Sometimes (Tujuh)

Sometimes
Terkadang cinta harus menunggu…

Tujuh

Magentha

Aku mengelak dan menggigil geli untuk kesekian kalinya. Aku menoleh ke kanan dan menatap objek di sana dengan sebal.

“Berhenti menggangguku. Aku tidak punya banyak waktu,” kataku, lalu kembali menyibukkan diri membungkus kado di atas meja. Setiap sudut aku rekatkan dengan sellotape, rapi-rapi.  Saat aku sudah selesai, gangguan itu datang kembali.

“Chris…” aku memanggil pengirim gangguan itu dengan gemas. Aku melihatnya tersenyum jail. Ia masih memegang kemoceng, benda yang sedari tadi ia gunakan untuk mengangguku—menggelitik bagian tengkukku.

“Jangan serius-serius begitu. Kau, kan hanya membungkus kado,” ujarnya santai setelah melemparkan kemoceng begitu saja ke sudut ruangan.

Aku memperhatikan sepupuku itu, lalu mendesah. Meski dibilang sepupu, bagiku Chris lebih dari itu. Ia itu berarti banyak untukku. Sepupu yang jail, sahabat tempat berbagi cerita dan kakak laki-laki yang tidak segan-segan menghajar siapa pun yang membuatku menangis.

“Biar saja,” balasku defensif.

“Ya, ya,” ia bersuara dan mengangguk-angguk. “Bagian pentingnya bukan tentang membungkus kado, tetapi untuk siapa kado itu,” katanya kemudian dengan nada menggoda.

Aku diam, tidak membalas karena Chris benar. Ini kado untuk Jo. Itu bagian pentingnya.

“Kau tadi bilang kau tidak punya banyak waktu, tetapi aku rasa kau itu punya banyak sekali waktu,” ujar Chris tiba-tiba.

Keningku bergumal-gumal bingung. “Aku tidak mengerti.”

“Kau masih menunggu sesuatu yang belum tentu. Bukankah itu karena kau punya banyak waktu?”

Ah, sekarang aku mengerti.

“Kau tidak mengerti, Chris.”

Raut wajah Chris berubah serius. “Bagian mana yang tidak aku mengerti?”

Aku mengembuskan napas. Panjang dan perlahan-lahan. “Aku mencintainya,” sahutku saru.

“Dia mencintaimu?”

Sejenak itu aku terdiam. Pertanyaan itu berputar-putar di kepala dan aku tidak mampu meredam. Aku karam dan terus bungkam.

Melihat aku bungkam, Chris langsung menyerang. “Nah, sudah jelas, kan? Kau sedang membuang-buang waktu untuk sesuatu yang tidak tentu,” simpulnya sendiri. Ia lalu merengkuh sepasang mataku dan dengan suara lembut ia bertanya, “apa kau tidak letih?”

Aku bangkit dan berjalan ke arah jendela. “Aku letih,” jawabku tidak membohongi. “Hanya saja aku tidak tahu cara untuk berhenti.”

Aku berputar menghadap jendela dan mataku menerawang jauh menyusupi mega abu-abu. “Dia itu abu- abu yang sedang aku coba mengerti.”

“Mai…”

Aku menoleh dengan ragu. “Chris, jangan dibahas lagi, ya. Aku mohon,” ucapku lelah.

Chris menghela napas dan tersenyum maklum. Ia berjalan mendekatiku dan membelai kepalaku. “Saat kau sudah terlampau letih karena menanti, berjanjilah untuk berhenti. Ada tempat lain untukmu menepi. Ada teduh lain yang sanggup menaungi.” Kelembutan itu kembali terdengar. Chris sungguh menyayangiku. Aku tahu.

Aku hanya tersenyum muram tanpa mengucapkan janji apa pun. “Tidak ada yang seperti dia.”

Jemariku menyentuh kaca jendela, lalu bergerak melukis di sana. Ia tepian pertama yang aku temukan. Ia teduh pertama yang membuatku nyaman.

“Tidak akan ada.”

***

Di ruang rapat redaksi majalah sekolah, aku memberikan kado ulang tahun untuk Jo. Aku baru sempat memberinya sekarang karena sepanjang pagi tadi, ia terus bersama Sam. Mereka sudah seperti raga dan bayangan saja. Banyak yang bilang begitu.

Jo tersenyum semringah saat menerima kado dariku. Aku senang melihatnya. “Terima kasih,” ucapnya dengan nada girang. “Aku seperti anak kecil saja diberi kado seperti ini. Akan tetapi, tidak apa-apa. Aku jadi merasa muda beberapa tahun,” sambungnya, lalu tertawa. Aku menikmatinya.

