Sometimes (Tiga)

Sometimes
Terkadang cinta harus menunggu…

Tiga

 

Jonathan

          Kekurangan tenaga yang sempat Pak Dewantara bilang rupanya membelit pengurus kolom ilmu pengetahuan dan hiburan. Lima anggota yang dulu mengurus kolom itu kini sedang mengikuti seminar di luar kota, terpilih karena kelima-limanya punya catatan prestasi yang baik di sekolah. Mereka akan kembali satu atau dua minggu lagi, namun kata Pak Dewantara itu bukan jaminan setelahnya kami akan dibebaskan dari hukuman ini. Aku pribadi tidak terlalu acuh. Mau dibebaskan atau tidak, bagiku bukan masalah yang besar. Aku tidak menganggap ini sebagai hukuman, dan kalaupun iya, ini adalah hukuman paling menyenangkan yang pernah kuterima. Aku menikmati masa hukuman ini. Sam apalagi, namun untuk alasan yang berbeda.

          Sekarang kami sedang rapat untuk menentukan apa-apa saja yang akan kami masukkan di kolom majalah. Kami tidak punya banyak waktu karena edisi ke sekian majalah sekolah akan terbit 5 hari lagi. Kami diburu deadline.

          “Masalah hiburan tentang olahraga sudah selesai.” Sam yang setuju mengurus bagian itu tersenyum. “Nah, lalu siapa yang bertanggung jawab untuk kolom hiburan tentang sastra?” tanya Mai. Setiap pengurus kolom tertentu memiliki ketua untuk mengkoordinir, dan dalam hal ini kami—beberapa saat yang lalu—sepakat menunjuk Mai sebagai ketua. Tidak ada alasan khusus. Kami memilihnya hanya karena kami merasa gadis manis itu cocok.

          Entah sejak kapan aku menjelma menjadi pusaran yang menarik. Tahu-tahu semua mata yang ada di ruangan itu tertarik ke arahku. Kuamati tatapan mereka satu-satu. Aku tahu, namun berpura-pura tidak tahu.

          “Apa?” tanyaku defensif. Mataku menyipit curiga.

          “Ayolah, Jo,” kata Sam. “Everybody knows how gorgeous your words are. Puisi, flashfiction, cerpen… kau pangeran atas mereka,” lanjutnya melebih-lebihkan, lalu menyeringai.

          Aku menatap Mai dan Ve bergantian, dan aroma persetujuan tercium dari tatapan mata mereka. Aku mendesah. Tiga lawan satu. Sejak kapan mereka memelihara budaya keroyokkan seperti ini?

          “Aku lebih tertarik dengan kolom ilmu pengetahuan. Aku punya bahan yang bagus untuk itu,” kataku kemudian, melayangkan protes dengan cara yang manis.

          Tidak seperti sepuluh-sebelas menit yang lalu saat Ve melayangan protes karena ditunjuk untuk mengurus kolom ilmu pengetahuan, kali ini Mai langsung mengangguk setuju.

          Ve mendengus di tempatnya. “Apa-apaan ini? Kau langsung setuju? Aku bahkan harus adu argumen dulu denganmu sebelum kau setuju memberiku ruang di kolom hiburan.”

          Mai terkikik. “Sudahlah, Ve. Aku rasa Jo pas untuk kolom ilmu pengetahuan,” Mai membela  diri.

          “Lalu aku tidak pas untuk kolom hiburan?” tanya Ve tidak puas.

          “Siapa sangka dengan otakmu yang encer dan tampang serius seperti itu kau lebih tertarik dengan kolom hiburan.”

          Ve mencibir. “Penilaian dari luar hanya memberi anggapan,” Ve membalas perkataan Mai dengan diplomatis.

          “Jangan kauisi kolom hiburan dengan kata-kata bijak seperti itu. Bagiku itu bukan hiburan,” Mai memperingatkan, lalu terkikik jail.

          Ve mencibir lagi. “Lanjutkan.”

