Sometimes (Dua Belas)

Sometimes
Terkadang cinta harus menunggu

Dua Belas

Samuel

Aku sudah menjemput Mai dari tempat kursusnya sekitar dua puluh menit yang lalu. Aku tidak langsung mengantarkannya pulang. Aku justru membawanya ke aepetak tanah lapang di salah satu sudut kita. Awalnya Mai menolak dan beralasan ia lelah, namun aku bersikeras membujuknya sampai ia menyerah.

Di sepetak tanah lapang itu kemudian kami duduk, bersentuhan dengan bumi yang berdebu. Mai memeluk kedua lututnya dan aku dengan kedua kaki yang terjulur ke depan. Aku masih menengadah memandangi langit sementara Mai sudah berhenti sedari bermenit-menit yang lalu.

“Indah…” gumam Mai tadi sewaktu memandangi langit. Entah karena rembulan tidak lagi cantik atau kerlap-kerlip bintang tidak lagi menarik, Mai kemudian mengalihkan mata dan memandang lurus ke depan. Sejak itu sinar matanya meredup. Setelah itu ia pun kelu.

Matanya dan milikku tidak pernah satu tujuan. Arahnya dan arahku seperti tidak akan bersimpangan. Kami seperti air dan minyak yang dipaksa untuk jadi kawan, yang mustahil jadi satu meski ditaruh dalam satu cawan.

Ada yang salah, aku tahu. Hanya saja untuk meluruskannya, aku ragu. Semuanya terlampau saru dan tidak tentu. Bisa berubah dalam sepersekian waktu.

“Sam, pulang, tuk. Aku kantuk,” ujar Mai.

Aku menoleh menatapnya sejenak. Aku tersenyum, lalu meraih kepala Mai dan membawanya ke sisi pundakku. Aku kembali memandangi langit, dan, “sebentar lagi, ya,” kataku dengan lembut.

Mulanya Mai bersandar dengan kaku, seperti setengah tidak mau. Akan tetapi setelah puluhan detik tersapu, Mai pun takluk dan bersandar penuh. Lalu saat ia merapat ke arahku dengan kepala yang bergerak mencari posisi nyaman, aku pun mengulum senyum diam-diam.

“Bintang jatuh,” seruku tiba-tiba setelah jeda panjang. “Ayo, make a wish.”

Aku menunggu, namun tidak ada yang menyahut. Aku lantas menoleh dan mendapati Mai sudah terlelap. Aku tersenyum lagi dan menggeleng kecil. Jemariku menyelipkan helaian rambutnya ke belakang telinga, lalu mengelus pipinya yang tampak merah muda.

“Aku ingin menjadi garis yang melingkarimu. Yang selalu kautemui ke mana pun kau berlari,” aku berbisik lirih.

***

Vesellia

Jendela kaca di kamar sengaja aku buka lebar-lebar. Korden tipis putih di sana selalu saja melayang saat angin lewat dengan ramah. Aku duduk menghadap ke luar jendela dengan kanvas di depan raga.

Angin senja kembali menyalami rambutku. Aku berhenti sejenak. Meletakkan pensil dan merapikan rambutku seadanya. Aku lalu larut memandangi keindahan lain di luar sana. Senja.

Tiba-tiba saja aku teringat kepadanya…

Kala itu juga sedang senja saat pertama kali aku berbincang dengannya. Aku masih ingat tutur sapa dan senyumnya yang terpintal ramah. Juga pada cara ia melangkah. Bahkan sampai suara decitan bangku taman sekolah saat ia putuskan untuk duduk di sampingku.

Untuk beberapa waktu kami sama-sama membisu. Memang sudah dua minggu berlalu sejak kami jadi teman sebangku, namun semuanya masih terasa kaku. Aku kira kami akan terus membisu sepanjang waktu, namun lalu aku tahu tidak seperti itu.

“Sketsamu bagus,” celetuknya setelah mencuri-curi pandang ke arah sketch book-ku yang sengaja aku tutup-tutupi.

Aku menunduk dan tersenyum simpul. “Terima kasih,” ucapku, lalu tersipu.

“Bisa melukisku?” tanyanya kemudian.

Aku mengangkat wajah dan menatapnya ragu-ragu. “Kau ingin dilukis?”

Ia mengangkat kedua bahunya. “Aku hanya ingin tahu seperti apa aku terlihat di mata orang lain,” sahutnya. Ia menaikkan sebelah alisnya, lalu, “bisa?” tanyanya sekali lagi.

Meski sempat bimbang, aku akhirnya mengangguk juga. Ia segera duduk tegak tanpa kuminta. Badannya memutar menghadapku, dan aku mulai melukis. Tidak semudah yang aku duga karena ia banyak bergerak dan terus mengajakku bicara. Aku harus membagi konsentrasiku antara melukis dan berulang kali memintanya untuk berhenti bergerak dan mengajakku bicara. Namun setelah aku selesai melukis, aku merasa puas. Lebih dari biasanya.

Lalu di kemudian hari, aku berkali-kali melukisnya tanpa perlu ia minta lagi. Aku tidak begitu mengerti. Ini semacam candu. Ini serupa rindu.

