Sometimes (Dua)

Sometimes
Terkadang cinta harus menunggu…

Dua

 

Magentha

 

          Aku menarik langkah dengan cepat menuju ke ruang rapat. Ruang rapat yang aku maksud adalah ruang yang dulunya merupakan ruang kelas XII-IPS 2 yang kemudian disulap menjadi ruang rapat khusus redaksi majalah sekolah, tentunya setelah kelas XII IPS 2 dialokasikan ke sudut lain. Mengenai kenapa ruang kelas itu dialokasikan aku pun tidak tahu pasti. Tidak penting juga untuk membahasnya, bukan?

          Aku tidak menghentikan langkahku meski sepupuku yang juga adalah kakak kelasku—Chris—menyapaku dan sepertinya memintaku untuk bergabung dengannya yang sedang duduk sendirian di taman. Aku cuma mengangguk seadanya dan terus melangkah. Saat aku hampir melewatinya, Chris segera berdiri dari duduknya dan membuka mulut. Sebelum Chris sempat melayangkan kata-katanya ke udara, aku lebih dulu menyela dengan menunjuk-nunjuk pergelangan tangan, memberikan gestur kalau aku sedang buru-buru. Chris paham. Aku melihatnya mengangguk, tersenyum, lalu duduk kembali.

          Setiba aku di ruang rapat, aku tidak melihat siapa-siapa selain Sam yang sedang duduk di pojok kanan. Ia sempat terlihat asyik dengan i-pod-nya, akan tetapi begitu melihatku melangkah masuk, ia tersenyum dan bersicepat berdiri. Ditinggalkannya i-pod-nya begitu saja di atas meja. Semua seakan tidak penting lagi baginya selain berjalan menghampiriku yang berdiri kaku di dekat pintu.

          “Mai,” ia menyapaku dengan ramah. Senyumnya belum luntur. Ia melirik jam dinding sesegera setelah langkah kakinya terhenti. “Kau terlambat,” katanya. Sam tidak memberiku detik untuk membalas sebab ia buru-buru mengimbuhkan, “namun tenang saja. Seperti yang kaulihat, Jo dan Ve belum datang. Dan tentu saja aku tidak keberatan kau terlambat. Berapa lama pun tidak masalah bagiku.” Ia terkekeh sendiri kemudian.

          Aku tersenyum basa-basi, lalu melemparkan pandangan mataku ke meja panjang yang berada tidak jauh dariku. Aku hendak melangkah ke sana dan meletakkan tasku yang lumayan berat, tetapi aku ditahan.

          “Tunggu,” Sam bersuara. Aku menoleh menatapnya dan mendapati ia mengeluarkan sapu tangannya. Sam kemudian menjulurkan tangannya, menyentuh keningku dengan sapu tangan yang kelihatan masih bersih miliknya. “Ada keringat,” Sam memberitahuku.

          Dan Sam menatap mataku dalam-dalam. Waktu pun berkhianat tidak tahu malu, tidak berhenti agar sesaat itu abadi. Tidak ada semilir angin yang masuk ke nadi. Detik-detik tidak lebih dari sekedar pucuk-pucuk daun yang meluruh diseret bumi. Hanya berlalu pergi dan tidak punya arti.

          Aku bukanlah gadis lugu yang tidak tahu apa-apa. Aku juga bukan gadis munafik yang senang berpura-pura. Aku mengenal Sam dan aku mengerti tatapan dan perhatian yang ia berikan kepadaku. Sungguh, aku mengerti. Teramat. Namun, berbicara tentang rasa, semua tatapan dan perhatiannya tawar di lidah, seperti mengecap embun basah. Biasa dan tidak istimewa.

          Aku bukan pula gadis yang suka mengumbar harapan karena aku tahu harapan terkadang adalah bumerang. Kita mengandalkannya sewaktu melemparkannya, namun ia bisa berbalik dan menyerang kita. Aku memahaminya. Sudah lama. Karena itulah aku mencoba menyisakan jarak antara aku dan Sam setidak kentara yang aku bisa. Selalu.

          Aku menepis tangan Sam dengan halus. “Terima kasih,” ucapku.

          “Maaf, kami terlambat.”

          Aku membiarkan suara itu membawaku menoleh ke suatu arah. Lalu aku tersenyum cerah.

 

***

 

Vesselia

 

          Dengan membawa beberapa buku yang kutumpuk di depan dada, aku berjalan, meninggalkan jejak kakiku yang tidak tampak begitu saja di belakang. Berkali-kali poniku menyentuh kelopak mataku, terang saja menganggu. Sayangnya aku tidak punya cukup waktu untuk berhenti dan mengatur agar poniku berhenti menganggu. Ada rapat yang menungguku.

