Sometimes (Enam)

Sometimes
Terkadang cinta harus menunggu…

Enam

Samuel

 

Aku duduk di bangku di sudut kanan ruang kelas sendirian. Teman sebangku sudah melesat keluar, entah ke mana. Sebagian besar teman yang lain juga begitu sesaat setelah bel penanda waktu istirahat berteriak. Aku sendiri—tidak biasanya—memilih untuk tetap tinggal di kelas dan mengabaikan ajakkan bermain basket. Saat ini aku hanya ingin tetap diam di sudut sambil mengamati Jo yang duduk di barisan depan.

Ada yang salah dengannya. Ya, pasti ada yang salah. Hanya saja aku masih harus meraba-raba untuk mencari tahu apa yang salah.

Jo berbeda hari ini. Ia tidak menyambangi kamarku pagi ini padahal biasanya ia akan begitu dan merecokiku dengan pertanyaan ‘Sam, kau tahu sudah pukul berapa?’. Ia juga tidak duduk di meja makan untuk sarapan padahal biasanya ia yang paling cerewet tentang pentingnya sarapan. Dan untuk pertama kalinya dalam sejarah, ia tidak bisa mengerjakan soal Fisika yang bahkan bisa dikerjakan oleh aku yang begini.

Aku bertanya-tanya. Apa yang mengganggunya? Ia terlihat seperti bapak-bapak yang pusing bagaimana menafkahi keluarganya. Akan tetapi, Jo, kan tidak punya anak-istri. Jadi, ia tidak perlu pusing-pusing memikirkan tentang memberi nafkah. Emm… apa mungkin ia sedang memikirkan tentang Ujian Akhir Semester? Akan tetapi yang benar saja. Ujian saja baru akan dilaksanakan tiga bulan lagi. Meskipun Jo itu tipe manusia yang berpikiran jauh ke depan, aku yakin ia tidak sebegitu kurang kerjaannya sampai-sampai memikirkan ujian itu dari sekarang.

Apa yang mengganggumu, Jo?

Aku mendesah pelan. Sepertinya aku harus meluangkan waktu untuk bertanya kepadanya nanti. Atau jika ia tidak mau bercerita, aku bisa menghiburnya. Melihat sahabat sendiri menjadi ‘orang lain’ rasanya tidak menyenangkan.

Aku melihatnya mengeluarkan ponsel dari saku. Ia terlihat sibuk dengan ponselnya, namun aku tahu itu hanya pengalihan. Mungkin hanya aku yang tahu.

“Astaga, Jo. Sampai kapan kau setia menggunakan ponselmu itu?” Steve yang bertanya. Ia tidak bermaksud merendahkan. Siapa pun tahu ia hanya bercanda.

Jo hanya tersenyum tipis dan tidak bersuara, satu laku yang sering aku lihat sewaktu aku meledek ponsel keluaran lama yang ia pakai.

“Sobat, ini sudah tanggal 20 September 2011. Sudah waktunya ponselmu itu beristirahat di museum,” Steve bercanda lagi.

Jo melemparkan satu buku, namun tidak mengenai Steve. Steve terpingkal-pingkal. Jo tampak sebal kepadanya, namun aku malah berterima kasih kepada Steve. Steve baru saja mengatakan sesuatu yang memberiku ide untuk menghibur Jo.

Aku bangkit dari bangku dan berjalan mendekati Jo. Jo memasukkan ponselnya kembali ke saku, lalu meremas-remas tangannya sembunyi-sembunyi. Selalu begitu saat ia sedang gelisah.

Jo, sebenarnya apa yang membuatmu gelisah seperti ini?

 

***

 

“Jo, kaupulang sendiri, ya. Aku ada urusan,” kataku kepada Jo yang berjalan di sampingku. Ketika aku menoleh ke arahnya, aku mendapatinya berjalan dengan setengah sadar. Raga dan jiwanya sama-sama melangkah, namun ke dua kutub yang berbeda. Menunggu sampai gajah bisa melompat pun ia tidak akan menanggapi perkataanku barusan.

Aku merangkulnya tiba-tiba untuk membuatnya sadar. Tentu saja berhasil. Ia sadar dan buru-buru menyingkirkan tanganku dari pundaknya. Ia paling tidak suka dirangkul. Aku tahu itu, namun aku keras kepala. Aku malah mengeratkan rangkulanku.

