Sometimes (Empat)

 Sometimes
Terkadang cinta harus menunggu…

Empat

Jonathan

Aku bernapas lega saat aku menemukannya sedang duduk di salah satu bangku taman sekolah sendirian. Ia sedikit menunduk dan rambutnya yang panjang menutupi sebagian wajahnya, sesekali berkecamuk ringan saat angin lewat. Ia terlihat sibuk dengan buku dan pensilnya.

Dengan dua kotak teh melati dingin di tanganku, aku kemudian berjalan mendekatinya. Saat salah satu kenalanku dari kelas sebelah menyapaku, aku tersenyum dan mengangkat tangan tinggi-tinggi untuk membalasnya. Kenalanku itu mengucapkan sesuatu dari kejauhan. Entah apa yang ia ucapkan, namun aku mengangguk saja. Lalu ia tersenyum.

Aku sampai di dekat Mai. Dengan gerakan diam-diam aku menyentuh tangannya dengan salah satu kotak teh. Ia terlonjak kecil karena dingin, memutar kepalanya ke arahku, lalu tertawa singkat. Aku ikut tertawa dan duduk di sampingnya.

“Ini,” kataku sambil mengangsurkan salah satu kotak teh kepadanya.

Ia buru-buru meletakkan buku dan pensilnya ke ruang yang masih kosong di atas bangku. Ia kemudian menerima kotak teh dan tersenyum. “Terima kasih. Tahu saja kalau aku sedang haus.”

Aku mengangkat kedua bahuku dan memiringkan kepalaku sedikit. Aku menancapkan penyedot ke dalam kotak teh milikku, lalu menyedot isinya ke dalam mulut. Segar. “Di tengah cuaca sepanas ini, aku justru heran kalau ada yang tidak haus.”

Ia terkikik, lalu mengangguk-angguk. Ia meminum tehnya dan mendesah panjang—puas.

“Sedang apa?” tanyaku basa-basi.

Ia mengangkat buku bersampul warna biru lembut dan pensil mekaniknya. “Sedang menulis,” sahutnya. “Untuk kolom majalah sekolah.”

Aku mengangguk mengerti. “Menulis apa?”

“Puisi, cerpen… apa saja yang bisa aku tulis.”

Aku mengangkat alis. “Tentang?”

Ia mengangkat bahunya dengan lesu. “Entahlah. Belum ada inspirasi,” sahutnya lesu.

Aku tersenyum kecil. “Ingat? Inspirasi tidak perlu dicari…”

***

Magentha

“Ingat? Inspirasi tidak perlu dicari…”

“Karena inspirasi ada di sekitar kita. Kita hanya perlu lebih peka dan  merasakannya. Iya, kan?” aku menyela.

Jo tertawa mendengarnya. Ia menyentuh pipiku dengan kotak tehnya. Dingin. “Anak pintar…”

Aku menyentuh pipiku dan tertawa juga.

Pertama kali aku bertemu dengan Jo adalah saat aku mengikuti suatu lomba menulis fiksi dua tahun yang lalu. Aku menghadiri acara pengumuman pemenangnya dan Jo juga ada di sana. Kami sempat bertemu mata, namun tidak sempat berkenalan.

Aku percaya tidak ada yang namanya kebetulan di dunia ini. Semua yang kita anggap kebetulan sebenarnya adalah sesuatu yang memang telah diatur. Hanya saja kita tidak pernah menyangka. Begitulah saat aku bertemu lagi dengannya di hari pertama MOS—juga—dua tahun yang lalu. Aku tidak menyangka, tetapi aku tahu ini telah Tuhan atur, termasuk saat kami sama-sama dihukum berlari keliling lapangan.

Di sela-sela hukuman itu, kami menyempatkan diri untuk berkenalan. Sambil berlari, kami lalu membicarakan hal-hal yang ringan dan tertawa-tawa sendiri. Dan semuanya tidak lagi terasa sebagai hukuman.

Berbicara tentang bahagia, aku selalu mengartikannya sebagai saat-saat di mana aku selalu bersyukur. Ya, seperti sekarang. Aku bersyukur Jo ada di sampingku. Aku bersyukur kita bisa berbincang-bincang. Aku bersyukur kita bisa tertawa bersama. Dan terlebih, aku bersyukur Tuhan menciptakannya.

Bahagia itu sederhana, bukan?

“Bagaimana kalau tentang cinta saja?” Jo bersuara.

“Cinta?” aku mengerut-ngerutkan kening, mempertimbang-kan usul Jo sebentar. “Apa tidak terlalu—ya—pasaran?” tanyaku ragu-ragu.

Jo terkekeh pelan. “Tetapi semua orang menyukainya, kan?”

Aku berpikir-pikir, lalu mengangguk setuju. “Benar juga.” Jo tersenyum. Menawan.

Kuraih buku dan pensil kemudian menuliskan sesuatu di salah satu halaman kosong, besar-besar. “Menunggu,” aku memberi tema.

