Sometimes (Empat Belas)

Empat Belas

Samuel

Acara bazar sekolah sedang dimulai. Belasan stan menyebar memadati pekarangan sekolah yang luas. Siswa-siswi terlihat menikmati bazar sekolah yang pertama. Mereka tampak senang sementara anggota OSIS dan redaksi majalah sekolah terpaksa menunda kesenangan mereka karena harus mengawasi dan memastikan semuanya berjalan dengan lancar. Aku pribadi merasa ini sia-sia saja karena sejak acara dimulai satu jam yang lalu, semuanya berjalan dengan lancar, terlalu lancar malah. Aku yakin siswa-siswi yang sedang mengantre di tenda ramalan itu tidak akan berubah rusuh sekalipun tidak diawasi, tidak juga mereka yang bergerombol di sekitar stan kerajinan tangan.

Aku mendesah bosan dan memandang berkeliling. Sepertinya bukan hanya aku yang berpikir ini tidak perlu, yang lain juga. Satu-dua dari mereka yang tadinya ikut mengawasi terlihat sudah meninggalkan daerah pengawasan mereka dan ikut berbaur di tengah-tengah bazar. Merasa ini tidak adil, aku pun ikut meninggalkan daerah pengawasanku dan berniat menemui Mai.

Aku berjalan dengan santai sambil sesekali menoleh ke kanan-kiri. Aku sempat bertemu pandang dengan Jean. Seperti biasa, ia melambaikan tangan dan tersenyum ramah. Aku memberikan isyarat kalau aku sudah bosan mengawas, dan ia  mengangguk maklum. Ia sendiri sepertinya sudah lama meninggalkan tugasnya. Bisa dilihat dari banyaknya buku baru dan bekas yang ia bawa, hasil menawar di stan buku.

Aku berhenti sebentar di dekat tenda ramalan. Tanpa sadar aku menggeleng saat menyadari berapa banyak yang mengantre di luar tenda. Masa depan memang selalu menarik untuk ditunggu dan dibaca, sepertinya. Aku menghela napas pendek, kemudian saat aku berniat untuk melangkah kembali, aku dikejutkan oleh sebuah teguran yang menggelitik. Aku memutar kepala ke samping kanan dan melihat ada seorang siswa di sana, sedang berdiri di bawah pohon dan menundukkan kepala.

Katanya tenda ramalan dijaga oleh dua orang siswa. Mereka kakak-beradik, kembar dan sama-sama punya keistimewaan—yang katanya bisa—melihat masa depan. Won dan Jim, begitu biasa mereka dipanggil. Tadinya aku sama sekali tidak punya gambaran tentang siapa yang berdiri di sana, namun saat ia mengangkat wajahnya perlahan-lahan, aku tahu ia salah satu dari si kembar itu. Aku tidak tahu ia itu Won atau Jim, tetapi aku tahu saat ia menatapku sambil sedikit menerawang.

“Won atau Jim?” tanyaku ragu-ragu.

Kepalanya bergerak-gerak kecil dan ia terus menatapku. Sesaat kemudian ia mengangguk. Alih-alih menjawab pertanyaanku, ia justru berkata dengan nada misterius, “bersiap-siaplah…”

Kedua alisku tertarik bertemu di satu titik. Aku menatapnya dengan heran dan bertanya menyelidik, “bersiap-siap untuk apa?”

“Sebentar lagi,” desahnya dengan suara yang mengawang-awang. Ia mengangguk dengan cepat dan meneruskan, “ya, sebentar lagi nila yang telah lama bersembunyi dibalik jernihnya telaga akan pecah. Air akan berubah keruh dan semua yang ada di dalamnya akan menanggung. Dan karenanya tidak hanya satu yang akan terluka.”

Aku semakin keheranan. “Sorry, what is it all about?” tanyaku ragu-ragu.

Ia tersenyum samar, seperti sedang menyesal. “It’s all about your destiny,” sahutnya.

Aku bernapas dengan bingung. Jawabannya sama sekali tidak memberikan penerangan apa pun. Sebab aku tidak mau dibuat pusing lebih jauh, aku lalu bersuara, “maaf, aku harus pergi,” dan bergegas menarik langkah untuk berlalu.

“Tunggu, tunggu,” sergahnya dengan cepat. “Dengarkan aku baik-baik,” desisnya meminta, menarikku untuk mendengarkannya dengan seksama. “Di tengah air yang keruh, arah menjadi sesuatu yang tidak kau tahu. Namun ingatlah kau tidak buta. Kau hanya kesulitan untuk melihat dengan mata. Masih ada jalan untuk mengubah semuanya jika kau tidak salah memilih arah.”

Mungkin saja ia serius. Sayangnya aku sudah terlampau bingung untuk melihat batas antara serius dan gila. Maka aku hanya mengangkat bahu dan tersenyum seadanya. “Terima kasih atas ramalannya,” kataku sebelum benar-benar berlalu.

***

Magentha

Aku terkesiap ringan saat pundakku ditepuk tiba-tiba. Aku yang tadinya sedang mengamati satu sudut dengan penuh minat berputar ke belakang dengan segera. Aku menemukan Sam berdiri santai di sana dengan senyum yang mengembang dengan jenaka.

Bisa jadi selama ini aku hidup dalam ketidaksadaran yang tidak aku kenali. Hanya saja sekarang ini semua itu tidak terlalu punya arti. Sebab saat aku sadar kembali, ada satu hal penting yang harus aku akui…

“Ayo, tersenyum lagi,” kataku saat senyum Sam mulai memudar. Mendengar itu, Sam terkekeh pelan dan akhirnya tersenyum lagi.

