Sometimes (Enam Belas)

Jonathan

Lama aku hanya diam dan memandang ke depan dengan mata yang menyala ketakutan. Bertumpu pada sepasang kaki yang lunglai, aku seperti menyaksikan dunia perlahan hancur dan terberai. Satu-satu napasku melayang keluar dengan gemulai, dan aku tahu hanya tinggal beberapa detik sebelum setan-setan menyeringai dan kehancuranku dimulai.

Tidak jauh di depan sana, Sam menarik diri untuk berdiri. Suaranya terdengar gamang dan mengawang saat ia bertanya, “apa maksudnya?”

Ada rasa kebas yang bermain bebas di sekitar mulutku, menjadikannya berat dan kaku. Maka aku hanya tergugu sementara semua aksara yang aku tahu berserakkan kemudian lumpuh. Lantas ketika aku masih berusaha memungutinya satu per satu, Sam kembali memecutku dengan pertanyaan menakutkan itu.

“Apa maksudnya?” Sam bertanya, mengandalkan suaranya yang berubah parau. Sam mengacungkan kartu lembayung itu. “Semua ini… apa maksudnya?’

“Kau tahu…” Akhirnya aku bersuara, dan sekadar itu yang aku mampu. Aku menelan ludah yang terasa telah membatu, dan Sam tersentak mundur. “Sam, kau tahu…”

Dan seketika itu juga jurang curam meretas permukaan tanah dengan angkuh. Aku melihat Sam berjingkat menjauh. Ia menggeleng dengan gerakan yang kaku dan menggumamkan sesuatu dengan saru. “Tidak…” Ia tertawa tanpa rasa jenaka sedikit pun. “Tidak…”

Aku membiarkan Sam sampai ia berhenti dan berdiri nyaris di sudut dinding. Kemudian saat aku memberanikan diri untuk menepis setiap inci, Sam malah beringsut menjauh dengan tertatih. Satu langkahku yang mendekat dibayar olehnya dengan tiga langkahnya yang menjauh. Dan saat Sam bersuara menentangku, aku tahu semuanya telah berubah keruh.

“Jangan mendekat,” salaknya. Ia mengangkat tangannya, lurus dan tangguh untuk menikamku. Ada sesuatu yang belum pernah aku pandang di balik matanya yang kini mengancam mataku serupa ujung pedang. Tajam dan berang.

“Sam…” Aku menyebutkan namanya, dan nyaris tidak mengenali suaraku sendiri. Serak dan tipis, seperti baru disapu oleh ribuan butir pasir. Aku hendak melangkah kembali, namun Sam segera menerkamku dengan suara tinggi.

“Jangan mendekat!” Urat-urat di wajahnya menegang dan terlihat ingin menembus kulit wajahnya untuk meneriakiku dengan larangan itu lagi.

Aku tidak lagi peduli ketika akhirnya aku berlari. Tergopoh-gopoh aku menyongsong Sam. Aku meraih tangannya dan meremasnya dengan kalut. Sam mencoba menarik tangannya, namun aku mempertahankannya dengan sisa-sisa tenaga. Sam memaki dan menyentakkan tangannya. Rasa marah mungkin sudah membuat tenaganya meledak hingga aku terpaksa pasrah saat tubuhku berputar ke belakang dan terhempas dengan bibir yang membentur sudut ranjang.

Aku berputar dan mendongak untuk menatap Sam. Ia melemparkan kartu lembayungku ke tanah, lalu tanpa sedetik pun menyalami tatapanku, ia melangkah pergi dan membiarkan rasa sakit memasungku seorang diri.

Aku menyentuh sudut bibirku yang berdenyut-denyut, dan saat aku menemukan darah di sana, aku pun menjadi gila. Kutekan sudut bibirku kuat-kuat meski rasa sakit membuat tanganku bergetar hebat. Aku tidak lagi butuh darah. Aku akan mengurasnya sampai tidak ada sisa. Lalu setelah itu semua rasa sakit akan binasa, dan aku akan berhenti menyulam dosa.

