Sometimes (Lima Belas)

Jonathan

            Aku sedang berada dalam perjalanan menuju ke sebuah toko buku di pinggirkota. Aku butuh satu atau dua buku sebagai rujukan untuk menyusun makalah. Aku sudah nyaris menyerah sementara Sam tidak benar-benar peduli dengan tugasnya. Ia malah bergidik enggan dan menggeleng cepat-cepat saat aku mengajaknya. Malas, begitu tandasnya. Aku tidak pasrah begitu saja dan terus mengajaknya, sungguh lupa kalau Sam itu keras kepala. Akhirnya Sam malah hanya menitipkan secarik kertas yang berisi beberapa judul manga.

            Aku menunduk sekelumit dan membaca kertas itu kembali. Selain tulisan tangan Sam yang parah, kumpulan judul manga disanaturut andil membuatku pusing. Bagaimana tidak? Bagiku, manga bukanlah hal yang menarik, judul-judulnya pun begitu asing. Mencari manga-manga itu sudah pasti akan menyita banyak energi. Namun bagaimana pun juga aku sudah menyanggupi.

            Aku mendesah lamat-lamat, lalu memandang keluar kaca jendela. Aku menerawang jauh dan sejenak mengabaikan waktu. Kemudian aku tidak lagi tahu berapa banyak waktu yang terbuang lalu sementara taksi memangkas inci satu-satu. Tahu-tahu taksi yang kunaiki menepi dan berhenti, membuatku sadar diri. Aku melirik argometer dan berniat membayar jasa  taksi saat tiba-tiba ponselku berdering nyaring. Aku lekas mengeluarkan ponsel alih-alih dompet dan menatap layar ponsel. Setelah satu-dua detik, aku beralih menatap supir taksi lewat spion tengah. Dengan ragu aku memberinya gestur untuk menunggu. Ia tersenyum maklum, lalu aku pun menjawab panggilan masuk.

            “Jo, kausimpan di mana bola basketku?” tanya Sam sesegera setelah aku menempelkan ponsel ke telinga. Aku bahkan tidak diberi waktu untuk menyapa lebih dulu.

            Aku berpikir sambil lalu, sedikit tidak mau tahu. Setelah itu, “bola basket?” aku balas bertanya dengan ragu karena tidak paham betul.

            “Ya,” sahut Sam dengan singkat. Aku kira hanya sampai di situ, namun lalu Sam melanjutkan, “bola basket yang kaupinjam tempo hari.” Selesai, dan Sam berhenti. Jeda singkat kemudian diisi oleh suara decitan pintu yang panjang dan menggelitik.

            Aku berpikir lagi dan mulai mengerti. Aku baru akan memberitahu saat Sam menyela celah-celah waktu.

            “Aku sudah berada di kamarmu,” beritahunya. “Nah, sekarang katakan di mana kausimpan bola bas—”

            Aku mengeryitkan kening dan ingin tahu saat suara Sam terdengar tanggung dan terkatung. Mungkin karena Sam mendadak jadi bisu. Mungkin juga karena ia menabrak sesuatu sebab aku bisa mendengar suara benturan dari ujungsanawalau sayup dan rangup.

            “Sam,” sebutku untuk mencari tahu, namun Sam tidak segera menyahut. Aku lalu menggunakan waktu untuk mengeluarkan dompet dan membayar jasa taksi. Sam masih belum bersuara kembali meski aku sudah membuka pintu taksi dan menepi.

            “Kausimpan di kotak warna nila ini?” Sam akhirnya bersuara lagi, nyaris bertepatan dengan detik di mana supir tadi melangkah keluar dari taksi.

            Aku mengangkat sebelah alis. “Kotak warna nila?” tanyaku bingung sambil memperhatikan supir taksi yang memeriksa ban satu-satu. “Kotak warna nila ap—” Tenggorokkanku tercekat bersamaan dengan kedua mata yang terbelalak hebat. Astaga!

            “Jangan sentuh kotak itu!” sergapku dengan suara tinggi. Supir taksi tadi berhenti memeriksa dan sontak memandangku dengan penuh heran dan tanya. Jika biasanya aku akan tersenyum malu dan salah tingkah, maka sekarang jelas berbeda. Aku tidak punya cukup waktu untuk tersenyum malu sebab aku sudah terlambat. Nada datar ponsel lebih dulu menghambat.

            Aku menurunkan ponsel dan segera balik menghubungi Sam. Aku nyaris berteriak hilang kendali saat mendapati nomor Sam tidak aktif. Lalu aku benar-benar berteriak saat aku kembali menghubungi dan berakhir dengan hasil yang sama lagi. Aku mengacak rambut dengan frustasi sejenak setelah taksi yang membawaku ke sini melaju pergi.

            Aku menoleh dengan gusar ke kanan-kiri. Mataku menghantam sana-sini.

            Sam tidak boleh menyentuh kotak itu dengan alasan apa pun.Demi Tuhan,iatidak boleh!