… aku menyukai senyuman Sam.

Aku menepuk pipi Sam dengan gemas. “Terima kasih,” ucapku dengan geli.

“Sama-sama,” Sam membalas sambil menggaruk-garuk belakang kepala dengan salah tingkah.

“Sedang apa di sini? Bukankah harusnya kau bertugas sekarang?” tanyaku kemudian.

Sam mengangkat bahunya dan menunjuk sekeliling dengan dagu. “Tunjukkan kepadaku siapa yang masih setia bertugas?”

Aku memandang sekitar dengan teliti, dan aku tidak bisa menunjukkan kepada Sam. Anggota OSIS yang tadi bertugas mengawas tidak jauh dariku sudah tidak terlihat lagi. Beberapa anggota redaksi majalah sekolah yang harusnya bertugas justru terlihat di tengah-tengah keramaian.

“Bagaimana kalau kita mulai bersenang-senang sekarang?” usul Sam, lalu mengulurkan tangannya ke hadapanku.

Aku bimbang sesaat. Aku menoleh ke kanan dan kiri bergantian, berusaha mencari pembenaran. Sejenak setelahnya aku mengangguk, menjemput tangan Sam dan membiarkan Sam membimbingku menempuh setiap liku.

Sam menunjuk satu sudut dengan tangannya yang bebas. “Kau mau ke sana, kan?” tanyanya, terdengar yakin.

Aku menoleh menatapnya dengan tatapan bagaimana-kau-bisa-tahu. Sam tersenyum tipis, lalu, “tadi aku melihat kau terus mengamati tempat itu,” beritahunya. Aku tersenyum mendengarnya dan merasa beruntung karenanya.

Sudut yang Sam tunjuk sebenarnya adalah sudut di mana sebuah kolam menghuni titik bumi. Kolam itu merupakan muara dari air yang mengalir turun dari sebuah patung di dekatnya. Di hari-hari biasa, sudut itu tidak terlalu menarik. Akan tetapi karena hari ini hari istimewa, sudut itu jadi menarik untuk didekati.

Aku dan Sam berhenti di depan sebuah stan di dekat kolam. Ada Ken di sana, dan aku tahu pria itulah yang berada di balik keistimewaan kolam hari ini. Melihat aku dan Sam mengunjungi stannya, Ken langsung tersenyum semringah.

“Mau mencoba?” tanyanya padaku dan Sam.

Aku bertukar pandang dengan Sam. Sam mengangkat bahu, menumpukan keputusan akhirnya padaku. Aku menoleh menatap Ken lagi, berpikir-pikir, kemudian mengangguk.

Ken lalu mengangsurkan selembar kertas origami kepada Sam dan memintanya untuk menuliskan sesuatu. Sementara Sam menulis, lalu melipat kertas origami menjadi perahu kertas, Ken menjelaskan dengan singkat tentang apa yang akan kami coba. Katanya ini semacam permainan untuk pasangan. Nantinya perahu kertas itu akan dilepaskan di puncak patung. Air yang mengalir turun dari patung itu akan membawa perahu kertas itu menuju kolam. Apabila kertas perahu itu sampai di kolam tanpa tenggelam dan dapat diambil, maka hubungan pasangan itu akan berjalan baik. Apabila tidak, maka sebaliknya. Aku tahu itu hanya karangan Ken yang terlampau kreatif, namun tetap saja ini menarik untuk dicoba.

Beberapa saat kemudian, Sam sudah berdiri dekat patung yang Ken maksud. Di sekitar patung itu ada lintasan yang melingkar turun dengan landai menuju kolam. Aku sendiri berjongkok dan menunggu di tepi kolam. Aku melihat Ken mengangguk kepada Sam. Sam kemudian melepaskan perahu kertasnya.

“Ingat, tidak boleh bergeser. Coba ambil perahu kertas itu tanpa beranjak dari tempatmu sekarang. Wish you luck,” kata Ken sebelum menjauh.

Aku mengangguk, lalu menunggu. Saat perahu itu sampai di kolam tanpa tenggelam, tanpa sadar aku memekik kegirangan. Tanpa kesulitan, aku kemudian berhasil mengambil perahu kertas yang berlabuh di tengah kolam.

Aku berdiri dan tersenyum lebar untuk Sam yang berlari kecil ke arahku.

Sam melirik perahu kertas yang aku pegang sekilas, lalu, “ayo buka,” mintanya.

Aku mengangguk dan membuka lipatan kertas dengan patuh. Beberapa saat yang lalu Ken memintanya untuk menuliskan sesuatu tentang gadis yang ia cintai, dan ternyata Sam hanya menuliskan satu kata.

Segalanya…

          “Itu untukmu,” kata Sam kemudian.

Aku beralih menatap Sam dengan haru. “Aku akan menyimpan ini,” janjiku. Sam mengacak-acak kecil rambutku, lantas memelukku dan memberiku teduh.

“Apa yang Ken bilang tadi semoga bukan sekadar karangan,” desahku. Aku tidak tahu Sam mendengarku atau tidak, namun pelukannya terasa semakin erat setelah itu.

Advertisements

One thought on “Sometimes (Empat Belas)

  1. Bagaimana, Jo? Semoga senang, ya, melihat pasangan itu senang. Haha.
    Menurutku, ide tentang ramalan itu bagus… menjadi teka-teki baru. Mengajak pembaca berpikir. Selalu saja ada yang membuat kami menerka-nerka di setiap part.
    Part ini rasanya manis… 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s