Sometimes (Sembilan)

Sometimes
Terkadang cinta harus menunggu…

Sembilan

Magentha

Aku duduk di kusen jendela kamar sendirian. Sebelah kaki kutekuk di atas kusen dan kupeluk. Daguku menopang pada lutut kaki. Ada secangkir teh panas dalam genggaman.

Lama aku hanya begitu di sini. Duduk diam memeluk diri. Pandangan mataku jatuh jauh keluar jendela. Semuanya tampak samar-samar di mata. Jauh dari genggaman dan terasa tidak penting.

Aku bernapas pelan-pelan, berusaha mencari ketenangan. Sialnya langit enggan membantu. Ia bergemuruh gelisah di luar sana. Pucuk daun pepohonan menari diusik resah. Mega-mega kelabu saling bertemu dan bertukar kisah. Sebuah kisah klasik di mana cinta menjadi satu-satunya alasan untuk bertahan.

Aku menarik napas dalam-dalam, lalu menyesap teh sedikit-sedikit. Kesepuluh jemariku mendekap cangkir putih dengan lemah. Hangat menjalar, namun terasa hampa. Bukan. Bukan kehangatan seperti ini yang aku mau.

Aku kembali menoleh ke luar jendela saat rintik-rintik gerimis mulai mengetuk jendela dan meninggalkan jejak. Alur berliku-liku terpeta di kaca jendela. Pendek dan banyak. Kubiarkan jariku menelusuri setiap alur. Tidak ada yang bermuara ke bawah. Semuanya putus di tengah jalan.

Aku dibawa untuk merenung. Inikah pesan dari Tuhan? Bahwa sama seperti sekian banyak alur ini, tidak semua harapan akan bermuara dan melebur menjadi bentuk.

Namun kenapa harus harapanku yang satu ini? Aku ingin pulang ke tepian itu. Aku mendambakan teduh yang itu. Tidak bolehkah?

Apakah pria itu bukan alasanku tercipta ke dunia?

Aku mencoba menyapa setiap rintik gerimis di luar sana. Dan rasanya letih.

Aku lalu menangis ditemani gerimis.

***

Samuel

Hari ini hari Sabtu dan sekolah sedang libur. Aku mengajak Jo, Mai dan Ve ke sini—sebuah  taman hiburan. Semuanya setuju meski tadinya Mai menolak untuk ikut. Namun setelah dibujuk-bujuk, akhirnya ia mau walau selama perjalanan ia terlihat murung dan sering melamun. Aku tidak tahu ia kenapa. Aku pun tidak ingin mengganggunya dengan bertanya kenapa. Aku paham ketika sedang ada masalah, ada saatnya kita perlu mendekam dalam kesendirian. Aku memberi ruang untuk Mai. Aku hanya berharap ia akan terhibur setelah pulang dari sini.

“Aku ke sana dulu, ya,” Ve tiba-tiba bersuara. “Aku ingin membeli gula kapas. Ada yang mau?”

Aku lihat Jo menggeleng. Aku membeo. Mai tidak menunjukkan reaksi apa-apa. Kesadarannya meredup seperti nyala api yang kekurangan oksigen, entah ke mana terseludup.

Ve mengangkat bahunya. “Ya sudah kalau tidak ada yang mau. Kalian jalan saja dulu. Nanti aku menyusul. Ke sana, kan?” Ve mengangkat tangannya menunjuk area wahana kincir roda raksasa.

Aku mengangguk mengiyakan. Sebelum Ve pergi, ia sempat melirik Mai sekilas dan bertukar pandang denganku. Tanpa bersuara, ia mengatakan, “hibur dia.” Aku mengangguk tegas. Lalu ia pergi dengan langkah santai.

Kami kembali berjalan. Baru beberapa langkah, aku mendengar Jo bersuara.

“Aku ikut dengan Ve saja,” cetusnya. “Tidak baik kalau dia sendirian.”

Begitu katanya, namun aku tahu tidak persis seperti itu. Aku tahu itu hanya dalihnya. Ia sebenarnya ingin memberi ruang untuk aku dan Mai. Maka, untuk menyambut keinginannya yang bagus itu, aku mengangguk saja. Jo kemudian menyusul Ve. Aku menangkap Mai menatap punggung Jo dengan tatapan yang sulit dipahami,laku mendesah pelan.

“Naik kincir roda raksasanya bersama denganku saja, ya, Mai,” kataku setelah Jo menghilang di balik tubuh-tubuh lain.

Aku menunggu dengan resah. Ia terlihat ragu-ragu, antara mau dan tidak. Aku bertambah resah. Akan tetapi saat aku melihatnya mengangguk kecil, aku langsung bernapas lega.

Di tengah inci-inci menuju ke sana, tubuh Mai oleng karena disenggol seseorang dari arah berlawanan. Dengan sigap aku menangkap tubuh Mai agar tidak jatuh. Aku membimbing Mai untuk berdiri kembali, lalu memutar kepalaku dengan cepat mencari pria yang mennyenggol tubuh Mai—yang bahkan tidak menoleh untuk melayangkan maaf. Aku hendak melangkah menegur pria itu, namun Mai menahanku.

“Tidak usah, Sam,” kata Mai. “Aku tidak apa-apa.”

“Tetapi, Mai…”

“Sam…” ia menyebutkan namaku sedemikian lembutnya. Suaranya menjamu sejuk ke hatiku dan memadamkan bara di sana. Aku mengalah dan mengangguk.

