Sometimes (Sebelas)

Sometimes
Terkadang cinta harus menunggu

 Sebelas

Jonathan

Aku baru dari kamar Sam. Tadinya aku ingin mengajak Sam ke toko buku, namun ia tidak ada di kamarnya. Ia pasti sedang keluar rumah. Ia sering begitu seminggu belakangan. Jadi, sebagai pengalihan, aku memutuskan untuk ‘mencuri’ bola basket dari kamarnya. Aku ingin bermain basket meski siapa pun tahu aku tidak mahir memainkannya. Jangankan menggiring dengan benar, aku bahkan tidak yakin bisa memasukkan satu bola saja ke ring dari lima kesempatan. Parah, kan? Namun aku tidak peduli. Aku rela kelelahan tanpa hasil. Aku butuh lelah itu untuk melupakan sesuatu.

Aku menuruni anak-anak tangga dengan cepat. Satu langkah dua anak tangga.

“Jo…” Tepat di ujung bawah tangga, aku mendengar Tante Ellana memanggilku.

Aku memutar badan. “Ya, tante,” aku menyahut.

Tante Ellana tersenyum hangat. “Mau ke mana?” tanyanya.

“Ke lapangan basket,” jawabku sambil mengacungkan bola basket yang aku pegang.

Tante Ellana menatapku heran. “Jo main basket?” tanyanya takjub.

Aku terkekeh karena nada suara Tante Ellana terdengar tidak percaya. Wajar saja. Aku memang jarang sekali berolahraga seperti bermain basket atau semacamnya. Aku tidak berbakat. “Jo cuma iseng,” kataku malu-malu.

Tante Ellana mengangguk, lalu diam. Ia tampak memikirkan sesuatu. Lalu tahu-tahu raut wajahnya berubah serius. Ia menatapku dengan tidak biasa. “Jo baik-baik saja, kan?”

Aku bingung mendengar pertanyaan itu. Kenapa tiba-tiba? Namun lalu aku menyentuh kening dengan punggung tangan. “Jo baik-baik saja, Tante. Jo tidak demam, kok. Pusing juga tidak,” sahutku polos.

Namun Tante Ellana tidak tersenyum apalagi tertawa mendengar kepolosanku. Aku mendesah tidak kentara. Harusnya aku sadar kalau ada sesuatu yang salah. “Ini tentang apa, Tante?” tanyaku serius.

Kemudian satu kalimat yang meluncur keluar dari mulut Tante Ellana sekonyong-konyong memecut kedua kakiku dan membuatnya lemas seketika. Tubuhku limbung hingga aku harus berpegangan ke terali tangga. Bola basket Sam jatuh dan menggelinding jauh.

“Dia… yang kuminta dalam setiap doa.” Tante Ellana mengulangi.

Jantungku berpacu, bertaruh dengan waktu.  Aku berpegangan penuh. Mungkin sebentar lagi kedua kakiku akan lumpuh.

“Tante menemukan foto itu sewaktu hendak mencuci celanamu seminggu yang lalu,” Tante Ellana menjelaskan. Ia mendesah saru. “Jo, sejak kapan?” tanyanya ngilu.

Aku meneguk liur. Aku menunduk, tidak berani bertemu mata dengan Tante Ellana yang jelas sekali kecewa. Aku memandangi lantai dengan pandangan yang mengabur, lalu, “Jo tidak tahu,” jawabku getir. Aku menunduk semakin dalam. “Jo minta maaf,” ucapku gemetar.

Aku melihat langkah kaki Tante Ellana mendekat. Ia menyentuh pundakku dan memanggilku. Aku memberanikan diri untuk mengangkat wajah. “Jo, lupakan dia, ya,” Tante Ellana meminta. “Ini untuk kebaikan bersama,” imbuhnya. Dan di balik kacamatanya, sepasang manik di sana bersungguh-sungguh dengan nyata.

Aku mengangguk. Tante Ellana tersenyum tipis kemudian berlalu.