Aku berhenti di titik sia-sia, lantas menekuri kartu lembayung yang tergeletak. Diam-diam aku menangis. Air mata dan darah bergantian menetesi kartu itu dan sedikit demi sedikit mengaburkan rangkaian nama di sana.

Samuel Aditya…

***

Samuel

Di depan dada aku menyilangkan tangan dan mencengkram kedua lengan. Aku berjalan mondar-mandir sementara rapalan penyangkalanku tidak kunjung menemukan hilir. Dan seperti satu-dua detik yang baru saja berlalu karena digilir, aku kembali menggelengkan kepala dan mendesau dengan getir. Sekali lagi, untuk kesekian kalinya aku kembali memungkiri dan membisikkan ‘tidak mungkin’.

Ini tidak mungkin, jelas saja. Apa yang baru saja terjadi sungguh mengada-ada dan pasti hanya adegan opera murahan belaka. Sebab, dari awal semuanya berjalan dengan benar. Jo tidak berbeda dan sama seperti lelaki lainnya. Ia tampak begitu biasa dengan setiap lekuk raganya dan semuanya, kecuali…

Tingkah anehnya saat pertama berkenalan denganku…

Penarikkan diri dari setiap sentuhan denganku…

Ketiadaan kaum hawa dalam penggalan kisah yang ia bagi…

Dan semua detil-detil perhatian yang tidak aku sadari…

Lalu benarkah semua ini?  Haruskah aku berbangga hati saat apa yang ia inginkan adalah aku sendiri? Atau, semestinya aku menarik diri dan berlari sampai ia berhenti karena didera letih?

Aku jatuh terduduk di tepi ranjang dengan setumpuk perasaan yang membuatku lelah. Aku menunduk dan mengusap wajah. Setiap detak nyawa seperti kehilangan suara, juga setiap embusan napas seperti kehilangan arah.

Jadi, ini yang disebutnya nila.

Dan seperti inilah rasanya tenggelam di dalamnya.

Aku kemudian mengangkat wajah dan menoleh ke sebelah. Di sana aku menekuri selembar foto di balik sebingkai merah. Foto Jo dan aku. Sama-sama melihat ke arah kamera. Sama-sama tersenyum. Dan sama-sama lelaki…

“Jo, tidak sadarkah kau kalau setelah ini semuanya tidak akan bisa sama lagi?”

 

***

 

Aku menyingkap pintu di depanku perlahan-lahan. Decitan panjang yang terdengar menyedihkan kemudian mengantarku masuk dan melepas langkahku dalam keremangan. Lewat jendela kaca yang entah lupa atau enggan ditutup, angin malam mengendap-endap ramah, menyalami tirai tipis di sana, lantas berbisik samar meski tidak ada yang meminta. Lalu di dekat ranjang aku berhenti, berdiri dan bergeming meski sadar jam dinding terus saja berdetak dan berdetik. Aku ingin tetap seperti ini, meski akhirnya gemuruh di luar sana berhasil membujukku untuk menjamah ranjang dan duduk di garis tepi.

Awalnya aku hanya ingin mencari ponselku yang tertinggal di kamar ini, namun entah bagaimana semuanya kemudian teralih. Yang terjadi justru aku mencoba memelajari di tengah cahaya yang belum sepenuhnya berserah diri. Menapaki setiap inci, menghampiri semua sudut memori… semuanya untuk menggali arti. Lama aku hanya duduk dan memandangi Jo yang tampak pulas dalam tidurnya. Akan tetapi kemudian aku sadar ia tidak begitu ketika ia menahanku sewaktu aku ingin beranjak dan pergi.

“Jangan pergi,’ desahnya tanpa membuka mata.

“Jo… kenapa harus aku?” aku bertanya dengan ngilu.

Hening beberapa saat hingga akhirnya ia menjawab dengan parau, “karena aku mencintaimu.” Jo membuka matanya, dan seketika aku terperangah ketika melihat kesungguhan yang menyala di sana.

Benarkah apa yang aku lihat?

Adakah kesungguhan dalam cinta sewarna? Adakah kehormatan di balik cinta yang dipandang hina?

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s