Aku tersadar dari lamunanku saat kanvasku berkecamuk ringan diusik oleh angin. Aku lalu merapikan kanvas dan mengamati sosok yang ada di sana sejenak. Aku mengelus permukaannya pelan-pelan, lalu tersenyum dalam-dalam. Aku raih pensil kembali dan menuliskan satu kalimat di sudut kanan bawah. Lalu aku memandangi senja lagi.

Semuanya yang aku mau…

***

          Satu minggu lagi akan ada bazar di sekolah. Ini hal yang baru karena belum pernah ada acara serupa di sekolah. Kali ini ada berkat usulan redaksi majalah sekolah satu bulan yang lalu. Persiapan sudah dilakukan sejak sebelum aku bergabung dengan redaksi, namun kesibukkannya baru terasa setelah aku bergabung. Tidak jarang aku terpaksa berangkat pagi-pagi untuk mengurus ini-itu. Seperti kali ini. Aku berangkat pagi-pagi lagi.

Belum ada banyak orang di sekolah. Sepanjang perjalanan menuju ruang kelas, aku hanya bertemu dengan dua orang. Satpam di depan gerbang dan Jean di dekat ruang guru. Sepi di sana-sini sampai-sampai semilir angin yang melewati lorong bisa terdengar meski tipis.

Aku bertolak ke kanan dan melangkah masuk ke dalam kelas sambil menguap. Saat aku tidak menjumpai siapa-siapa di sana, aku pun berhenti menguap. Aku mengernyitkan kening dan menyapukan mata ke seisi ruangan meski aku tahu sia-sia. Ia ke mana?

Aku mengeluarkan ponsel dan langsung menghubungi Jo.

“Jo, kau ada di mana?” tanyaku begitu Jo menjawab panggilanku. “Apa? Puncak gedung sekolah?” tanyaku lagi setelah Jo menyahut. Jo rasanya hendak menyahut lagi, namun aku segera menyela, “tunggu aku di sana.” Lalu sambungan telepon terputus.

Sebenarnya semalam aku dan Jo membuat janji untuk bertemu di kelas karena pagi ini ada yang harus kami urus bersama-sama. Hanya saja seperti yang terlihat, Jo tidak menepati janji. Pria itu malah sedang ada di puncak gedung sekolah. Aku tidak perlu bertanya untuk tahu kenapa ia bisa sampai ada di sana. Selain perpustakaan, puncak gedung sekolah adalah tempatnya melarikan diri sejenak dari masalah.

Pasti tentang ia lagi…

Aku lalu mendesah.

Jo, tidak letihkah menyiksa diri?

***

          Aku tiba di puncak gedung sekolah beberapa menit kemudian. Aku melihat Jo di sana, sedang duduk di atas semen yang membatu seorang diri. Aku berderap mendekatinya dengan hati-hati. Di sampingnya aku berjongkok membersihkan semen dari debu, lalu duduk. Aku menoleh menatap Jo dan mengikuti arah pandangnya. Ia sedang memandang ke arah timur. Di sana mentari masih bergelayut malu-malu. Di sana embun masih tersisa walau kabur-kabur

“Indah, ya…” gumam Jo pelan.

Aku menghela napas. “Kau tidak lelah?” tanyaku.

Cukup lama Jo diam setelah mendengar pertanyaanku. Aku mendengar Jo mendesah pelan, lalu,  “aku baik-baik saja,” sahut semu.

Aku menoleh menatap Jo lagi. Ada banyak raut lelah di wajahnya, tidak seperti biasa. Keruh menguasai telaga di balik matanya, dan aku tahu ia tidak baik-baik saja.

“Selalu mudah untuk menjawab apa pun dengan bibir, namun kau dan aku tahu jawaban sebenarnya ada di sini,” aku menekan dada Jo dengan telunjuk, “di hati,” kataku. Dan ia tersenyum saru.

“Kau juga sama saja,” cetusnya kemudian.

“Aku?”

Jo berhenti memandangi ufuk timur dan berganti menatapku. “Berhentilah menungguku,” mintanya sungguh-sungguh.

“Hari ini adalah hari yang aku tunggu kemarin,” kataku sambil memandang lepas ke depan, “dan hari esok adalah hari yang aku tunggu hari ini.”  Aku berhenti sebentar untuk menghirup udara dan tersenyum. Aku menggeleng pelan-pelan, kemudian, “aku tidak bisa berhenti menunggu,” aku menandaskan.

“Ve…”

“Jo, jangan paksa aku, ya,” aku menyela dengan nada meminta. “Jika cinta itu bunga, biarkan ia mekar dengan sendirinya. Aku ingin tahu seberapa indah. Jika cinta itu dara, biarkan ia terbang ke mana ia mau. Aku ingin tahu seberapa jauh.”

“Namun kau pantas untuk seseorang yang lebih baik.”

Aku mengangkat bahu. “Mau bagaimana lagi?” aku bertanya, kemudian menatapnya. “Semua yang aku mau adalah kau.”

Advertisements

One thought on “Sometimes (Dua Belas)

  1. singkat tapi indah 🙂 ve dan perasaannya.. jika sebelumnya terlalu sering mendeskripsikan perasaan jo, part singkat ini akhirnya menggambarkan perasaan ve..
    ah, lagi-lagi soal menunggu…. ._.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s