Aku lalu menggenggam tangan Mai, tidak erat namun tegas untuk melindungi. “Jangan lepas dari genggamanku kalau begitu. Aku tidak ingin kau jatuh,” ucapku.

Mai seperti hendak memberikan gestur penolakkan, namun entah kenapa ia menyurutkannya. Akhirnya ia hanya mengangguk.

Beberapa saat kemudian aku dan Mai sudah menaiki kincir roda raksasa. Kami duduk berhadap-hadapan.

“Kenapa murung seperti itu?” aku akhirnya bertanya karena tidak tahan melihatnya terus-menerus seperti mayat hidup.

Mai menjawab dengan sebuah gelengan.

“Kau sakit?” tanyaku lagi sambil mengulurkan tanganku untuk menyentuh kening Mai.

Mai menggeleng lagi.

Aku menarik tanganku menjauh. “Lalu kenapa?”

Mai kelihatan bimbang. Matanya bergulir ke kiri dan kanan bergantian. “Apa arti dari semua ini, Sam?” ia bertanya dengan suara yang melayang-layang.

“Apanya?” aku balik bertanya karena tidak mengerti.

Mai menatapku. “Katakan kepadaku apa arti dari semua perhatianmu.”

Aku jadi kebingungan sendiri. Kenapa ia tiba-tiba bertanya seperti ini? Aku mencoba memaknai tatapan matanya. Ada sesuatu yang tidak aku mengerti di sana. Remang menyamarkannya.

“Aku mencintaimu, Mai,” ucapku sungguh-sungguh.

Mai terus menatapku, sedetik-dua detik. Lalu ia mengangguk.

“Mai, boleh aku menempatkanmu dalam hatiku?” aku bertanya dengan lembut.

Ketika aku melihat kepalanya bergerak naik-turun, aku mengulum senyum.

“Lalu bolehkah aku menempatkanmu dalam hatiku juga?” Mai balas bertanya.

Aku menganga mendengar pertanyaan itu. Aku sungguh tidak menyangka pertanyaan itu akan keluar dari bibir mungilnya. Saat aku yakin itu memang suaranya dan aku tidak sedang bermimpi, aku segera mengembangkan senyum. Aku menarik Mai ke dalam pelukanku.

Pelukkanku menjawab pertanyaannya.

Pelan-pelan aku menguraikan pelukanku saat aku merasa dadaku basah oleh sesuatu. Aku mencari wajah Mai dan aku tahu.

“Kenapa menangis?” tanyaku hangat. Kuseka air mata yang tidak mampu memudarkan garis-garis kecantikkan Mai.

Mai menggeleng dan terus menangis tanpa suara. “Aku bahagia,” beritahunya. Namun suaranya bergetar. Namun matanya berkaca-kaca.

Aku tersenyum lucu. Kuusap pipinya penuh rasa sayang, lalu kudekap lagi dirinya. Kutumpukan daguku ke atas kepalanya. “Aku mencintaimu,” ucapku.

Dan itu adalah kejujuran paling putih yang pernah aku ucapkan.

***

Vesselia

Aku menyadari tubuh Jo menegang saat menyaksikan sepotong adegan di depannya. Adegan yang membingkai Sam dan Mai yang sedang berpelukkan di salah satu bilik kincir roda raksasa. Aku tahu saat matanya terbelalak sesaat. Aku tahu saat napasnya tercekat. Aku tahu saat ia membuang muka sampai saat ia mendesah ngilu.

“Kau tidak apa-apa?” aku bertanya kepadanya.

Jo menoleh. “Memangnya aku kenapa?” ia balik bertanya dan memaksa tersenyum.

Aku berjinjit dan menyentil keningnya cukup keras. “Berhentilah berpura-pura,” kataku. Sementara ia mengusap-usap keningnya, aku mengaduk-aduk isi tasku untuk mencari sesuatu.

“Jo, kau tahu?”

***

Jonathan

“Jo, kau tahu?” aku mendengar Ve bertanya.

Aku menatapnya kebigungan. “Tahu apa?” tanyaku tidak mengerti.

Ve memberiku gestur supaya mendekatkan telingaku ke mulutnya. Aku menurut. Lalu saat telingaku sudah berada di depan mulutnya, aku mendengar sepotong pengakuan yang membuat jantungku mencelus dan kedua mataku terbelalak.

“Aku mencintaimu,” akunya.

Ve menyisipkan sesuatu ke dalam genggamanku dan langsung berlari kecil meninggalkanku yang masih membeku karena terkejut. Setelah keterkejutan tinggal sisa-sisa, aku mengangkat tanganku. Dan ketika aku mendapati ada selembar foto di sana, kedua kakiku langsung melemas dalam hitungan sepersekian detik. Aku nyaris luruh ditarik bumi.

Dalam foto itu ada dua manusia, dua senyuman. Seperti dua bunga yang tumbuh dari tanah yang sama, yang mekar dari tangkai yang sama.

Foto itu…  adalah sesuatu yang hilang, sesuatu yang telah lama aku cari-cari.

Aku membalikkan foto itu dan mendapati tulisan tanganku masih terbaris rapi di sana. Hanya satu kalimat sederhana.

Dia… yang aku minta dalam setiap doa.

Ve sudah tahu?

Advertisements

One thought on “Sometimes (Sembilan)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s