Sometimes (Tiga Belas)

Samuel

Aku berdiri, bersandar ke dinding sambil mengamati Ve. Ia sedang sibuk menempelkan lembaran-lembaran tentang acara bazar sekolah ke majalah dinding. Satu-dua menit yang lalu aku masih berdiri di samping Ve, membantunya membawakan dan menempelkan lembaran-lembaran itu. Akan tetapi, mungkin karena dianggap menganggu atau apa, Ve kemudian memintaku untuk menyingkir. Aku bisa sendiri, katanya tadi. Aku mencoba memberi pengertian kalau dikerjakan bersama-sama lebih baik, namun ia tidak peduli.

Dengan maksud tertentu aku merogoh dan mengeluarkan ponsel dari dalam saku celana. Aku melirik, lalu menyalakan layarnya. Setelahnya aku mendesah. Sepertinya Mai belum selesai dengan tugas gilirannya membersihkan ruangan kelas. Aku menerawang sejenak sebelum memasukkan ponsel kembali ke saku seperti semula.

Aku lantas menengadah sedikit dan bersiul-siul untuk menghibur diri. Namun belum lama, lembaran-lembaran yang Ve pegang sudah berjatuhan dan menimbulkan suara gemerisik. Aku memandang Ve, lalu menggelengkan kepala berkali-kali. Apanya yang bisa sendiri?

Aku menghampiri Ve yang baru saja berjongkok, kemudian ikut memunguti lembaran-lembaran yang berserakkan di lantai. Ve mengangkat wajah untuk menatapku sejenak, lalu kembali sibuk mengulurkan tangannya untuk menggapai. Saat semuanya sudah terpungut, Ve berdiri dan sibuk menempel-nempelkan lagi. Aku mengekorinya dan ikut membantu kali ini.

Ve berhenti untuk menoleh dengan alis yang bertemu di satu titik. Ia berusaha merampas lembaran-lembaran yang aku pegang, namun sayangnya aku cukup gesit.

Ve menyipit dan menghentakkan kaki. “Sam, aku bisa sendiri,” katanya dengan yakin, namun aku pura-pura tuli. Ia berusaha merampas, dan gagal lagi.

“Sam, kaudengar aku?” tanyanya jengkel.

Aku mendecakkan lidah tidak tahan. “Kau ini berisik sekali,” sahutku tanpa menoleh, tanpa berhenti menempelkan lembaran ke dinding dengan paku kecil warna-warni.

Dari sudut mata aku tahu kalau Ve menatapku dengan sebal. Ia tampak tidak terima, namun akhirnya ia menyerah.

“Kau memang keras kepala,” ujarnya.

Aku menoleh menatap Ve dan mengangkat sebelah alis. “Memangnya kau tidak?” tanyaku menantang.

Ve berputar menghadap majalah dinding. Ia mengangkat bahu dan memiringkan kepalanya sedikit. “Setidaknya aku tidak keras kepala untuk berpura-pura bahagia,” balasnya.

Mendengar itu, tatapanku berubah makna seketika. Sudut mataku meruncing seperti baru diasah. Dengan nada menyelidik, aku lalu bertanya, “apa maksudmu?”

“Kau tidak bahagia bersama Mai,” tandasnya dengan santai. Matanya mengamati majalah dinding sementara telunjuknya menyentuh lembaran di sana satu-satu.

Aku menunduk menatap ujung sepatu dengan gerakan yang kaku seperti baru dihantam sesuatu. Geraham saling beradu. Tangan mengepal tanpa tanggung sampai-sampai semua lembaran yang aku pegang menjadi remuk. Aku tidak terima, namun kehilangan suara, juga aksara.

Aku menunduk dengan lesu. Detik itu tarikkan napasku tidak lagi penuh, terputus-putus tidak tentu. Lantai berdebu terasa begitu jauh. Lalu saat aku mengangkat wajah untuk menatap Ve, “aku mampu,” desisku dengan saru bersama sejumput ragu.

“Haruskah begitu?”

Aku menghela napas dengan sulit, lantas mencoba tersenyum sedikit. “Bukankah untuk melihat pelangi harus menunggu kecamuk hujan reda lebih dulu? Aku pun begitu. Untuk dia, menunggu selama apa pun aku mampu.”

***

Magentha

Bersama Sam, kau bahagia, kan?

Aku sudah membersihkan ruangan kelas semenjak bermenit-menit yang lalu. Masih aku dan Jo, dengan tugas kami, dengan keheningan yang menjadi-jadi dan sudut masing-masing. Entah karena sudah terbiasa atau apa, semuanya kini terasa biasa-biasa saja. Akan tetapi saat pertanyaan Jo terselip di antara siku reranting sepi, semuanya mendadak tidak biasa lagi.

