Sometimes (Satu)

Sometimes
Terkadang cinta harus menunggu…

Satu

Jonathan

Aku setengah berlari menaiki tangga yang meliuk ke kanan sambil mengomel tidak jelas. Jam tangan di tangan kiriku kembali mencuri lirikkanku. Setelahnya, aku mengomel lebih dalam. Entah apa yang ia lakukan? Tidak tahukah ia sudah pukul berapa? Aku mendesah keras-keras. Jelas saja tidak senang.

Aku berhenti dan berniat mengetuk pintu di depanku. Namun lalu aku sadar tidak ada waktu lagi untuk mengetuk dan menunggunya membukakan pintu. Lalu tanpa berpikir dua kali—karena mengetahui kebiasaannya yang jarang mengunci pintu kamar—aku meraih kenop pintu dan menyingkapnya dengan satu gerakan cepat.

Aku melangkah masuk segera dan, “Sam, kau tahu sudah…” Kalimat itu terpaksa kugantungkan karena kemeja sekolah tahu-tahu menyapa wajahku.

Woi, could you knock the door first, huh?” tanya Sam.

Aku mengabaikan pertanyaannya seperti angin lalu. Aku kemudian menyingkirkan kemeja sekolah Sam dari wajahku. Setelahnya barulah aku tahu kalau ia sedang mengenakan celana panjang abu-abunya. Belum tuntas. Belum dikancing dan risletingnya belum ditarik sempurna.

Sambil melangkah masuk, “kau tahu sudah pukul berapa?” aku bertanya dengan ketus.

Sam lanjut mengenakan celananya hingga tuntas, tampak tidak terganggu oleh nada ketusku. Ia kemudian menunjuk jam dinding dengan dagunya. “Jam dindingku belum rusak. Tentu saja aku tahu,” gumamnya tenang.

“Lantas kenapa masih ber—“ Aku berhenti berceloteh saat Sam menunjuk kemejanya yang tengah kupegang. Mengerti maksudnya, aku melemparkan kemejanya ke arahnya dan ia berhasil menangkapnya. Lalu, “lantas kenapa masih bersiap-siap, hah?” tanyaku dongkol.

Sam tidak langsung menyahut. Ia mengenakan kemejanya dengan santai. Sambil mengancing kemejanya, ia berkata, “tenang saja.Kita tidak akan terlambat.” Ia tersenyum manis di akhir.

Mataku membulat menatapnya tanpa jeda. “Tidak akan terlambat katamu?” aku mengulangi dengan nada tinggi. “15 menit lagi gerbang sekolah akan ditutup dan…” Semburan kata-kataku tersendat. Kuperhatikan senyum yang masih bertahan di bibir Sam. Aku mengerutkan kening sejenak, lalu aku mengerti. “Senyum itu… Jangan katakan kau akan mengebut nanti,” aku memeringatkan dengan waswas.

Sam terkekeh tanpa suara. Kemejanya sudah selesai dikancing. “Kau mau kita terlambat?” tanyanya.

“Kau mau kita mati?” balasku sengit. Catatan bagi siapa pun yang berada dalam satu mobil dengan Sam: jangan biarkan Sam mengebut untuk alasan apa pun karena itu mungkin akan menjadi kali terakhirmu menghirup udara. Aku tidak berlebihan. Kami pernah nyaris ditabrak truk karena Sam mengebut. Setelah itu, aku berjanji kepada diriku sendiri, selama aku masih waras dan mau hidup, aku tidak akan membiarkan Sam mengebut lagi.

Sam terkekeh lagi, kali ini dengan bersuara. Ia menghampiri meja di dekatnya dan menyambar sebotol parfum. Ia menyemprotkan parfum itu ke tubuhnya dua kali dan segera wangi parfum itu sampai di ujung hidungku. Maskulin. Parfum baru sepertinya sebab hidungku tidak mengenalinya.

“Kau mau?” tanya Sam sambil mengacungkan botol parfum yang ia pegang.

“Tidak, terima kasih. Aku sudah mandi,” sahutku dengan datar.

Sam meringis. “Jadi maksudmu aku tidak mandi?”