          “Baiklah. Karena cuma aku yang belum mendapat bagian, kolom hiburan tentang sastra serahkan saja kepadaku,” putus Mai.

          Aku setuju saja. Yang lain juga. Mai punya jiwa sastra, kami tahu itu.

          Mai menoleh menatapku. “Kau tidak apa-apa, kan mengurus kolom ilmu pengetahuan sendirian?” tanya Mai memastikan.

          Aku mengangkat bahu. “Tidak apa-apa.”

          Dan rapat siang itu pun diakhiri dengan hasil: Sam, Mai dan Ve di kolom hiburan sementara aku di kolom ilmu pengetahuan.

***

 

Vesellia

          Aku berjalan di samping Mai. Aku menemaninya untuk menemui ketua umum redaksi majalah sekolah. Meski aku rasa sebenarnya tidak terlalu perlu, ia tetap harus melaporkan hasil rapat yang baru kami sudahi. Tadinya Sam berniat ikut menemani. Akan tetapi, setelah melewati proses yang cukup tidak penting—Sam berbaik hati menawarkan sementara Mai teguh menolak—akhirnya Sam menyerah walau terlihat jelas tidak benar-benar rela.

          “Kau tahu?” aku bertanya tiba-tiba.

          Tanpa berhenti melangkah, Mai menoleh menatapku. Alisnya terangkat sebelah. “Tahu apa?”

          “Tentang Sam.”

          “Sam?”

          “Dia menyukaimu,” kataku langsung tanpa basa-basi. Singkat. Tepat.

          Mai mengembuskan napas pendek, lalu kembali menghadap ke depan. Lorong yang kami lewati terasa mati karena kami tidak bersuara lagi. Hanya langkah kaki kami yang terdengar, seperti suara detakkan detik yang anehnya justru membuat lorong ini terasa semakin mati.

          “Aku tahu,” balas Mai akhirnya. Dan lorong ini pun bangun dari matinya.

          “Kau bagaimana?” aku bertanya.

          “Menurutmu bagaimana?” Mai balas bertanya.

          “Kau menjauh.”

          Mai mengangguk samar-samar. Ia menghela napas panjang, lalu, “aku hanya tidak ingin terkesan memberinya harapan. Aku tahu bagaimana harapan itu bisa sangat menyakitkan,” katanya dengan nada menerawang.

          Aku tahu juga. “Kenapa tidak memberi dirimu sendiri kesempatan untuk belajar menyukainya?”

          Lorong ini kian tersiksa. Setelah bangun dari matinya, kini ia dipaksa untuk mati lagi. Lama Mai diam, entah karena memikirkan sesuatu atau apa. Ia hanya terus melangkah. Napasnya melayang-layang lelah.

          Jean—Jeanita Adyhantara, ketua umum redaksi majalah sekolah sudah tergambar di depan mata. Gadis yang terkenal ramah itu melambaikan tangan kepada kami dengan senyum yang mengembang indah. Mai membalas lambaian itu. Setelah itu barulah Mai bersuara kembali.

          “Karena hatiku tidak utuh lagi,” gumamnya, lantas berlari kecil menyongsong Jean.

          Di atas bumi, aku mengerti. Senyum samar melebar dengan sendiri.

          Itu berarti hatinya telah ia beri.

          Lalu aku merasa semuanya tidak akan sama lagi.

***

Samuel

          “Aku merasa dia selalu menghindariku.” Aku melihat Jo yang duduk santai di tepi ranjangku., yang langsung kugiring ke kamarku begitu kami tiba di rumah.

          “Siapa? Roy?” tanya Jo lugu. Roy yang Jo maksud adalah teman sekelas kami. Pria itu berbadan besar dan gemuk, namun memiliki mental dan keberanian yang tidak lebih besar dari biji wijen. Ia pernah aku bentak karena berlari dan tidak sengaja menyenggol Jo. Memang itu hanya senggolan biasa bagi Roy, namun bagi Jo yang kurus, senggolan itu setara dengan sebuah dorongan yang mahakuat. Bayangkan saja ketika seekor gajah menubruk seekor kucing. Apa jadinya? Kepala Jo sampai terbentur ke sudut bingkai pintu dan berdarah karenanya. Sejak itu, Roy memang menghindariku.