“Kaupulang sendiri, ya. Aku ada urusan,” aku mengulangi.

Ia mengangguk sambil tetap berupaya meloloskan diri dari rangkulanku.

Aku menguraikan rangkulan karena kasihan kepadanya yang terus memberontak. Kuserahkan kunci mobil kepadanya.

“Tidak perlu. Aku naik bus kota saja,” katanya menolak.

“Sesekali jadilah anak penurut,” kataku, tidak ingin dibantah lagi.

 

***

 

“Yang ini saja,” putusku setelah berpikir-pikir di antara banyak pilihan. “Ini.” Aku lalu mengangsurkan kartu kredit kepada pria setengah baya di belakang counter. Ia menerimanya dan tersenyum.

Sambil menunggu, aku melihat-lihat etalase di sampingku. Beberapa ponsel keluaran terbaru terpajang di sana. Salah satunya adalah yang baru saja aku beli. Aku terus melihat-lihat sampai sebuah suara memaksaku menoleh.

“Sam…”

 

***

 

Vesselia

 

Aku berjalan-jalan di salah satu pusat perbelanjaan terbesar di kota dengan menjinjing kantong belanjaan. Mataku merangkak ke mana-mana. Ke etalase toko pakaian, ke dapur sebuah kafe yang tidak biasanya ada di depan, dan berhenti saat merangkak ke sosok pria yang berada di sebuah toko ponsel.

Aku berjalan dengan cepat menghampiri pria itu. Ia terlihat sibuk mengamati ponsel-ponsel yang dipajang di balik etalase. Ia baru menoleh saat aku memanggilnya.

“Sam…”

“Ve…” Ia balas memanggilku dengan nada terkejut.

“Sedang apa di sini?” tanyaku.

“Makan siang,” jawabnya seenaknya.

Aku mendengus. “Tidak lucu.”

Sam terkekeh. “Membeli ponsel,” ujarnya kemudian. Meski tidak aku tanyakan, ia tetap memberitahu, “untuk Jo. Besok, kan hari ulang tahunnya.”

Sam memutar kepalanya ketika pria paruh baya—yang sepertinya adalah pemilik toko—memanggilnya dan menyerahkan kartu kredit, selembar kertas panjang dan sebuah pulpen. Sam lalu membubuhkan tanda tangan di atas kertas panjang itu dan menyambar kartu kredit. Pria paruh baya itu mengangsurkan sebuah paper bag dan mengucapkan terima kasih. Sam hanya mengangguk kecil.

“Omong-omong, kau sudah menyiapkan kado untuk Jo?” ia bertanya.

Aku mengangkat kantong belanjaanku ke hadapannya sebagai jawaban. Sam mengangguk mengerti.

“Mau menemaniku memesan kue ulang tahun?” tawarnya.

Aku berpikir-pikir kemudian mengangkat bahu. “Boleh,” kataku. “Aku tahu toko kue yang bagus di sekitar sini.”

Aku dan Sam lalu berjalan berdampingan.

“Tidak apa-apa, kan kita naik taksi?” tanya Sam tiba-tiba.

“Kita?” aku menoleh dan mengangkat sebelah alis. Ia mengangguk lugu. “Kau sendiri saja. Aku dengan supirku.”

Sam meringis. “Sial.”

“Kue ulang tahun dan ponsel. Hadiah ulang tahun yang wow,” aku berkomentar untuk mengisi keheningan.

“Pantas untuk sahabat sebaik Jo,” balas Sam.

Aku tercenung, lalu tersenyum kecut tanpa ia tahu.

Sam, kau belum memahami Jo. Kau sungguh belum memahaminya. Andai sudah, aku ragu kau akan tetap menganggapnya sahabat. Sama ragunya dengan apakah pelangi akan datang setiap habis hujan?

“Sam, pernah menghadapi situasi di mana semuanya tidak seperti yang kaupikirkan?”

 

***

 

Jonathan

 

Aku memaksa membuka mata. Kemarin aku nyaris tidak tidur semalaman. Malam ini setelah aku bersusah payah untuk bisa tidur, justru ada yang mengganggu. Aku menatap ponselku yang tengah berdering dengan sebal yang separuh-separuh karena belum sadar penuh.

Tanpa mengintip ke layar ponsel, aku menekan tombol hijau dan menempelkan benda mungil itu ke telinga. “Halo,” sapaku dengan suara yang sedikit serak.

