Sometimes (Tujuh Belas)

Vesselia

Aku menoleh ke arah pintu kamar setelah mendengar bunyi ketukkan yang samar-samar. Tidak lama aku seperti itu sebab setelah sekian detik melaju dan berlalu, aku mendapati sepupuku kemudian melangkah masuk. Sementara ia terus melangkah sambil pelan-pelan bersenandung, aku tetap duduk dan kembali larut mengangin-anginkan lukisanku.

Aku tahu saat Kafka berhenti di sampingku dan sebelah tangannya menyentuh puncak kepalaku. Ia berhenti bersenandung setelah itu. Lewat cermin di depan sana aku lihat ia berusaha mencari mataku, lantas beralih mengamati lukisanku. Aku terus menunggu hingga akhirnya ia putuskan untuk menggumamkan sesuatu.

“Dia lagi?”

Aku menengadah, menatapnya sejenak kemudian tersenyum sepintas. Ia membawa tangannya menjauh saat aku berhenti menengadah dan mengangkat bahu.

“Terus melukisnya. Apa itu caramu mencintainya?”

Aku mendesah tidak kentara, lantas, “itu semua yang aku bisa,” aku memberinya jawaban dengan suara yang mengambang.

“Sampai kapan, Ve?” Kafka bertanya lagi.

Aku menyandarkan kepalaku ke pinggang Kafka dan termenung sejenak. Aku menyentuh wajah Jo di kanvas, lantas menjawab setelah melepas napas. “Sampai aku menemukan alasan untuk berhenti melakukannya.”

Kafka menunduk dan menatapku. Aku mengangguk dan kembali termenung. “Hanya dengan melukisnya aku bisa memilikinya… seutuhnya, tanpa peduli pada kenyataan yang terjadi.” Aku meneguk ludah dengan susah, dan sesudahnya, “kenyataan kalau dia mencintai lelaki,” aku menuntaskan.

Aku mengangkat wajah dan mendapati mata Kafka terbelalak yang sesaat kemudian meredup untuk satu alasan yang tidak aku tahu. Ia ikut menyentuh kanvas dengan jemari yang bergerak kaku. Dan saat aku kembali menatapnya, aku terperangah. Ia… ia kelihatan tahu bagaimana rasanya.

Aku mengerjap-ngerjapkan mata saat Kafka berpaling menatapku tiba-tiba. Ia menyunggingkan senyum yang terasa berbeda dan, “kita berangkat sekarang?” tanyanya sambil membetulkan letak ransel sekolah di pundaknya.

***

Jonathan

Aku melangkah keluar rumah bersama kegamangan yang serupa bayangan. Mentari yang bergelayut di batas timur sana mendadak bukan lagi apa-apa. Bagi sepasang mataku, ia tampak begitu saru, jauh dan seperti ilusi lalu. Sebab kini sekelilingku tampak gelap, tidak seperti semestinya.

Belum pernah aku seperti ini sebelumnya di mana napasku terkatung dan diburu rasa takut, juga langkahku setengah menolak untuk maju. Dan semuanya bertambah kacau saat aku melihatnya tidak jauh di depanku. Beberapa waktu yang lalu, saat aku menghampirinya di meja makan, ia bergegas menjauh tanpa mengatakan apa pun. Lantas sekarang bagaimana aku akan menghadapinya jika di matanya aku tampak terlarang untuk dijamah?

Sam melirikku sekilas dan terlihat enggan. Ia menunduk sekelumit dan, “masuk,” katanya tanpa sedikit pun mengayunkan matanya ke arahku.

“Sam,” sebutku, berupaya tidak terganggu oleh nada dingin yang baru ia cetuskan. Aku baru menarik dua langkah untuk mendekatinya saat Sam memenggal langkahku dengan tiba-tiba.

“Jonathan, tolong jangan buat semuanya bertambah sulit,” mintanya dengan lelah. Sam memutar badannya sampai memunggungiku, lalu, “masuklah,” ia mengulangi.

Aku memejamkan mata dan mengepalkan tangan kuat-kuat ketika sakit tertawa dan meninggalkan bilur yang menganga. Dan sakit itu masih ada saat aku membuka mata dan menatap punggungnya lama. Aku menurutinya dengan percah-percah daya, berjalan menjauhinya dan masuk ke dalam mobil.