Menulis itu butuh kejujuran. Dan aku tidak perlu kejujuran yang dibuat-buat untuk menulis tentang ini. Apa pun yang aku tuliskan nanti, kupastikan kejujuran hidup di sana. Di semua kata. Di setiap sela.

“Kau tahu bagaimana rasanya saat cinta mengharuskan kita menunggu?” Jo tiba-tiba bertanya. Nada suaranya melayang-layang rendah. Matanya jadi layu. Ada yang tidak aku mengerti darinya. Tentang sesuatu.

Tanpa berkata apa-apa lagi, Jo bangkit dan berjalan menjauhiku. Kusentuh bagian pipi yang sempat disentuh Jo dengan kotak teh, lantas tersenyum getir.

Air mata menetes, pilu.

Aku tahu.

***

Samuel

Pernah mengalami cinta pada pandangan pertama? Ah, mungkin lebih tepatnya suka pada pandangan pertama. Suka yang kemudian menjadi cinta. Pernah? Aku pernah. Dua tahun yang lalu. Saat aku bertemu dengan seorang gadis.

Ceritanya dimulai pada hari pertama MOS. Sewaktu istirahat, aku duduk di tengah lapangan dengan kaki yang terjulur ke depan. Saat itu aku sedang haus dan bermaksud membeli minuman. Aku menoleh melihat tasku yang ada di samping, bermaksud menyambarnya, lalu berdiri. Akan tetapi, belum apa-apa, kakiku telah diinjak oleh seseorang. Terang saja aku memekik kecil. Kuputar kepalaku dengan cepat. Sederet makian sudah menyesaki ujung mulutku, siap disemburkan kapan saja aku mau. Namun ketika aku melihat siapa yang telah menginjak kakiku, aksara-aksara yang menyusun makianku berkhianat, terbang meninggal-kanku. Aku lupa memaki. Aku lupa rasa sakit di kaki. Aku lupa berkedip.

Bagiku, keindahan terbagi dalam dua bagian. Keindahan yang bergerak dan yang tidak bergerak. Kalau pelangi, senja dan langit beserta semua warnanya termasuk keindahan yang tidak bergerak, maka gadis yang menginjak kakiku ini termasuk keindahan yang bergerak.

Kudapati gadis itu menunduk takut-takut. “Maaf, maaf. Aku tidak sengaja. Aku sedang buru-buru.” Penyesalan dilayangkan.

Aku hanya termangu di tempat. Dahaga memburuku. Kunikmati setiap teguk keindahan yang ada di depan mataku. Aku rakus. Meneguk dan terus meneguk. Tidak puas. Tidak akan puas.

Matanya indah. Hidungnya indah. Bibirnya indah.

Gadis itu indah. Satu-satunya keindahan bergerak yang aku tahu.

“Hei, maaf.”

Aku tersengat sadar. Cepat-cepat aku berdiri dan membuat gadis itu berhenti menunduk. “Tidak apa-apa,” kataku kemudian.

Raut takut-takut di wajah gadis itu perlahan-lahan memudar. Lalu saat ia tersenyum malu-malu, aku merasakan sesuatu yang belum pernah kurasakan sebelumnya seumur hidup. Seperti pertama kali menghisap rokok. Rasanya asing, namun meninggalkan candu. Aku menginginkannya. Terus dan terus. Lagi dan lagi.

“Benar tidak apa-apa?” gadis itu terdengar lega sekaligus ragu-ragu.

Aku mengangguk. Aku menyebutkan namaku dan tersenyum salah tingkah. Ia balas menyebutkan namanya.

Magentha, katanya.

Itu rangkuman aksara penyandang keindahan.

***

          “Kenapa mengetuk-ngetuk dahi seperti itu?”

Mai berhenti mengetuk-ngetuk dahinya dengan pensil dan menengadah sedikit. Mata kami saling bertaut si tengah-tengah udara. Milikku menyongsong, namun miliknya mundur dengan rapi. Selalu seperti ini.

“Menulis,” jawabnya apa adanya.

Aku memutuskan untuk duduk di sampingnya, menyisakan sedikit jarak agar ia tidak pergi. Sebab entah sejak kapan, aku merasa Mai adalah seekor burung dara yang tampak menawan di balik kulit putihnya, yang akan terbang jika aku terburu-buru mendekatinya.

“Untuk majalah sekolah?” tanyaku.

Mai mengangguk singkat dan memusatkan perhatian ke bukunya kembali. Di tengah taman sekolah yang sepi, aku ingin memiliki. Di tengah taman sekolah yang perlahan mati, ia merasa sendiri.

Aku… Apa aku tampak di matanya?

“Menulis tentang apa?”

“Tentang cinta dan menunggu,” katanya tanpa menoleh sedikit pun.

Aku mendesah tidak kentara. Kuangkat wajahku untuk memandangi langit yang luntur oleh mega-mega putih. Satu-dua ekor burung terbang di atasku.