“Boleh aku buka?” tanyanya. Aku mengangguk saja. Aku kemudian melihatnya merobek kertas kado dengan hati-hati. Ia terkekeh begitu melihat apa yang aku hadiahkan untuknya.

Binder?” Ia mengangkat alisnya sebelah.

Aku mengangguk. “Aku perhatikan binder-mu sudah penuh,” jelasku, “jadi, aku rasa kau butuh yang baru.”

Ia terkekeh lagi. Tanpa aku duga-duga, ia mengulurkan tangannya mengusap kepalaku pelan-pelan. “Pintar. Tahu saja apa yang aku butuhkan,” ujarnya.

Duduk di dekat Jo dan mendapat perlakuan seperti ini rasanya bahagia sekali. Rasanya belum pernah aku sedekat ini dengan Jo. Lalu tiba-tiba jejak bahagia itu meninggalkan lidahku saat ia menarik tangannya dengan cepat. Ia lalu berdiri dan menjauh sedikit.

“Kenapa?” tanyaku ngilu.

“Maaf,” gumamnya menyesal.

“Maaf? Kenapa minta maaf. Tidak ada yang salah.”

Jo menggeleng. “Ini salah,” ia bersuara samar-samar.

“Apanya yang salah?” aku bertanya tidak mengerti.

“Ini salah,” ia mengulangi. “Tidak seharusnya aku begitu tadi,” imbuhnya kemudian. Saat ia hendak berlalu pergi, aku bangkit dan menyambar tangannya untuk menahannya.

“Jo…” aku bergumam rapuh. Jeda sejenak, lalu, “aku mencintaimu.” Aku mengatakannya. Akhirnya aku mengatakannya. Seharusnya aku lega, namun tidak. Aku justru takut. Takut setelah ini, semuanya tidak akan seperti dulu lagi.

“Tidak bisa, Mai. Tidak bisa,” rancaunya tidak jelas arah.

“Apanya yang tidak bisa? Ini mudah saja, Jo.”

“Jangan paksa aku. Aku ingin menjaganya utuh-utuh.”

“Apa yang ingin kaujaga?” tanyaku parau.

Ia diam sebentar, kemudian, “persahabatan,” sahutnya.

“Jo…”

Jo menyentakkan tangannya, ringan, namun cukup untuk membuat genggamanku di tangannya terurai lepas. “Maaf.” Hanya satu kata itu, dan ia pergi.

Tanganku terkulai ringkih. Aku menangisi kepergiannya bersama separuh hati yang perlahan-lahan mati.

Pria itulah sang angin. Yang membawaku terbang saat ia datang. Yang membuatku jatuh terpuruk saat ia berlalu.

Sakit.

Terlampau.

***

Tidak banyak yang masih berkeliaran di area sekolah setelah kegiatan belajar-mengajar berakhir. Sialnya, Chris termasuk salah satunya. Entah bagaimana ceritanya sampai ia bisa terdampar di dekat pintu masuk toilet wanita dan mendapati aku keluar dengan bekas air mata di wajah. Terang saja ia segera memburuku dengan pertanyaan, namun aku bergeming enggan menjawab.

“Ini ulah Jo?” tanyanya menduga-duga.

Mendengar nama itu disebut, air mataku kembali menetes di luar kendali. Chris menggeram kecil dan segera berlalu pergi.

Aku tahu itu bukan pertanda yang baik.

***

Jonathan

Chris memblokade jalan yang ingin aku lalui. Ia menatapku tidak senang, dan aku cukup pintar untuk tahu apa penyebabnya. Meski begitu aku tetap tersenyum dan bertanya, “ada apa?”

Tahu-tahu sebuah pukulan keras menghantam pipiku. Aku nyaris tersungkur. Kusentuh sudut bibirku dan meringis. Sakit.

“Apa yang kaulakukan terhadap Mai? Kenapa dia menangis?” tanyanya galak.

Aku tersenyum dan mengelak dari pertanyaannya. Aku menunduk kemudian berjalan melewatinya dengan santai. Tidak ada niat untuk membalas. Aku memang salah dan aku pantas mendapatkannya.

Ketika aku mengangkat wajah, aku mendapati Jean menatapku dengan ekspresi terkejut. Aku melemparkan senyum untuknya, dan sama seperti yang aku lakukan terhadap Chris, aku berjalan melewatinya.

***

“Bibirmu kenapa?” Pertanyaan itu menyapa telingaku sesegera setelah aku mengempaskan tubuh ke jok depan. Aku mematut wajahku di depan kaca spion tengah dan baru sadar kalau sudut bibirku memar.