Aku selalu tidak mengerti. Mungkin Jo memang sang ahli. Sederhana memang, namun pertanyaan itu nyatanya mampu membuat lebih dari setengah napasku terkuras, lantas meranggas. Aku berdiri dengan seluruh tubuh yang dilumat kebas.

“Bahagia, kan?” tanya Jo lagi. Nada suaranya tidak aku pahami. Bergetar dan bergerigi.

Aku masih bergeming saat Jo mulai melangkah dan menyingkirkan inci. Di hadapanku ia berhenti. Ia menunduk sedikit dan sudut matanya meruncing. Mengendap-endap aku coba menangkap arti, namun yang aku temukan hanya bara api. Dan lagi aku tidak mengerti.

Jo mengangkat daguku dengan jemari hingga aku terpaksa menengadah sekelumit. “Jawab aku,” dengan lembut ia meminta, namun terdengar aneh di telinga.

“Apa aku terlihat bahagia?”

Jo menunduk dan menatapku semakin dalam. “Kau pasti bahagia,” desahnya dengan parau. Kuku ibu jarinya menekan daguku kuat-kuat. “Pasti,” kali ini ia mendesis tajam.

“Jo…” aku memanggil dengan lirih karena pedih. Aku berusaha menyingkirkan tangannya dari dagu, tetapi aku tidak mampu. Daguku justru ditikam semakin dalam.

“Iya, kan?” tanyanya.

“Jo, sakit…” aku mengaduh.

Detik itu Jo seperti tersengat listrik. Ia terkesiap dan buru-buru membawa tangannya menjauh.

“Sakit, Jo…” bisikku lirih, “di sini,” aku menunjuk dada alih-alih dagu. “Kau tahu?”

Jo menunduk lambat-lambat. Ia mendesau menyesal dan menggeleng samar-samar. Ia kemudian mendekat satu langkah dan membimbingku berlabuh ke pelukannya.

“Maaf…”

Selama beberapa detik aku biarkan ia memelukku. Lalu tiba-tiba aku meronta dan mendorong Jo hingga tubuhnya membentur dinding. Jo menatapku dengan tatapan bertanya-tanya, dan aku membalasnya dengan mata yang berkaca-kaca.

“Apa maumu, Jo?” tanyaku dengan suara yang serak. “Sebenarnya apa maumu?” Aku tidak tahan lagi. Nada suaraku pun meninggi. “Aku sudah menuruti apa maumu. Aku mulai terbiasa dengan semuanya. Lantas kenapa kaudatang lagi dengan semua perhatianmu? Sebenarnya apa maumu?”

“Mai…”

“Aku lelah, Jo. Aku lelah memahamimu,” aku mengaku kepadanya, kepada air yang baru saja meninggalkan mata. “Sebenarnya kau itu apa? Teka-teki, abu-abu, atau apa? Kenapa sulit sekali memahamimu?”

***

Samuel

Aku membeku tidak jauh dari pintu. Sepotong percakapan yang baru saja aku dengar terus berdesing menganggu, membuatku tergagu. Dadaku terasa terimpit sesuatu. Pada dinding di samping aku kemudian bersandar dengan lesu.

Kenapa bukan aku, Mai…

Aku terus begitu sampai Jo melangkah keluar melewati pintu. Ia menarik langkah satu-satu dan tidak menyadari keberadaanku. Lalu saat ia sudah jauh, aku pun melangkah masuk tersaruk-saruk. Di sana kudapati Mai sudah meluruh di atas sebuah bangku dengan kepala yang tertunduk. Aku lantas menghampirinya dengan langkah yang tidak menganggu. Di sampingnya aku mendesah saru, kemudian duduk.

Entah berapa lama kami hanya duduk dan diam. Kemudian saat aku bangkit dan hendak berlalu, Mai menahanku.

“Jangan pergi,” mintanya.

Aku menoleh dan menatapnya ragu-ragu.

“Jangan pergi, ya,” ia mengulangi.

Aku mengangguk dan duduk kembali. Mai merapat ke arahku. Di pundakku ia kemudian menangis.

Aku memeluk Mai dari samping dan meremas-remas bahunya dengan galau. “Kalau begitu, jangan beri aku alasan untuk pergi,” kataku. Dan ia mengangguk.

Advertisements

One thought on “Sometimes (Tiga Belas)

  1. Akhirnya… setelah menunggu satu minggu lebih –“.
    Sangat setuju dengan Mai. Jo itu makhluk macam apa sih? Aku rasa sampai part ini, itulah pertanyaan terbesarnya. Petunjuknya masih terlalu samar.
    Segera lajut ya kalau sempat. Aku menunggu :).

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s