Sometimes (Sepuluh) =Edisi Revisi=

Sometimes
Terkadang cinta harus menunggu

Sepuluh

Jonathan

 

Malam setelah pulang dari taman hiburan, Sam menyambangi kamarku. Ini sudah ke sekian menitnya semenjak Sam masuk. Aku tidak sanggup lagi menghitung sudah berapa banyak kata yang ia gantungkan di sela-sela udara di kamar. Udara di kamar jadi terasa berat. Setiap katanya serupa beban.

Sam jelas sekali bahagia. Gerak-geriknya tidak biasa. Matanya berpendar tak kalah terang dari bintang-bintang. Pulasan senyum cerah menang atas bibirnya yang merah. Aku memperhatikannya seluruh, dan terpaksa menderita ngilu.

Kali ini tidak lagi terasa seperti biasanya di mana bahagia selalu berarti sama bagi Sam dan aku. Sekali ini saja persamaan itu sengaja aku hapus. Sekali ini saja aku ingin memberikan garis cermin di mana bahagia bagi Sam akan tercermin sebagai derita bagiku.

Sesakit itu…

Aku terus mendengar di pinggir ranjang. Aku tidak sekali pun menyela meski ingin. Aku pasrah diam dan meredam. Aku patuh menampung aliran aksara yang tumpah dari mulut Sam. Sampai ketika aku kehabisan cawan dan tidak sanggup lagi menampung, seketika Sam menjadi titik yang harus aku jauhi, yang terlarang untuk aku jamahi.

“Sam, aku kantuk. Aku ingin tidur,” ucapku rangup.

Sam terdiam. Ia mencari-cari mataku, namun aku mengelak dan menjauh. Lalu dari sudut mata, aku melihat ia mengangguk. Ia menepuk pundakku dua kali. “Baiklah,” katanya, “selamat malam kalau begitu.” Ia pun menarik langkah menuju pintu.

Aku mengangkat wajah dan menatap punggung Sam dengan bimbang. Desah napasku susah payah menyentuh udara. Saat akhirnya Sam benar-benar berlalu, aku pun kembali menunduk. Aku kira aku akan membaik setelah itu, namun aku keliru. Aku terlambat untuk memulai sesuatu. Sekarang sakit sudah melebur menjadi benalu yang hidup di setiap jengkal tubuh.

 

***

 

Magentha

Aku berjalan di sepanjang koridor sekolah. Di dekat ujung koridor, aku bertolak ke kanan, hendak masuk ke ruang kelas. Akan tetapi, alih-alih melangkah masuk, aku justru mematung di dekat pintu saat melihat Jo menyusup keluar. Jo selalu saja berhasil menyita perhatianku. Rupanya. Langkah tenangnya. Semua tentang dirinya. Namun kali ini lebih dari itu. Hitam yang menggelayut jelas di bawah matanya membuat alisku bertemu di satu titik. Wajahnya yang kuyu membuatku menahan napas beberapa waktu.

Jo tidak berhenti seperti aku. Aku yakin ia sadar kalau aku memperhatikannya, tetapi ia tampak tidak peduli. Saat ia hampir melewatiku, pertanyaanku menahannya.

“Kau kenapa?”

Jo berhenti melangkah. Aku dan Jo saling membelakangi. Punggung bertemu punggung. Lama seperti itu sampai akhirnya ia mendesah, lalu pergi tanpa menjawab pertanyaanku.

Aku diabaikan, seperti debu. Yang tampak, namun tidak pernah diinginkan. Akan langsung ditepis begitu melekat. Hanya pantas bersanding dengan abu di sudut pembuangan.

Aku menoleh ke kanan saat merasakan kehadiran seseorang. Di sana aku mendapati Sam sudah berdiri di dekatku dengan senyum yang lebih lebar dari biasanya. Ia mengulurkan tangannya ke depanku, kemudian berkata, “ke kantin, yuk.”

Untuk sesaat aku hanya diam dan menatap Sam. Kemudian dengan setengah hati aku menjemput uluran tangannya.

Di dekat telingaku Sam lantas berbisik, “aku siap jatuh cinta lagi.”

Aku tersenyum basa-basi.

“Seberapa berharga debu bagimu, Sam?” aku lantas bertanya dengan setengah menerawang.

 

***

 

Jonathan

“Kau kenapa?”

Begitulah pertanyaan Mai tertangkap oleh telingaku. Aku yang tadinya enggan berhenti melangkah di dekat Mai akhirnya berhenti juga. Mai tidak memutar badannya, dan aku pun. Kami berdua diam dan tidak bergerak.

Aku mengepalkan kedua tanganku erat-erat. Lalu saat detik-detik hening itu berlalu pergi, aku pun menguraikan kepalan, mendesah dan melangkah kembali. Tanpa kuberikan jawaban, pertanyaan Mai kubiarkan mati.

Setelah belasan langkah aku tempuh, aku menepi dan menoleh ke belakang ragu-ragu. Sekonyong-konyong rasa sesal menghantuiku saat aku melihat tangan mereka terpaut satu.

 

Pagi ini bukan milikku
Meski kepada mentari aku merayu
Kudekap teduh sedaya upaya
Namun hampa melahap serakah
Kepadaku, tak satu pun berbalik arah

Pagi ini bukan milikku
Saat rumput basah membisikkan sesuatu
Di sabana luas berselimut embun
Ada mereka tengah melepas rindu
Aku pun meluruh dirajam cemburu

Pagi ini bukan milikku
Semenjak mereka terikat satu
Sudah dari dulu pagiku dirampas waktu
Sisa yang kupunya hanya sejilid buku
Dengan halaman penuh debu dan sendu

Aku tidak sudi melihat lebih jauh. Kembali kutatap arah depan dan berjalan. Semakin jauh aku berjalan, semakin redup kesadaran. Ia baru terang kembali saat aku menabrak seseorang dan jatuh karena oleng.

