Sometimes (Delapan)

Sometimes
Terkadang cinta harus menunggu…

 Delapan

Jonathan

Sedari tadi hening berkuasa. Dibangunnya selubung asing dengan pongah. Tidak ada cacat yang bisa diretas. Semuanya terlampau sempurna.

Di antara suara deruan mesin yang telah hidup bermenit-menit yang lalu, aku mendesah saru. Sesal menguntitku. Haruskah aku mengiba kepada waktu?

“Mau sampai kapan kita seperti ini? Kau tidak lelah terus mendiamkanku?”

Akhirnya ada suara lain selain suara deru mesin. Itu milik Sam.

“Siapa yang mendiamkan siapa?” aku balas bertanya tanpa menolehkan kepala.

Sam mendengus. “Semalam aku sudah mencoba mengajakmu bicara, tetapi kau tidak mengacuhkanku,” kata Sam tidak terima.

Aku menoleh kali ini. “Jangan mengada-ada,” kataku karena seingatku ia tidak pernah mengajakku bicara setelah kami saling mendiamkan.

“Siapa yang mengada-ada? Aku serius. Semalam saat kau berjalan lewat gazebo, aku memanggilmu. Namun jangankan menyahut, kau bahkan tidak menoleh,” terang Sam menggebu-gebu. Ia lalu menggaruk-garuk belakang kepalanya. “Tetapi saat itu kau sedang mengenakan earphone,” imbuhnya malu-malu, lalu terkekeh sendiri.

Aku meringis. “Coba pikirkan saja sendiri bagaimana aku bisa mendengarmu memanggilku saat itu.”

Sam mengangkat bahunya.

Lalu hening lagi.

“Sam, maaf,” kataku.

Sam menatapku lama. Aku sibuk mengira-ngira apa ia mau memaafkanku atau tidak saat tiba-tiba Sam mengacak-acak rambutku yang tadinya sudah tertata.

“Untuk apa minta maaf? Tidak ada yang salah,” ujarnya ringan. Ia menarik tangannya, kemudian, “tetapi jangan lagi melarangku untuk membelamu. Kau mengenalku, bukan? Tidak ada yang boleh menyakiti sahabatku,” tuturnya sungguh-sungguh.

Aku tersenyum, lantas tertawa. Aku mengangguk untuknya.

Kami berbaikkan.

Bukankah ini yang namanya persahabatan? Mudah untuk dimulai, namun sulit untuk diakhiri.

 

***

 

Magentha

 

Ruang kelas sudah sepi. Hanya tinggal aku dan Jo yang kebetulan mendapatkan giliran membersihkan kelas di hari yang sama. Tidak ada yang bersuara semenjak kami mulai membersihkan kelas. Sesekali hanya terdengar suara aduan gagang sapu dengan kaki meja atau bangku. Jo sibuk dengan sudutnya dan aku enggan mengganggunya.

“Benar kau mencintaiku?”

Aku berhenti menyapu saat pertanyaan itu tersemat di udara dengan padu. Aku menatap Jo ragu-ragu.

“Benar kau mencintaiku?” ia bertanya lagi.

“Apa kau ragu?” aku balik bertanya.

Ia meletakkan sapunya dan menekuk jarak antara ia dan aku.

“Cinta itu memberi, kan?” ia bertanya dengan lembut.

“Kau ingin aku memberi?”

Ia mengangguk.

“Apa?”

“Hatimu,” ia menjawab, “untuk Sam.”

Mungkin semesta tiba-tiba menyusut. Rasa sesak membuat napasku tersangkut. Mataku dan miliknya berpaut, dan aku mencari-cari di balik tatapan matanya yang teduh, seperti membaca sejilid buku. Aku menyingkap halaman satu demi satu, namun tidak kutemui aksara penyusun kata ragu.

Ia bersungguh-sungguh?

Aku tertawa pahit. “Berani-beraninya kau!” aku memaki. “Memangnya apa yang sudah kauberi untukku sampai-sampai kau berani meminta hatiku untuk pria lain?”

Jo tersenyum. “Apa yang ingin kauminta dariku?” tanyanya. Suaranya setenang air danau yang tidak terpengaruh oleh usikkan angin pengganggu.

“Hatimu,” aku menjawab. “Berikan aku hatimu,” tantangku kemudian.

Jo tidak menjawab dengan suara, namun ia tunjukkan sebuah laku. Ia mendekatkan wajahnya ke wajahku dan melumat bibirku dengan lembut.

Ia itu abu-abu. Ia sungguh begitu. Ke titik mana ia akan berubah warna, tidak bisa ditebak dengan tentu. Semua tingkah-lakunya begitu.

Aku terpaku dan mendekam dalam bisu.

Seharusnya aku merasa teduh. Seharusnya aku merasa direngkuh. Namun semuanya semu. Hatiku berkecamuk tidak tentu, ingin memberontak dan menarik diri menjauh. Sebab saat ia menyentuh bibirku, aku mendapati tatapan matanya menjadi sayu dan layu. Ia juga tersiksa, tidak hanya aku.

Aku kehilangan teduhku.

Aku terdampar di gubuk rasa yang tidak aku tahu.

Jo membawa bibirnya menjauh dan tersenyum saru. “Aku sudah memberi yang kau mau. Sekarang, beri aku apa yang aku mau.”

Aku menggeleng. “Aku tidak mau.”

“Mai…”

Aku menunduk, menyembunyikan mataku yang mulai disusupi air. “Jangan paksa aku,” aku memohon dengan lirih dan bergetar.

Jo menyentuh daguku, kemudian mengangkat wajahku. Ibu jarinya menyeka air mataku sesegera setelah ia jatuh. “Mau, ya,” bujuknya.

Aku menggeleng.

“Mai,” ia mengusap-usap pipiku, “mau, ya.”

Entah di detik keberapa saat pesonanya menghanguskan kata hatiku yang tadinya teguh. Tahu-tahu aku mengangguk patuh.

Ia tersenyum. Ia lebih dulu mengecup keningku sebelum menarik langkah menjauh.

“Jo, tolong jawab aku,” aku bersuara dengan rapuh. Ia berhenti. “Aku hanya hidup satu kali. Lantas kenapa aku tidak boleh melakukan apa yang aku sukai?”

Jo berdiri mematung. Aku mendengarnya mendesah, lalu pergi dan membiarkan pertanyaanku terkatung-katung.

Aku mengangkat tangan untuk menyentuh dada. Sakit.

 

***

 

Jonathan

 

Aku melangkah pergi tanpa berniat menjawab pertanyaannya yang bagiku sulit. Patuh aku melangkah meski tidak aku sadari lagi sudut mana yang ingin aku tuju.

Tahu bagaimana rasanya mencintai seseorang yang seharusnya tidak kaucintai? Yang karenanya harus ada hati yang dilukai. Yang karenanya harus ada sakit yang dibawa letih.

Tahu bagaimana rasanya saat mencoba melupakan orang yang kita cintai? Seperti mencoba menggenggam tangkai mawar seutuhnya di jemari, harus berserah diri untuk terluka setiap kali mencoba.

Saat semua pertanyaan itu diarahkan kepadaku, percayalah aku tahu. Lebih dari siapa pun.

Advertisements

One thought on “Sometimes (Delapan)

  1. Abu-abu itu sekarang semakin terlihat terang olehku. Nice … akhirnya terjawab juga :).
    Tapi melihat tingkah Jo itu… eh? Ternyata ia perayu juga… *’mau ya?’ entah kenapa geli membayangkannya :D* oh my… kau-merusak-image-nya-di-mataku.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s