            Tidak lama kemudian aku pun berlari memaki desauan angin. Aku bersusah payah menempatkan diri di sisi taksi yang belum lama melaju pergi. Tanpa lagi peduli, aku memukul pintu taksi berkali-kali sambil terus berlari. Lalu ketika akhirnya taksi itu berhenti, aku langsung menerobos masuk bersama napas yang terengah letih.

            “Pak, putar balik sekarang,” celetukku dengan napas yang sekarang tersangkut-sangkut karena takut.

***

Samuel

            Jo sudah berangkat ke toko buku sejak setengah jam yang lalu. Awalnya aku berniat tinggal di kamar saja dan menunggu sampai manga-manga pesananku pulang ke pelukanku. Akan tetapi baru sebentar menunggu rasa bosanku sudah bertumpuk-tumpuk. Maka kemudian aku putuskan untuk bermain basket. Lantas saat aku sadar bola basketku belum Jo kembalikan, aku pun bergegas menarik langkah menuju kamar Jo. Pintu kamar Jo sudah tidak begitu jauh saat aku menghubungi Jo lewat ponsel.

            “Jo, kausimpan di mana bola basketku?” aku langsung bertanya sepersekian detik setelah nada tunggu tidak lagi berdengung.

            Aku mengharapkan kiriman jawaban dari Jo, namun ia justru balik bertanya dengan nada yang mengalur ragu, “bola basket?”

            Aku mengangguk mantap dan berhenti di depan pintu kamar Jo. Namun saat aku sadar Jo tidak bisa melihatnya, aku pun menyahut, “ya.” Aku mengulurkan tangan dan menggenggam kenop pintu lebih dulu sebelum memberikan imbuh, “bola basket yang kaupinjam tempo hari.”

            Aku memutar kenop pintu, mendorongnya lambat-lambat dan melangkah masuk. “Aku sudah berada di kamarmu,” kataku tanpa berhenti melangkah. Aku memandang sekeliling dengan cepat, lalu, “nah, sekarang katakan di mana kausimpan bola bas—” Aku sadar aku tiba-tiba berhenti bersuara. Meski begitu, aku tidak ingin lekas bersuara kembali. Aku lebih tertarik untuk menunduk dan mencari tahu apa yang baru saja—tanpa sengaja—aku tendang, sesuatu yang punya peran dalam membuatku mendadak berhenti melangkah dan bersuara. Lalu aku dapati sebuah kotak berwarna nila tercampak tidak jauh.

            “Sam…”

            Aku menarik dua langkah mendekati kotak nila itu dan sejenak mengabaikan Jo yang memanggilku. Kupandangi dengan singkat. Cukup besar. Rasa-rasanya muat untuk menampung bola basketku.

            “Kausimpan di kotak warna nila ini?” tanyaku.

            “Kotak warna nila? Kotak warna nila ap—ja…”

            Hanya itu yang sempat aku dengar sebelum tiba-tiba senyap, dan suara Jo lenyap. Aku masih menempelkan ponsel ke telinga, dan tetap senyap seperti sebelumnya. Aku lalu menurunkan ponsel dan lekas mendesah saat mendapati layarnya gelap. Baterainya habis. Kulemparkan benda mungil itu ke ranjang asal-asalan, lalu kembali memandangi kotak warna nila tadi.

            Aku yakin aku tidak pernah melihat kotak seperti itu sebelum ini, namun aneh, aku merasa tidak asing.Adasesuatu tentang kotak itu yang menggelitik jejaring ingatanku. Ya, tentu saja ada, hanya saja aku sama sekali tidak tahu apa itu. Mungkin bentuknya, atau malah warnanya. Aku memukul kepala dan mendengus tidak berguna. Kemudian merasa ini akan membantu, aku pun duduk di atas lantai yang membatu, menghadap kotak itu dengan pandangan yang terpaku. Sejenak berlalu, dan aku mulai menyentuh, lalu membuka kotak itu.

            Aku tidak menemukan bola basketku di dalamnya melainkan mobil mainan 4WD di tumpukan paling atas. Aku mengulum senyum dan teringat. Mobil mainan itu tadinya milikku sebelum akhirnya aku putuskan untuk memberikannya kepada Jo di hari pertama aku mengenalnya. Aku memberikannya karena berpikir itu bisa jadi langkah pendekatan yang baik terhadap Jo yang waktu itu terkesan menjauhiku. Akan tetapi semuanya tidak begitu seperti apa yang aku harapkan. Jo memang menerimanya, namun dengan sikap yang biasa-biasa saja. Ia tidak bereaksi apa-apa selain mengucapkan terima kasih dengan datar. Saat itu aku nyaris percaya penuh kalau diam-diam ia akan membuang mobil mainan itu jauh-jauh. Aku tidak percaya ternyata Jo menyimpannya. Aku meraih mobil mainan yang sudah tampak usang itu dan menyisihkannya di samping kotak. Dan tiba-tiba aku penasaran tentang apa-apa saja yang Jo simpan di dalam kotak nila ini.

            Barang selanjutnya yang aku temukan adalah belasan kelereng warna-warni yang disatukan di dalam plastik. Aku ingat kelereng ini…

            Waktu itu aku mengendap-endap keluar rumah meski sebenarnya Mama melarangku karena nilai ulanganku rendah. Aku sudah bersusah payah, namun tetap saja tertangkap basah. Untungnya bukan oleh Mama melainkan Jo.