          “Mungkin dia takut kaubentak lagi,” sambung Jo. Ia mengangkat bahunya dengan enteng.

          Aku berdecak. “Bukan Roy,” ralatku dengan gemas. “Mai.”

          Sesaat aku menangkap gestur aneh darinya. Entah aku salah atau tidak, namun Jo tidak sesantai tadi. Ah, mungkin ia tahu aku sedang serius, jadi ia pun ingin menanggapi dengan serius.

          “Hanya perasaanmu saja,” kata Jo.

          Aku menggeleng tegas. “Tidak,” tandasku. “Ia memang menghindariku. Memangnya kau tidak merasakannya?”

          Jo mengendikkan bahunya. “Tidak.”

          Aku meringis, lalu berjalan menuju lemari. Kusambar salah satu kaos. “Kau sungguh tidak peka.” Kutanggalkan kemeja sekolahku dan berganti mengenakan kaos.

          “Setidaknya aku cukup peka untuk mengetahui itu salah,” Jo membalas.

          Kulemparkan kemeja sekolahku ke arahnya dengan sebal. “Aku serius, Jo.”

          “Lalu aku tidak?” Jo menghela napas, tersenyum singkat, lalu, “sudahlah, Sam. Itu hanya perasaanmu saja,” ia meyakinkanku.

          Aku menelan ludah tidak yakin. “Semoga saja begitu.” Aku menyilangkan tanganku di depan dada dan menunduk. “Jo, bantu aku, ya.”

***

 

Jonathan

          “Jo, bantu aku, ya.”

          Aku mendengar suara Sam yang keruh, namun aku kelu. Aku ragu untuk menduga-duga. Biar aku menunggu dengan resah.

          “Bantu agar aku bisa dekat dengannya,” Sam melanjutkan setelah mengangkat wajahnya. Aku memandangi wajahnya, dan ia bersungguh-sungguh.

          Aku lupa bagaimana cara untuk menolak. Aku tidak tahu lagi apa itu penolakkan. Aku mendadak menjadi dungu dan patuh.

          Aku berjalan menjauhi ranjang Sam dan berdiri bersandar ke kaca jendela besar yang memisahkan kamar dengan balkon. Aku ikut menyilangkan tangan di depan dada. Napasku bertaut dengan udara dalam kebingungan. Aku lalu tersenyum. “Memangnya sudah berapa kali kauminta tolong padaku untuk mendekatkan kalian berdua?” tanyaku kalem. Tanpa menunggu reaksinya, aku melanjutkan, “dan pernahkah aku menolak?”

          Sam menyeringai senang. “Kau memang sahabat yang baik,” pujinya.

          Aku meringis, membuang pandanganku ke rak buku Sam. “Memangnya ada sahabat yang jahat?”

          “Jo…”

          Aku menatap Sam kembali. Ia masih menyeringai. “Apa?” Aku punya firasat yang tidak baik.

          “Aku tidak tahu harus mengisi kolom majalah itu dengan apa,” akunya jujur, lalu terkekeh sendiri.

          Aku tersenyum manis untuknya. Melihat itu, seringaiannya bertambah panjang. Ia pasti mengira aku akan membantunya, namun aku bergumam, “bertanggung jawablah atas apa yang sudah kausetujui. Kau itu laki-laki.”

          Seringaiannya hangus, luluh disapu angin lalu. “Memangnya ada sahabat yang jahat?” ia mengulangi pertanyaanku tadi. Ia mengangguk pasti, kemudian menjawab, “ada. Kau.”

          Dan untuk satu alasan yang tidak akan orang lain mengerti, aku begitu tertohok oleh jawaban Sam. Kualihkan pandanganku ke luar jendela dan pasrah saat lamunan menarikku menyetubuhinya. Bersama lamunan, aku padu. Di dalamnya, aku telanjang dan jujur.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s