Sebuah kesalahan. Dari awal aku sudah tahu itu patokan mati. Harusnya aku segera berhenti.

Harusnya aku tidak seperti ini…

 

***

Samuel

Waktu itu cepat berlalu, ya. Rasanya baru beberapa saat yang lalu aku dan Mai menaiki kincir roda raksasa. Duduk berhadap-hadapan. Dibawa menjumpai langit bersama-sama. Akan tetapi ketika aku melihat lebih jeli, aku sadar kalau ini sudah lewat seminggu sejak saat itu.

Jika bisa, aku ingin kembali ke saat itu. Saat di mana detik-detik seperti membeku di tempat. Aku ingin kembali merasakan deburan yang menampar dinding hatiku saat mendengar pertanyaan Mai. Aku ingin rasa hangat saat memeluk Mai kembali menggodaku. Sungguh, aku ingin. Karena seiring waktu melangkah, aku merasa segalanya tidak lagi sama. Perlahan-lahan berubah. Atau, dari dulu memang sudah seperti ini?

Aku mendesah berat, namun tidak kentara. Aku melirik Mai lewat sudut mata. Mai sedang memandang ke luar jendela. Matanya berkedip jarang-jarang. Sepertinya ia sedang melamun.

Aku kembali fokus pada jalan di depanku. Lengang. Mobilku  melaju dengan mulus menuju tempat kursus Bahasa Inggris Mai.

Sebenarnya aku mengharapkan satu hal di saat-saat seperti ini. Aku berharap  ia bisa bersikap manja. Ia bisa bergelayut manja di dekatku. Meski itu akan sedikit menggangguku yang sedang menyetir, aku tidak akan melarangnya. Atau ia bisa menitipkan jemarinya di antara jemariku sambil sesekali mengayunkannya. Itu juga akan menggangguku, namun aku tidak akan keberatan. Atau ia bisa melakukan apa saja yang bisa menandai detik-detik dengan kesan kecil yang pantas untuk diingat. Bukannya seperti sekarang di mana ia sibuk dengan lamunannya dan aku sibuk dengan jalan di depanku. Ini terlalu jauh dari apa yang aku mau.

Dua puluh menit perjalanan pun layu, gugur tanpa sempat ditandai. Lidah tetap kelu. Tidak ada yang bersuara. Tidak aku, tidak juga Mai. Sampai aku menghentikan laju mobilku pun tidak ada yang berubah. Sama. Hampa. Seperti tiada.

Mai tampak masih melamun sehingga aku harus menegurnya. “Mai, sudah sampai.”

Mai tersengat sadar. Ia mengerjapkan matanya beberapa kali, kemudian menatapku. Lamunan masih bersisa di balik matanya. Namun ketika aku menilik, alisku seketika bertaut. Tidak hanya itu. Ada yang lain di situ. Akan tetapi belum sempat aku mencari tahu, Mai lebih dulu mengerjapkan matanya satu kali, dan sesuatu yang aku cari pun lari.

“Terima kasih, Sam,” aku mendengar Mai bersuara.

Aku tersenyum. “Anytime,” balasku. Aku mengulurkan tanganku untuk menggapai puncak kepala Mai. Rasanya lama sekali sebelum akhirnya aku bisa menyentuh rambutnya. Entahlah. Belakangan ini aku mulai sadar kalau Mai tidak sedekat yang terlihat.

“Study seriously, understand, Miss?” kataku sambil mengelus-elus kepala Mai.

Mai menunduk sedikit dan membiarkan aku terus melakukannya. Hanya beberapa saat sebelum ia menggapai tanganku dan membawanya menjauh. Ia tersenyum kikuk untukku. “Yes, Sir,” ucapnya. Ia tampak ragu-ragu sejenak sebelum memutuskan untuk menepuk pipiku dua kali. Lalu ia membuka pintu. “Hati-hati,” pesannya sebelum ia menyusup keluar dan berlari kecil menuju gerbang.