            “Kenapa kau bisa tahu aku ada di sini?” tanyaku saat itu.

            “Bagaimana bisa tidak kalau kelerengmu itu berisik sekali,” jawabnya sambil melirik kantung plastik berisi kelereng yang aku bawa.

            Aku ikut melirik kantung plastik, lalu menyengir lebar sekali.

            “Mau ke mana?” tanyanya.

            “Ke rumahNara,” sahutku sambil menunjuk rumahNarayang menjulang tinggi tidak jauh dari rumahku. Aku memandang sekeliling dan memantau dengan teliti. Aku lalu mengangkat kantung plastik dan seketika meringis saat menimbulkan suara gemerisik. “Bermain kelereng,” kataku menambahkan.

            Jo mengangkat kedua alisnya, namun tetap diam saja.

            “Kau kembali saja ke dalam rumah, tetapi…” aku menempelkan jari telunjuk ke bibir, “jangan bilang-bilang ke Mama. Kalau Mama tanya, bilang saja kau tidak tahu apa-apa. Oke?” Tanpa menunggu tanggapan dari Jo, aku memutar badan dan kembali mengendap-endap menuju pintu halaman belakang yang sudah usang.

            Satu-dua langkah sudah aku tempuh saat aku terpaksa berhenti dan memutar badan karena merasa diikuti. Aku mengangkat alis tinggi-tinggi saat mendapati Jo menuntaskan sisa-sisa langkahnya ke arahku, lalu berhenti.

            “Kenapa mengikutiku?”

            Jo mengangkat bahu seadanya. “Aku tidak suka berbohong. Jadi sebaiknya aku ikut denganmu,” katanya.

            Tanpa banyak berpikir, aku ikut mengangkat bahu. “Baiklah. Ayo.”

            Lalu kami pun mengendap-endap keluar rumah dan bermain kelereng di pekarangan rumahNara. Waktu itu rasanya sangat menyenangkan. Aku sampai lupa kalau aku sedang mengabaikan larangan Mama, juga pada kemungkinan Mama akan menyambut kepulanganku dengan sebuah atau mungkin sederet hukuman. Dan benar saja. Mama marah saat aku pulang. Aku dihukum berdiri dengan satu kaki di depan pagar, Jo juga. Aku merasa tidak enak dan berulang kali meminta maaf kepada Jo, namun berulang kali pula ia mengatakan tidak apa-apa. Meski begitu aku tetap saja merasa bersalah. Jadi aku putuskan untuk memberikan semua kelereng yang aku menangkan hari itu kepada Jo. Awalnya ia menolak, namun setelah aku mengancamnya, ia menerima juga. Lalu setelah nyaris satu bulan aku mengenalnya, untuk pertama kalinya ia pun tersenyum lebar kepadaku.

            Aku tersenyum-senyum sendiri saat mengingat masa itu. Kemudian sama seperti yang aku lakukan terhadap mobil mainan 4WD tadi, kantung plastik berisi kelereng pun aku sisihkan di samping kotak.

            Aku melihat ke dalam kotak lagi. Yang selanjutnya menarik perhatianku adalah sebuah kartu ulang tahun berwarna lembayung. Yang satu ini juga adalah pemberianku. Aku ingat aku harus menyisihkan uang sakuku untuk membeli kartu ini sebelum memberikannya kepada Jo di hari ulang tahunnya yang keempat belas tahun.

            Di pojok kanan bawah aku menuliskan kata ‘amin’ besar-besar. Kemudian aku katakan kepadanya ia boleh menuliskan sesuatu yang ia mau di kartu itu. Apa pun yang ia tuliskan disanaakan menjadi sebuah doa, dan lewat tulisan ‘amin’itu aku akan mengamini doanya. Saat itu Jo melarangku dengan keras untuk mengintip saat ia mulai menulis. Ketika aku melayangkan protes, ia menyebutkan kata ‘rahasia’ dengan tegas. Akan tetapi sekarang aku bisa tersenyum nakal karena Jo tidak ada di sini. Dalam persahabatan tidak boleh ada rahasia,kan? Maka aku pun bergerak membuka lipatan kartu itu sambil menerka-nerka apa yang sudah ia rahasiakan selama bertahun-tahun. Lalu saat aku tahu, aku mendadak menjadi dungu. Digoda rasa ragu, aku kembali mengikuti alur tulisan tangan Jo. Ini tidak hanya satu kali, namun berkali-kali. Bukan karena aku tidak tahu, tetapi rasanya aku tidak sanggup menelaah dengan utuh. Napasku bersahutan dengan linglung, ke setiap dinding pembatas ruang, ia lantas berbenturan. Dan sebelum aku tersesat semakin jauh ke tengah halimun yang tidak aku tahu, di depanku tersingkap sebuah pintu. Disanaaku memandangi wajah yang diamuk rasa terkejut, yang sesaat kemudian menegang dan berubah kaku.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s