Hanya ada satu masa di mana Sam memanggilku dengan Jonathan, ketika ia belum mengenalku sepenuhnya. Dan sekarang ia kembali ke masa itu.

Sam tidak lagi mengenalku.

Dan semua ini salahku.

***

Samuel

Hari ini tidak seperti biasanya di mana aku dan Jo bisa berbicara tentang banyak hal, lalu tertawa. Sesuatu sedang salah dan tidak semestinya. Itu mungkin adalah alasan kenapa suara Jo terdengar usang di telinga, mungkin juga alasan kenapa aku bersikeras menjerat mata untuk mengabaikannya. Setelah semua yang ia tutupi meninggalkan celah untuk dibuka, seketika itu pula ia menjelma menjadi sudut yang sebaiknya tidak lagi aku sambangi. Ini bukan benci. Aku hanya harus berlari.

Semua sudah tersingkap, dan berpura-pura tidak ada apa-apa adalah hal yang sia-sia. Amukkan badai bermacam-macam rasa ini tidak bisa luput dari mata, mustahil bisa reda begitu saja. Segala tingkah kami pun berubah dan tidak lagi searah. Setiap inci seakan tidak akan pernah habis terbabat. Jarak yang memisahkan kami begitu hebat. Keinginanku tidak surut sedikit pun untuk menarik langkah dengan cepat, meninggalkan Jo yang mengikutiku diam-diam dengan langkah yang takut-takut. Aku nyaris memasuki kantin saat terdengar derap langkah yang memburu, dan Jo menyambar tanganku sepintas detik setelah itu.

“Kita butuh bicara,” katanya dengan nada memohon.

Aku menggeleng. “Semua yang kita butuhkan hanya jarak,” sahutku dengan nada rendah tanpa berbalik untuk menatapnya. Aku menarik napas, kemudian, “lepaskan,” aku meminta dengan repas.

Tangan Jo gemetaran, begitu pula suaranya. “Sam…”

“Jonathan, lepaskan,” aku mengulangi di sela-sela gemeletuk gigi. Lalu saat Jo bersikeras dengan keinginannya yang tidak akan pulas, rasa geram pun bebas dan lepas. Aku memutar badan sampai menghadapnya dan menyentakkan tanganku agar bebas dari jeratannya. Mataku terbeliak lebar menerjang matanya sementara kedua tanganku mengepalkan diri sekuat-kuatnya. “Jonathan, aku tidak akan pernah,” aku menggeleng dengan gundah, “tidak akan bisa menjadi penyuka sesama jenis sepertimu,” hardikku.

Dan seketika aku tersentak saat kesadaran menendangku dengan telak. Kepalan tanganku terurai begitu saja dan rasa geramku kini entah merayap ke mana. Aku dibuat terperangah oleh kalimat yang aku luapkan sendiri sementara Jo lebih dari terperangah. Matanya sempat terbelalak tidak menyangka, lalu sejenak kemudian berubah sendu setelah kabut turun menyetubuhinya.

Naluri membawaku melangkah maju dan mengulurkan tangan untuk menyentuhnya. Akan tetapi, Jo melangkah mundur dengan kaku. Akan tetapi, ia tergerak untuk menjauh. Ia tidak mau.

“Jo, aku…”

Aku merasa ngilu di hati saat Jo menggeleng dan tersenyum sedih.

“Sam…” Jo merangkai namaku dengan sangat lambat dan pelan, “ini juga cinta, kan?” tanyanya. “Lantas kenapa dipandang hina?”

***

Dan semuanya berawal dari kantin di pagi itu, saat aku menghardik lepas kendali dan beberapa pasang telinga di sekitar diam-diam mencuri. Semestinya mereka menyimpannya hanya untuk diri sendiri, namun manusia memang sulit mengendalikan diri. Dari beberapa mulut yang terkutuk, lalu diteruskan oleh mulut-mulut lain yang sama terkutuknya. Pelan-pelan nila itu tersebar. Menyelusupi setiap pintu dan cela-cela jendela. Menyalami setiap pasang telinga. Meninggalkan jejak yang sukar samar.