Ini bukan pagiku
Ini pagi mereka….

 

***

 

Vesselia

Aku sudah berada di sini entah berapa lama. Aku duduk dan membiarkan mataku berkelana sesukanya. Ada banyak objek di sekitar, namun sepasang mataku hanya memperhatikan satu dengan benar-benar. Mereka sepakat tidak ada yang lebih menarik dari yang terlihat sekarang. Bagi mereka, objek itu tidak akan usang. Satu kali mati, satu kali pula ia akan hidup kembali, seperti ilalang.

Jo ada di sana, di depan mata, di tengah lapangan basket yang terbuka. Ia sendirian saja. Ia berdiri goyah karena lelah. Batu matanya tidak lepas dari bola yang tengah memantul ke arahnya. Ia menerjang tidak terduga dan menyambar bola. Ia berlari dengan langkah yang kacau, melompat dan menembakkan bola. Dan semenjak tadi tidak ada satu pun bola yang berhasil masuk menerobos ring. Tidak pula yang baru saja.

Aku tahu Jo lemah dalam berolahraga. Ia akan lebih memilih untuk mengerjakan puluhan soal Fisika daripada menembakkan puluhan bola. Ia akan lebih senang mencoba mereaksikan sesuatu di laboratorium daripada mencoba melompati kuda-kuda lompat atau palang rintang. Namun hari ini ia berbeda. Ia tidak pulang seperti siswa-siswi lain meski jam sekolah sudah lama berakhir. Ia lebih memilih untuk tinggal dan bermain di lapangan. Seorang diri. Untuk melarikan diri.

Aku tersenyum prihatin, lalu meraih skecth book dari dalam tas. Di antara telunjuk dan ibu jari, sebatang pensil aku selipkan. Aku memandangi Jo detil-detil, kemudian ujung pensil mulai menari. Halaman yang tadinya putih kosong mulai terisi dengan satu, dua, tiga dan sekian goresan. Tipis dan tebal. Pudar dan terang. Semuanya agar pria itu abadi.

Ini goresan untuk sepasang matanya. Arsiran lembut di sini untuk menghidupkan telaga di baliknya. Hidungnya mancung seperti ini. Ya, tidak salah lagi. Bibirnya sedikit melengkung. Garis pembentuk dagunya bertemu di titik ini, kokoh. Hemh, aku ingat ada bulu-bulu halus di sekitar. Lalu rambutnya… tubuhnya… kakinya…

Aku tidak lagi menghitung sudah berapa goresan. Aku tenggelam dalam detik-detik sampai Jo melemparkan bola menghantam bumi dengan frustasi. Aku menyaksikannya jatuh terduduk. Ia mengusap wajah dan rambutnya sekalian. Peluh-peluh sedikit-banyak berpindah ke sela jemarinya. Bola yang memantul di depannya lalu ia tampar ke pinggir lapangan. Ia memukul bumi yang terlihat tidak peduli. Aku mendesah repih di sini.

Jo lalu bangkit. Helai rambutnya acak-acakkan. Raganya basah oleh peluh. Namun ia tetap menawan, begitu. Dengan rambut seperti itu… Dengan peluh sebanyak itu… Berpuluh-puluh endapan peluh tidak sedikit pun menganggu.

Jo lalu melangkah. Angin melepas langkahnya menuju sudut senja. Di hadapan matahari, ia menegarkan diri. Namun pada rembulan di baliknya, bayangannya yang jatuh mengadu rapuh. Kepadaku ia tak mampu berdusta. Ia tidak sekuat yang terbaca.

Di sudut bawah sebelah kanan halaman, aku lantas menuliskan sesuatu.

 

Aku mendengar dia kelu
Bersandar di tepi sudut sendu
Melepas hangat tak bernyawa
Terkulai lemah di ujung senja

Aku merasa dia bergerak
Melangkah di atas lapisan air retak
Mengecap manis janji sia-sia
Tersaruk payah di ujung senja

Aku melihat dia patah
Berluruhan diseret air mata
Menyentuh warna di batas maya
Terpojok tak berdaya di ujung senja

Perlahan-lahan dia mati
Di ujung senja….

Sampai akhirnya saat Jo menyusup keluar dari kungkungan bola mataku, aku pun beranjak dari tempatku. Kudekap sketch book di depan dada dan melangkah lurus. Di area parkir sekolah aku mendapati supirku tengah berdiri bersandar pada badan mobil yang berwarna merah.

“Maaf, Pak, kelamaan,” ucapku dengan nada menyesal.

Supirku menoleh. Ia kemudian tersenyum sopan. “Tidak kelamaan, Non. Saya baru menunggu tiga jam,” balasnya. Lengkungan pelukis senyum di bibirnya berubah bentuk. Jail.

Aku terkikik singkat, lalu masuk ke dalam mobil. Supirku mengikuti. Di dalam mobil supirku sibuk memakai seat belt-nya sementara aku justru melirik sketch book-ku. Goresan-goresan baru di sana masih berupa sketsa, belum selesai. Aku sendiri tidak akan menyelesaikannya. Ya, tidak akan. Dengan begitu aku punya alasan untuk selalu memandanginya.

“Memangnya ada urusan apa, Non? Tidak biasanya pulang sesore ini,” tanya supirku setelah selesai memakai seat belt-nya.

“Aku menunggu sampai matahariku pulang,” sahutku.

 

Advertisements

One thought on “Sometimes (Sepuluh) =Edisi Revisi=

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s