“Terbentur pintu toilet,” aku berbohong.

Sam menatapku, kelihatan tidak yakin. Aku sudah menyiapkan diri untuk ditanya-tanya lagi, namun ternyata tidak perlu karena Sam lalu mengalihkan tatapannya ke luar jendela mobil yang kacanya belum dinaikkan. Saat ia bermaksud menaikkannya, Jean lewat di samping mobil bersama temannya.

Lalu satu kalimat yang keluar dari mulut Jean membuat semuanya menjadi keruh.

“Iya. Aku lihat sendiri Chris memukul Jo. Entah kenapa.”

Sam memutar kepalanya ke arahku dengan cepat. Ia menatapku dengan tajam. Aku kehilangan kata dan hanya menunduk. Melihat itu, Sam mendesah keras-keras. Ia keluar dari mobil dan membanting pintu tidak peduli.

Aku mendesah saat membayangkan apa yang akan Sam lakukan.

***

“Dasar bodoh! Untuk apa kau berkelahi dengannya,” gerutuku dengan dingin.

Sam tidak terima. Sambil mengompres memar di wajahnya, ia berseru, “kau yang bodoh! Kenapa terima saja dihajar begitu.”

“Aku mengandalkan otak. Tidak sepertimu yang hanya mengandalkan otot!”

“Kau sadar kalau aku baru saja membelamu?” tanya Sam kesal.

“Aku tidak minta untuk dibela,” balasku ketus.

“Dasar tidak tahu terima kasih,” umpat Sam. Aku menyadari kedataran nada suaranya. Itu artinya ia marah.

“Jangan berkelahi lagi demi aku,” larangku. Aku marah karena ia tidak mengacuhkanku. “Kau dengar, Sam? Jangan lagi!” Nada suaraku meninggi.

“Kau ini kenapa?” Sam bertanya dengan nada suara yang tidak kalah tinggi. “Aku membelamu!”

“Aku tidak minta untuk dibela!” jawabku berang.

Sam mengamuk. Ia menampar baskom berisi air dingin di dekatnya sampai terbang jauh dan jatuh. Ia melangkah keluar kamar dan membanting pintu dengan kasar.

Aku jatuh terduduk ke atas lantai. Kutekan pelipisku kuat-kuat.

Aku tidak pantas untuk dibela, Sam.

***

Sisa siang itu kami habiskan dengan saling mendiamkan. Setiap kali bertemu di dapur, di ruang keluarga atau di mana saja, kami saling membuang muka dengan langkah yang saling menjauh, seperti berharap tidak akan lagi bertemu.

Aku mencoba bertahan, namun tidak bisa. Akhirnya, setelah malam menguasai hari, aku memutuskan untuk melangkah ke kamarnya, menemuinya.

Tiba di kamarnya, aku disambut dengan penerangan yang remang-remang. Lampu utama sudah dipadamkan. Hanya lampu kecil di dekat tempat tidur yang menyala lemah. Aku mendekati ranjang Sam dan duduk di tepi. Di atas ranjang itu, Sam berbaring memunggungiku. Ia terlihat seperti sudah tidur, tetapi aku tahu ia belum.

“Sam…” aku memanggilnya dan tidak mendapat sahutan. “Sam…” aku memanggilnya lagi dan hasilnya tetap sama. Aku mendesah. “Maaf,” gumamku akhirnya.

Kemudian aku hanya duduk dengan sorot mata yang meredup. Entah berapa lama aku duduk di sana. Saat sorot mataku terang kembali, aku sadar kalau Sam sudah benar-benar tertidur. Ketika aku ingin beranjak pergi, mataku tertumbuk pada bingkai foto di sebuah meja kecil. Foto kami berdua. Aku dan Sam. Aku tersenyum kecil memandanginya.

Aku beranjak dan mulai menarik langkah mendekati pintu. Aku berbalik untuk melihat Sam sejenak. Aku akan menjaganya utuh-utuh. Aku mengangguk berjanji, lalu menutup pintu.

Tidak ada celah yang perlu diisi. Cukup seperti ini.

Advertisements

One thought on “Sometimes (Tujuh)

  1. Senang rasanya membaca part ini 🙂
    Siang tadi aku membaca ulang ‘Lima’ dan ‘Enam’ dan menemukan sesuatu yang luput dari pengamatanku kemarin. Aku berpikir ulang dan part ini rasanya membuat beberapa hal tampak jelas.
    Ini apakah masih panjang? Berharap selalu bisa membaca karyamu :).

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s