Aku menyentuh pipi dan memperhatikan Mai yang semakin jauh. Aku lalu tersenyum sendu.

Sebenarnya apa yang kita lakukan, Mai? Kenapa waktu terasa kehilangan arti? Apa karena kita terlalu sibuk membina? Atau justru kita mati-matian mempertahankan?

 

***

 

Aku masuk ke dalam rumah dan langsung menuju ruang keluarga. Di sana aku memperhatikan Mama sedang duduk di sofa dan merajut sesuatu. Kacamata bertengger di pangkal hidungnya. Kedua tangannya sibuk bekerja. Aku lalu menghampiri Mama dengan langkah-langkah yang tidak mengganggu.

“Ma…”

Mama mengangkat wajahnya. Senyum cerah langsung ia berikan untukku. Ia berhenti merajut dan menanggalkan kacamatanya. Mama menepuk-nepuk tempat kosong di sebelahnya. Sedetik kemudian, aku sudah duduk di sana.

Mama mengelus-elus rambutku. “Ada apa?”

Aku beringsut menjauh sambil menata rambut. “Sam bukan anak kecil lagi, Ma,” protesku setengah bercanda.

Mama tertawa. “Bagi Mama, kau itu tetap Sam kecil yang manja,” kata Mama setelah deraian tawanya berhenti. “Sini,” Mama memintaku untuk mendekat lagi. Aku menurut. Mama mengelus rambutku lagi, namun kali ini aku tidak beringsut. Aku bersandar ke bahu Mama dan menikmatinya. “Dasar manja,” kata Mama lalu menepuk-nepuk keningku.

Aku terkekeh. “Ma…”

“Hemm…”

Aku diam sejenak. “Dekat, namun terasa jauh. Mama pernah merasakannya?” tanyaku setengah melamun. Ketika aku menengadah dan mendapati kening Mama bergumal-gumal bingung, aku langsung menyadari betapa konyolnya pertanyaan itu. Mama membuka mulutnya, tetapi belum sempat Mama mengucapkan apa-apa, aku buru-buru mengibaskan tanganku dan menyela. “Lupakan saja,” aku memandang berkeliling dengan cepat, “Jo mana, Ma?” tanyaku kemudian, mengalihkan pembicaraan.

Mama sedikit kaget dengan perubahan arah perbincangan yang mendadak. Akan tetapi ia tetap menjawab, “di lapangan basket kompleks perumahan.”

“Lapangan basket? Jo main basket? Tidak salah?”

Mama tersenyum geli. “Kau ini…” gerutu Mama, “memangnya ada yang salah kalau Jo main basket?”

“Tidak biasanya,” kataku. Aku mengangkat bahu, kemudian bangkit berdiri. “Aku susul Jo dulu, ya, Ma.” Aku berbalik. Belum sempat aku melangkah, suara Mama terdengar kembali.

“Sam…”

Aku berbalik. “Ya?”

“Pertanyaanmu itu… sebaiknya kautanyakan kepada Jo,” kata Mama. Ia meraih kacamata dan memakainya kembali. “Dia tahu lebih dari siapa pun,” imbuh Mama, lalu tersenyum.

 

***

Jonathan

“Jo, lupakan dia, ya.”

Suara itu lagi. Entah untuk yang keberapa kali. Aku berhenti dengan napas yang tersengal letih. Keringatku menitis ke atas bumi.

Sudah berulang kali aku menghalau suara itu pergi dan melarangnya datang kembali, namun tidak benar-benar berhasil. Suara itu akan datang lagi dan membuatku berhenti karena letih.

Kepadamu, suara yang terus menganggu, dengarkan aku. Aku juga ingin melupakannya. Sungguh. Sebab mengingatnya sama saja dengan menyiksa raga. Sebab dengan mengingatnya aku berdosa. Namun apa lagi yang bisa aku perbuat ketika semua yang ia berikan hanya membuatku semakin jatuh tanpa pernah sekali pun ia mengajarkanku cara untuk menjauh.

