Sometimes (Lima)

Sometimes
Terkadang cinta harus menunggu…

Lima

Vesselia

Aku bangkit dari kursi begitu bel penanda waktu istirahat berakhir berbunyi. Diawali dengan satu desahan singkat, aku berjalan menuju salah satu rak buku. Kuletakkan buku-buku yang sempat menemaniku kembali ke tempatnya. Sempat-sempatnya aku meneliti jajaran buku di hadapanku sebentar. Yang bersampul cokelat kusam itu kelihatan menarik. Yang merah tua di sebelahnya juga. Ah, aku harus menyempatkan diri datang ke mari lagi nanti. Aku mengangguk mantap, lalu melangkah menjauh sambil berusaha mengenali rak buku yang satu itu.

Aku berhenti melangkah untuk mengelap kacamataku dengan ujung kemeja sekolah. Iseng-iseng aku mengedarkan pandang. Mataku menyipit otomatis saat melihat sebuah siluet. Rasa-rasanya aku mengenalinya. Itu… Jo? Untuk memastikannya, aku cepat-cepat mengenakan kacamataku kembali. Setelahnya aku tahu kalau pemilik siluet itu benar adalah Jo. Ia tidak menyadari keberadaanku sementara aku tidak berniat menyadarkannya.

Dari kejauhan aku memperhatikannya. Ia milik mataku seutuhnya.

Di dalam mataku ia bergerak. Kursi ia tinggalkan dan sebuah buku ia bawa. Tubuhnya membentur tubuh lain di dekat pintu. Ia terhuyung dan bukunya nyaris terjatuh. Lalu sesuatu melayang turun dari bukunya tanpa ia sadari. Ia menyusup ke luar dari mataku, meninggalkan sesuatu itu sendirian di lantai yang membatu.

Aku menghampiri dan memungut. Hanya selembar foto. Aku kira begitu sampai aku membalik foto itu. Setelah membaca sederet kalimat yang tertulis rapi di sana, aku tahu ini bukan hanya.

Aku terhenyak.

Napasku kebingungan. Hilang arah.

***

          Aku sempat berharap bisa memahaminya. Menyingkirkan belukar lantas menerangi jalan pikirannya yang samar-samar. Aku ingin tahu ke sudut mana setiap jalan akan membawaku. Aku ingin mendengar apa yang ia gumamkan sepanjang waktu.

Segala tentang dirinya, aku ingin mengetahuinya.

Lalu ketika samar itu terbilas jadi jernih, yang aku lihat hanya perih. Ketika kubiarkan jalan menuntun, yang kutemui hanya jurang di setiap tepi. Dan ketika aku mencoba dengan sabar, yang aku dengar adalah semua yang tidak ingin kudengar.

Aku berhasil menyusup masuk ke ruang gelap yang ia tempati sendiri, namun setelahnya aku justru pergi dengan tertatih-tatih.

Apa ia tidak boleh dimengerti? Tidak harus dimengerti?

Aku memandang Jo yang duduk memunggungiku di depan. Aku bernapas dengan linglung.

Jo…

***

Jonathan

“Kau tahu, aku bahagia sekali hari ini.”

Aku mendengar Sam bersuara di balik kamar mandi, sedikit berteriak karena harus bertempur dengan suara gemericik air. Aku lalu mendengus pelan sambil membuka halaman demi halaman buku di depan mata tanpa minat nyata.

“Siapa pun akan tahu jika kau berulang kali memberitahu,” kataku, juga sedikit berteriak.

“Memangnya sudah berulang kali aku memberitahumu?” tanyanya, entah memang bodoh atau berlagak bodoh. Kurasa yang pertama.

“Perlu aku menghitung untukmu?” tanyaku dengan nada malas.

Sam tidak membalas, namun tiba-tiba ia berteriak keras-keras. Aku terlonjak bangun, menutup buku dengan kasar dan segera berlari ke arah kamar mandi.

“Ada apa, Sam?” tanyaku di depan pintu.

Sedetik kemudian, aku melihat Sam melongokkan kepalanya ke luar. Ia tersenyum salah tingkah dan barisan gigi putih mengintip dengan jenaka.

“Apa?”

Sam makin salah tingkah. “Ada kecoa,” beritahunya dengan setengah berbisik. Nada suaranya sungguh menggelitik, membuatku ingin terkikik. Aku mencoba menahannya, namun suara tawaku tetap saja meluber ke luar mulut.