“Turun ke bawah. Sekarang.”

Mendengar suara itu, mengetahui siapa pemiliknya, kawanan gelisah yang sempat terlelap bersama gelap seketika bangun dan mengganggu.

“Sam…” Saat ini, hanya itu yang mampu aku suarakan.

“Turun ke bawah. Aku menunggu,” ia mengulangi perkataannya, lalu memutuskan sambungan telepon.

Aku menurunkan ponselku dan melirik jam dinding. Hampir tengah malam. Ada apa ini?

Aku sampai di bawah dengan kesadaran yang sudah pulang seluruhnya. Aku mengedarkan pandang. Tidak terlalu yakin memang, namun aku tetap melangkah ke arah meja makan karena hanya sudut itu yang masih terang-benderang. Dan aku mendapati Sam duduk di sana dengan kue dan lilin menyala di atasnya.

“Lama sekali,” omelnya. “Lilinnya hampir meleleh seluruhnya.”

Aku mengucek-ucek mata walau pandanganku sudah jelas. Bingung sendiri. “Ada apa ini?”

Sam tersenyum lepas, lalu, “selamat ulang tahun, Jo,” katanya ceria.

“Ulang tahun?” tanyaku ragu-ragu. Kepalaku serasa dipenuhi debu dan sarang laba-laba. Lambat bekerja.

Sam berdecak. Ia mengangkat tangannya tinggi-tinggi dan memberikan gestur supaya aku mendekat. “Cepat ke mari. Menunggumu berpikir bisa-bisa nanti aku makan kue bercampur parafin.”

Aku menurut sambil berusaha mengerti. Di tengah perjalanan, aku akhirnya mengerti. Hari ulang tahunku rupanya. Sam ingat.

“Ayo cepat make a wish, lalu tiup lilinnya, lalu potong kuenya, lalu bagikan kepadaku. Aku sudah lapar,” cerocosnya tanpa jeda sesaat setelah aku duduk berhadapan dengannya.

“Singkatnya, ayo bagikan kuenya,” aku menimpali.

Sam terkekeh. “Ayo.”

Aku memejamkan mata, lalu berdoa. Kembali kuusik Tuhan dengan nama yang sama, dengan harapan yang sama. Kubuka mata dan kutiup nyala lilin di depanku.

Tiba-tiba Sam menepuk dahinya. “Ah, aku baru ingat kalau kita belum menyanyikan lagu Selamat Ulang Tahun.”

Aku mengibas-ngibaskan tanganku tidak peduli. “Tidak penting,” kataku. Aku meraih pisau di samping kue, memotong-motong kue dan membagikan sepotong untuk Sam yang kelihatannya memang lapar. Sam menerimanya dan mulai melahapnya dengan rakus. Aku sendiri melahap bagianku.

Di suatu detik, Sam berhenti melahap jatah kuenya. Ia menyambar sebuah paper bag di kursi sebelah dan menyerahkannya kepadaku. “Untukmu.”

Aku menerimanya. Tangan kananku menyusup ke dalamnya dan mengangkat sebuah kotak keluar. Aku terpukau begitu melihat rupa kotak smartphone Blackberry Torch.

“Sam…”

“Eits…” Ia mengangkat tangannya tepat ke depan wajahku. “Terima saja dan jangan coba-coba menolak,” selanya cepat-cepat.

Aku menatapnya jail. “Siapa yang ingin menolak? Aku hanya ingin bilang ‘Sam, terima kasih’.”

Sam tampak tersentak, tidak menyangka ia salah. Akan tetapi, kemudian ia tertawa.

“Apa wish-mu barusan?” tanyanya tiba-tiba.

“Tidak akan kuberitahu.”

Sam mengangkat kedua bahunya. “Ya, apa pun itu, aku akan mengaminkannya untukmu.”

Aku meletakkan sendok, mendadak kehilangan nafsu. Diam-diam aku tersenyum dan mendesah.

Sam, kau tidak mengerti.

Dan tahu-tahu kegelisahan itu datang kembali…

Advertisements

3 thoughts on “Sometimes (Enam)

  1. Sungguh menyebalkan… apa yang sedang kaulakukan? Aku seperti digiring ke suatu titik yang tidak mau kutuju.
    Kau membuat pertanyaan besar itu tetap menggantung… menyebalkan sekali, tapi itu bagus :).
    Kutunggu ‘Tujuh’.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s