Aku tidak bisa. Sekalipun menyiksa, sekalipun berdosa, ini tetaplah tidak mudah.

“Sial!” aku mengumpat dan mencampakkan bola basket dengan satu tangan ke ring. Bola itu menerkam ring, lalu memantul ke suatu arah.

“Wow, jangan mengamuk seperti itu. Ring itu tidak salah. Kau saja yang payah.”

Aku menoleh dengan cepat ke kiri. Sam ada di sana. Ia melemparkan bola basket ke atas lalu menerimanya. Melemparkannya, lalu menerimanya lagi. Ia memainkan bola itu dengan santai. Lalu di suatu detik, ia melompat rendah dan melemparkan bola itu ke ring. Jarak dari tempat Sam berdiri ke ring jauh, namun bola itu masuk dengan patuh.

“Hah, kaulihat itu?” tanya Sam sombong. Aku mendengus sebal sementara ia menghampiriku. “Kenapa bermain sendiri?” lalu ia bertanya.

“Memangnya aku bisa mengajak siapa?” aku balas bertanya dengan datar.

Sam tersenyum bersalah. “Akhir-akhir ini aku terlalu sibuk, ya?” tanyanya. Aku diam saja. “Kau marah? Ah, Jo, jangan begitu. Kau seperti gadis saja,” Sam tertawa, lantas menepuk pundakku. “Baiklah, sekarang akan kutemani kau bermain.”

Lalu aku dan Sam bertanding. Satu lawan satu. Terang saja aku kalah jauh. Skor sementara membuatku ingin segera kabur. 40-4 untuk Sam. Astaga. Sungguh memalukan!

Aku mencoba melakukan lemparan three points. Jangankan masuk, bola bahkan tidak menyentuh ring. Sam tertawa melihat itu. Ia mengacungkan ibu jari ke bawah, meledekku. Ia kemudian meraih bola yang tengah memantul-mantul. Harusnya ia menggiring bola itu dan melemparkannya ke ring untuk menambah angka, namun ia justru melemparkan bolanya ke arahku. Aku menerima lemparannya dengan tidak siap. Bolanya nyaris menghantam wajahku. Aku menatapnya bingung, tetapi sesaat kemudian aku mengerti. Sam yang tengah melipat tangan di depan dada itu menantangku. Aku mendengus dan menerima tantangannya. Aku memandangi bolanya. Jangan membuatku malu, kataku dalam hati. Kemudian aku melemparkannya dan…

“Hah!” aku menatap Sam dengan pongah, “kaulihat itu?”

Sam tertawa geli dan bertepuk tangan. Ia berlari menyongsongku dan merangkulku dengan gemas. Tidak seperti biasanya, kali ini aku tidak mengelak.  “Not bad,” komentarnya sambil menguncang-guncang pundakku. Aku meringis.

Sam melirik jam tangannya, lalu terpekik kecil. “Ah, aku harus menjemput Mai,” ujarnya. Ia menoleh ke arahku ragu-ragu. “Tidak apa-apa, kan?”

“Memangnya aku ini siapamu sampai-sampai harus bertanya seperti itu?” tanyaku dengan datar.

Sam tergelak. Ia melepaskan rangkulannya. “Baiklah, aku pergi dulu, ya.”

Aku mengangguk.

Sam sudah menarik beberapa langkah sebelum ia berbalik tiba-tiba. Ia seperti teringat akan sesuatu. Ia membuka mulutnya, namun aku segera menyela, “sudah, sana…”

Sam mengatupkan mulutnya. Ia mengangguk-angguk, berbalik dan melangkah kembali.

Setelah Sam menghilang, aku kembali bermain seorang diri. Seperti kesetanan, aku berlari, melompat dan melempar berulang kali. Aku butuh lelah itu. Untuk melupakan sesuatu. Meski singkat waktu.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s