Sam memukul kepalaku. “Jangan tertawa,” larangnya.

“Bagaimana mungkin aku tidak tertawa?” aku bertanya dengan sisa-sisa tawa yang bergelantungan di mana-mana. “Berapa umurmu? Berat badanmu? Tinggimu? Takut dengan kecoa? Astaga, kau ini…”

Sam memukul kepalaku lagi. “Aku tidak takut,” ralatnya tidak terima. “Hanya jijik.”

Aku menatapnya, lalu tertawa tanpa suara. Saat ia akan memukul kepalaku lagi, aku segera menghindar. Sam, pengalaman itu mengajar. “Sudah,” aku menyerah, “biar aku tangkap kecoanya.”

Sam mengangguk riang. “Seharusnya memang begitu.”

Aku mendengus. “Kau mau menunggu sampai kecoanya beranak-cucu?”

“Apa?” Sam bingung.

“Kurang jelas?” tanyaku gemas. “Cepat keluar. Biar aku tangkap kecoa itu.”

“Kenapa aku harus keluar? Kau bisa masuk. Aku tidak keberatan. Kita, kan sama-sama laki-laki,” ucapnya enteng.

“Justru karena kau laki-laki maka aku menyuruhmu keluar. Aku sungguh tidak berminat melihat ‘pemandangan’ yang aku miliki sendiri,” tuturku datar.

Sam meringis. Sesaat kemudian ia telah keluar dari kamar mandi dengan handuk yang dililitkan asal-asalan di bagian pinggang. Aku lalu masuk dan mencari-cari kecoa itu.

“Ada di mana?” tanyaku sambil terus memasang mata.

“Itu… Di dekat bathtub.”

“Takut dengan kecoa? Kau benar-benar payah,” ejekku. Aku menoleh ke belakang dan melihat Sam mencibir.

“Sudah, tangkap saja kecoanya. Jangan banyak bicara.”

Beberapa detik kemudian, kecoa yang dimaksudkan oleh Sam berhasil kutangkap. Aku melangkah keluar dari kamar mandi dengan seringaian panjang di bibir.

Sam berjingkat mundur pelan-pelan. “Jangan coba-coba,” ia memeringatkanku. Sam tahu arti seringaianku.

Seringaianku bertambah panjang. Kudekati Sam, kemudian melakukan gerakan seolah-olah aku melemparkan kecoa itu kepadanya. Ia mundur tergesa-gesa sampai kakinya tersandung kaki ranjang.

Ia terjungkal dan…

Demi Tuhan! Lilitan handuknya terurai.

Aku bengong di tempat. Ini-sungguh-tidak-lucu!

***

          Kalut melumat setiap bagian tubuhku. Mataku menyalak, menghantam ke mana-mana. Ke setiap sudut yang terhantam aku menghampiri. Dengan rakus aku mencari. Tidak kutemui. Aku menggali-gali, namun nihil.

Aku berbalik dan mataku mengambil alih.

Demi Tuhan! Ada di mana?

Lemari pakaian. Apa di sana? Aku berlari, lalu berhenti dan mengobrak-abrik. Aku tidak lagi peduli. Tidak pada pakaian yang kucampak silih-berganti. Tidak pula pada sayat-sayat halus di jemari. Aku harus mencari.

Aku bernapas kebingungan. Tidak ada! Tidak ada! Aku mengacak-acak rambut frustasi. Seperti singa yang kelaparan, aku menerkam setiap sudut yang ada di sekitar. Meja, laci, ranjang, kolong-kolong… setiap sudut yang tampak oleh mata.

Masih tidak ada!

Aku memutar kepala dengan cepat. Rak buku. Rak buku! Aku segera menerjang. Kuraih satu buku, menyingkap halamannya dengan cepat, lalu melemparkannya karena tidak ada. Kuraih buku lain, menyingkap halamannya dan melemparkannya karena tidak ada juga. Begitu seterusnya sampai tidak tersisa satu pun buku di rak.

Ketika tahu semua sudut telah terjamah, aku terpaksa menyerah, meluruh lemah di sana. Tidak ada ketenangan yang tersisa. Ketakutan merajamku dari segala arah.

Hilang!

Sesuatu itu hilang!

Advertisements

One thought on “Sometimes (Lima)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s