          Di ujung koridor yang mulai sepi aku berbelok ke kanan. Sedari tadi aku sudah mencoba berhati-hati karena berjalan cepat dengan membawa buku sebanyak sekarang itu rentan sekali. Akan tetapi sepertinya hari ini aku sedang sial. Buku-buku yang kubawa terjatuh dan berserakkan tak tentu arah di atas lantai. Aku tidak menabrak siapa pun seperti adegan yang marak di sinetron-sinetron. Aku hanya tersandung kakiku sendiri dan kehilangan keseimbangan. Bodohnya aku.

          Terpaksa aku berhenti. Aku berjongkok segera, tetapi tidak langsung memungut buku-buku. Aku malah mengatur poni meski diimpit waktu. Sekalian, pikirku.

          “Hati-hati kalau berjalan.”

          Aku berhenti mengatur poni. Aku menengadah. Aku melihat Jo yang berdiri dan menunduk menatapku, yang sedetik kemudian berjongkok dan menyejajarkan matanya dengan mataku. Ia meletakkan buku yang ia bawa di sisi kirinya, lalu memungut buku milikku yang berserakkan tanpa kuminta.

          “Lagi pula untuk apa membawa buku sebanyak ini?” tanya Jo.

          “Kalau kau, untuk apa?” aku balik bertanya, lalu ikut memungut buku. Jo berhenti dan keningnya bergumal-gumal rumit. Aku menunjuk buku yang ia bawa dengan dagu. “Itu.”

          Jo mengikuti ke mana daguku terarah. Ia mengangguk satu—dua kali. “Oh, itu,” katanya. Ia terus memungut tanpa bersuara lagi. Pertanyaanku dan miliknya pun bergelantungan di udara tanggung-tanggung karena tidak terjawab.

          Lalu ketika semua buku tuntas dipungut, Jo bergumam, “sini.”

          “Apa?”

          Jo melirik buku yang diapit jemariku. “Bukumu. Sini,” jelasnya sambil mengulurkan tangannya ke depanku, isyarat agar aku menyerahkan buku yang aku pegang.

          Aku menggeleng sungkan. “Aku bisa sendiri,” tolakku halus.

          “Sini.”

          “Aku bisa sendiri, Jo.”

          Jo tidak menyerah. “Jangan sampai aku merampasnya,” katanya. Dan aku mengerti itu artinya ia tidak mau dibantah. Aku lantas patuh, memercayakan buku yang kupegang ke dalam pegangannya. Jo membawa bukunya ke satu tumpukkan yang sama dengan bukuku. Depan dadanya jadi tampak penuh, namun ia berdiri tanpa kesulitan.

          “Thanks,” ucapku sambil ikut berdiri.

          Jo mengangguk. Kami lalu berjalan bersama-sama.

          “Kenapa terlambat?” tanyanya.

          “Tadi dipanggil Bu Nia ke ruang guru. Kau sendiri?”

          “Baru dari laboratorium. Giliranku merapikan laboratorium,” sahut Jo.

          Aku mengendikkan bahu. Aku mengerti. Di jam pelajaran terakhir tadi, kelas kami melakukan praktek di laboratorium.  Setiap dari kami punya giliran untuk merapikan laboratorium sesudah praktek. Satu giliran lima orang. Dan seperti yang Jo katakan barusan, giliran untuknya jatuh pada hari ini.

          Entah ada apa denganku hari ini. Kenapa sedikit-sedikit aku jadi membeo apa yang Jo lakukan. Tadi sewaktu ia memungut buku, aku ikut memungut buku. Sewaktu ia berdiri, aku ikut berdiri. Dan sekarang, saat tiba-tiba ia berhenti melangkah, kakiku pun berhenti meski tidak mendapat titah.

          Jo mematung tak jauh dari pintu ruang rapat yang memang kami tuju. Mataku merangkak pelan-pelan, lurus-lurus. Aku melihatnya memperhatikan sesuatu nyaris tanpa berkedip. Lantas mataku merangkak ke arah lain. Pemandangan di sana menjelaskan semuanya, tidak rinci namun cukup jelas.

          Jo masih bergeming dan kelu saat aku mengurung matanya ragu-ragu. Ada yang tidak biasa. Tatapan matanya berubah makna, menyimpan arti yang masih terlalu dini untuk bisa kuteliti.

          Jonathan. Aku mengenalnya, namun tidak benar-benar mengenalnya. Sulit menebak pria ini, seperti menebak ke mana setiap lorong labirin akan membawaku. Sering aku mencoba memahaminya, akan tetapi selalu aku jatuh dalam kebingunganku sendiri. Sia-sia memang, meski begitu terkadang aku berharap bisa menembus setiap kepala dan mengulik apa-apa saja yang menyesakinya. Seperti sekarang.

          Aku ingin menyabit belukar yang menyembunyikan isi pikiran pria ini dan memahami apa arti tatapannya utuh-utuh. Aku perlu tahu.

          Aku mendengarnya mendesah saru. “Maaf, kami terlambat,” akhirnya ia bersuara. Ia tersenyum. Dan ia pun membentangkan tirai untuk menabiri semuanya. Agar semesta tersemu. Agar tidak ada yang tahu.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s