Ingin maupun tidak ingin, semua kemudian mendengar. Setitik nila itu sedemikian menggelegar, membuat seluruh penjuru sekolah gempar. Satu per satu pendapat ditukar. Terus saja dibicarakan meski mereka tahu ada yang sedang terkapar. Nila itu seperti tidak akan terasa hambar meski sesungguhnya satu minggu sudah berlalu semenjak sekolah seolah menjadi neraka, bagiku dan terlebih bagi Jo…

***

Sekarang aku sedang memperhatikan Jo dari kejauhan. Ia tampak tenang. Ia tampak biasa, lebih dari semestinya. Biasa terhadap setiap mata yang memandangnya dengan tidak lazim. Biasa melihat bibir miring yang mencibir. Biasa mendengar suara buruk yang membicarakannya layaknya seorang tahanan.

Aku menghela napas panjang, lalu membuang sisa-sisa rasa sesak di dada. Aku marah kepada diriku sendiri. Aku merasa gagal menjadi seorang sahabat untuk Jo. Seharusnya aku tidak di sini. Seharusnya aku berlari ke arahnya dan merangkulnya. Seharusnya aku meyakinkannya kalau semua akan baik-baik saja seperti yang dulu aku lakukan ketika ia diejek karena kurus, atau saat nilai ujiannya merosot jauh. Seharusnya…

Namun aku tidak bisa. Semuanya tidak lagi sama, apalagi setelah Papa tahu semuanya dan dengan terpaksa menyewa sebuah rumah kecil dan membiarkan Jo tinggal di sana sendiri. Berengsek memang, namun harus aku akui kalau aku mulai terbiasa dengan jarak yang membatasi kami. Seperti yang Papa katakan, ini—mungkin—yang terbaik.

***

Magentha

Aku berhenti menarik langkah di dekat Sam. Kuperhatikan wajah lelahnya sebentar, lalu menuntun mata untuk mengikuti arah pandangnya. Melihat Jo ada di sana, sejenak aku pun terlempar ke masa-masa di mana aku mulai bisa memahami Jo, memahami semua tentangnya.

Saat itu masih pagi dan masih terlalu dini untuk sebuah kejutan yang mengubah sepanjang hari. Aku tidak tahu butuh berapa lama sampai akhirnya berita itu tersiar dan mendengung di telingaku. Yang aku tahu, saat itu dunia berputar begitu cepat di dalam kepalaku. Aku terhuyung mundur dan sudah pasti akan jatuh terduduk kalau saja Ve tidak berlari menghampiriku.

Kau sudah tahu? Begitu tanyanya dan aku mengangguk begitu saja, tidak sepenuhnya untuk menyahuti pertanyaannya. Sebab, di detik itu, ada banyak hal yang aku tahu.

Aku tahu alasan di balik tindak-tanduk Jo yang menjauhiku. Aku tahu apa yang sebenarnya ingin ia jaga dengan utuh-utuh. Aku tahu ia mendera sakit saat ia meminta hatiku untuk lelaki yang ia cintai, seperti menyerahkan nyawanya sendiri. Dan di balik semua itu, hanya ada satu hal yang tidak aku tahu. Bagaimana rasanya mencintai dengan cara yang Jo pilih?

Aku menyentuh lengan Sam dan bertanya, “kau baik-baik saja?”

Sam menoleh menatapku dan tersenyum sekilas. Ia lalu kembali memandang ke depan dan mendesah. “Kembalilah kepadanya,” katanya. “Aku tidak apa-apa.”

Namun aku tetap bertahan di dekatnya. Aku meraih tangan Sam dan menggenggamnya agar ia percaya sewaktu aku berkata, “aku akan tetap bersamamu, semampuku.”

Sam tersenyum lagi. “Terima kasih,” ucapnya.

Lalu kami sama-sama terdiam.

“Aku ingin berteriak,” kata Sam tiba-tiba, “namun bukan karena marah. Rasanya juga ingin menangis namun bukan karena sedih. Rasanya… Aku…” Sam tampak kebingungan untuk menjelaskan.

Namun aku tersenyum mengerti. Aku menyentuh dagu Sam dan menuntunnya untuk menatapku. Sam mengerjapkan matanya satu kali, menyerah kalah pada air mata yang kemudian menetes dan mengarungi pipinya. Aku mengusap pipi dan air matanya. “Sam, kau hanya kecewa. Kecewa pada Jo dan dirimu sendiri. Kecewa kenapa harus dirimu yang Jo pilih.”

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s