“Menunggu…” aku bersuara, “kau tahu seperti apa letihnya menunggu? Bertanyalah kepadaku karena aku tahu. Tempatkan dirimu harus menamai semua butir pasir di bibir pantai. Tempatkan dirimu harus menyapa rinai gerimis satu-satu. Seperti itulah letihnya.” Aku berhenti bertutur saat aku menyadari Mai sedang menatapku.

Aku balas menatapnya. “Kenapa?”

“Kata-katamu barusan—“

“Ah, jangan dengarkan aku,” aku menyela dan menggaruk-garuk belakang kepalaku yang tidak gatal. “Aku memang tidak berbakat merangkai kata.”

Mai menggeleng. “Tidak,” bantahnya. “Yang tadi itu bagus. Coba ulangi lagi.”

Kemudian kami berdua asyik merangkai kata. Sebenarnya tidak persis seperti itu karena nyatanya Mai hanya mencatat semua yang aku tuturkan tanpa berusaha merangkai kata-katanya sendiri. Setelah itu, kami terlibat dalam percakapan ringan. Awalnya kami membahas tentang menunggu, lalu merambah ke mana-mana sampai topiknya jatuh pada ramal-meramal. Entah bagaimana bisa. Aku tidak peduli. Aku hanya ingin dilihat. Aku hanya ingin diajak bicara. Aku hanya ingin mendengar suaranya tanpa peduli apa yang ia katakan. Hanya bersamanya dan itu cukup.

“Coba ramal masa depanku,” mintaku sambil mengulurkan tangan ke hadapan Mai. Telapak tanganku menghadap ke langit. “Aku dengar kau sedang belajar palmistry.”
(Palmistry: seni membaca garis telapak tangan)

“Aku baru belajar sedikit,” akunya. “Bagaimana kalau salah?”

Aku terkekeh. “Salah atau benar tidak masalah. Hanya ramalan bukan?”

Mai menimbang-nimbang, lalu mengangguk bersedia. “Karena kau sudah membantuku,” ujarnya. Ia meraih tanganku dan mulai menilik garis telapak tanganku. “Garis gelangmu paralel dan jelas. Itu berarti kau akan punya kehidupan yang sejahtera dan panjang,” beritahu Mai. Ia lalu menilik lagi. “Aku lihat garis perkawinanmu melengkung ke bawah. Itu berarti kau akan berusia lebih panjang dari pasanganmu kelak.” Mai kemudian tampak berpikir-pikir. Ia menggeleng-geleng. “Tidak, tidak. Berusia lebih pendek. Eh—“ ia kebingungan sendiri, “berusia lebih panjang,” ralatnya. Mai menggeleng-geleng frustasi. “Ah, sudah kubilang, kan aku tidak—“

Tanpa sempat berpikir, aku menggenggam tangannya erat-erat. Ia berhenti menggeleng dan menatapku. Kuselami telaga matanya dalam-dalam, lalu, “apa kau melihat dirimu di masa depanku?”

Ia terdiam. Genggamanku kian erat.

Jika bisa, jika boleh, aku tidak ingin menguraikannya lagi.

***

Jonathan

Semuanya membelot. Entah apa kesalahanku. Kuperintahkan kakiku untuk berlalu, namun mereka hanya diam membatu. Kuperintahkan mataku untuk tidak melihat, namun mereka justru melahap dengan kalap.

Di tempatku berdiri, aku melihat pertautan jemari. Takluk-menaklukkan, seperti saat matahari membuat rembulan takluk untuk menyerahkan hari, membuat subuh datang kembali. Semua menganggapnya indah, namun bagiku itu adalah saat-saat di mana aku harus bangun, menarik mata dari mimpi dan melihat kenyataan yang paling kuhindari.

Di depanku semuanya terjadi.

Aku tersenyum munafik, menipu diri sendiri.

Setiap orang punya cara untuk menenangkan diri, dan aku punya caraku sendiri. Dengan sisa-sisa otoritas yang aku punya, aku memaksa kakiku untuk melangkah. Aku menuju perpustakaan dengan sebuah buku di tangan. Aku menuju ke tempat di mana aku bisa menulis dengan jujur, tanpa mengenakan topeng apa pun.

Ponselku bergetar. Kukeluarkan benda itu dari saku. Ada pesan masuk. Dari Sam.

Rangkaian katamu memang juara. Bahagia sekali rasanya. Terima kasih, Jo.

Aku menepuk dadaku berulang kali. Aku tidak apa-apa. Bukankah rasa nyeri tidak asing lagi? Aku sudah mengenali. Lama. Jauh sebelum ini.

Advertisements

2 thoughts on “Sometimes (Empat)

  1. Hai David,
    Kayaknya bakal lebih sering koment disini ketimbang di FB. Hmm..kayaknya semakin jelas dan jauh dari perkiraan (mirip A Grey Film). Tpi tetap penasaran sama satu hal di Part pertama. Semoga nanti ketemu di Part2 selanjutnya.

    rgds,
    Nurul

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s