sampai sore.

Aku kira hanya sampai di situ, namun mungkin bagi Sam itu belum cukup sebab potongan-potongan cerita lain kemudian berlompatan keluar dari mulut Sam. Sam bercerita dengan lancar dan tenang. Sesekali ia akan diam sejenak untuk tersenyum sebelum melanjutkan lagi.

Ia bercerita tentang apa yang sering dipesan Jo di sini. Nasi goreng dengan telur mata sapi setengah matang dan segelas jus belimbing, beritahunya. Ia juga bercerita tentang kebiasaan Jo yang selalu mengoperkan ketimun dan tomat dari piringnya ke piring Sam, juga Jo yang selalu mengaduk jus belimbingnya tiga kali sebelum meminumnya. Sam tidak melewatkan tentang Jo yang suka menyebutkan judul musik klasik yang mengalun bergantian di sini. tidak juga tentang Jo yang otomatis berseru ‘berisik’ setiap kali Sam memainkan lonceng kecil di atas meja seperti anak kecil. Dan masih banyak lagi.

Aku masih mendengarkan Sam saat tiba-tiba aku tersadar akan sesuatu yang membuatku tidak bisa menahan senyum. Sam berhenti, mengamatiku sebentar sebelum bertanya, “kenapa senyum-senyum seperti itu?”

“Kau tidak tahu?” aku balik bertanya, lalu menyentil lonceng kecil di atas meja hingga berdenting sekali. Aku melihat Sam melipat-lipat keningnya dan berpikir. Lalu ia menggeleng dengan lugu.

“Tahu apa?” ia bertanya.

Aku menyunggingkan senyum sepintas, kemudian, “sedari tadi kau terus membicarakan Jo,” beritahuku.

Ia tampak tersengat dengan mata yang tiba-tiba melebar. Ia benar-benar tidak sadar. Lalu pelan-pelan sinar matanya menjadi samar-samar. Ia menengadah sebentar dan sejenak terlihat ingin menghindar. Akan tetapi saat ia menunduk, ia menggumamkan sesuatu dengan saru.

“Aku merindukannya.”

“Kau bisa menemuinya,” kataku, namun Sam mengangkat wajah dan menggeleng. “Kenapa tidak?”

Sam membuka mulutnya, lalu mengatupkannya kembali tanpa sempat mengucapkan sesuatu. Ia ragu, namun aku tahu.

Aku menyentuh tangan Sam. “Sam, dia hanya mencintaimu. Dia tidak meminta apa pun.”

“Tetapi…”

Aku menggenggam tangan Sam dan menyela, “cinta itu tidak memaksa.”
Sam menatapku beberapa waktu dan mengangguk. “Sama sepertimu yang tidak memaksa Jo dulu,” ucapnya.

Aku menyulam senyum dan menggenggam tangan Sam semakin erat. “Juga sepertimu yang tidak pernah memaksaku untuk menerimamu.”

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s