“Kau sendiri yang bilang barusan.”

Sam menatapku tidak senang. Ia mendengus. “Dasar…” Sebelum ia mengembalikan parfum itu ke tempatnya, ia sempat menyemprotkannya ke arahku satu kali. Aku terlambat menghindar.

“Bagaimana parfum baruku? Wangi, kan? Aku membelinya kemarin. Sebenarnya aku ingin membelikannya untukmu juga, tetapi aku tahu kau tidak suka wangi maskulin seperti ini. Kau, kan lebih suka—“

“Sam…” aku menyela karena tidak tahan.

“Ya?”

“Bukannya bermaksud apa-apa, tetapi percayalah kalau segala sesuatu tentang parfum barumu itu sama sekali tidak penting,” ujarku cepat. “Jadi, bisakah kau bergegas? Waktu kita tinggal…”  aku melirik jam tanganku, “demi Tuhan! 10 menit!” seruku.

Sam mencibir, lalu tahu-tahu ia berjalan melewatiku dengan langkah-langkah panjang. “Aku sudah bergegas. Puas?” tanyanya tidak tulus. Tepat di ambang pintu ia berbalik dan menyengir lebar-lebar.

“Apa?” tanyaku waswas. Cengirannya itu punya arti dan aku rasa bukan arti yang baik.

Cengiran Sam makin lebar. Ia terkekeh singkat, lalu, “tolong ambilkan tasku,” mintanya.

Nah, kan. Apa kubilang. Cengirannya itu memang pertanda ‘malapetaka’ buatku. Terang saja aku mendumel, namun aku tetap saja menyambar tasnya yang tergeletak di atas ranjang. Sedetik-dua detik kemudian tas itu sudah melayang di tengah-tengah udara karena aku melemparnya.

Sam menangkapnya. Ia tersenyum cerah kemudian bersicepat berlari ke luar. “Terima kasih, Jo. Tutup pintu, ya. Aku tunggu di dalam mobil.” Suaranya terdengar jelas meski dari kejauhan.

Aku mendesah keras-keras dan berjalan ke luar dengan sesekali menghentakkan kaki. “Dasar…” gerutuku.

Aku berputar menghadap daun pintu, meraih kenop pintu dan menariknya hingga tertutup sambil menggeleng-geleng singkat. Sebelum menyusulnya, aku lebih dulu mendekatkan kerah kemejaku ke hidung. Wangi. Aku tersenyum dan mengangkat bahu.

***

Samuel

Jika diminta bercerita tentang Jo, aku bisa menceritakan banyak hal. Bagaimana tidak. 5 tahun sudah berlalu menjauh sejak Mama memperkenalkannya padaku. Kesan pertama yang aku dapat sewaktu berkenalan dengannya adalah ia adalah anak yang pendiam dan tertutup. Heumh… sedikit aneh juga jika ditelaah karena dulu Jo terkesan menjauhiku. Entah apa salahku. Aku yakin aku tidak salah bicara kepadanya. Tentu saja karena aku hanya berkata ‘hai, namaku Samuel. Panggil saja Sam’. Itu saja. Tentu tidak ada yang salah, bukan? Akan tetapi waktu itu ia bersicepat menarik tangannya menjauh sesaat setelah ia menjabat tanganku. Lalu di kemudian hari aku dapati ia tidak jarang segera menarik tangannya jika bersentuhan denganku. Bahkan sampai sekarang pun ia masih begitu. Sesekali.

Aku hapal kebiasaan-kebiasaannya dan sepertinya juga sebaliknya—ia hapal kebiasaan-kebiasaanku. Aku tahu ia akan bangun pagi-pagi buta untuk belajar jika ada ujian, dan ia tahu aku akan bergadang untuk membuat contekkan. Aku tahu ia suka menyetel musik-musik klasik untuk menghibur diri, dan ia tahu aku adalah penggila musik rock. Aku tahu ia akan berjalan menuju rak novel impor jika berada di toko buku, dan ia tahu manga-lah yang akan menjadi incaranku. Kami sangat dekat. Kedekatan yang kental itu ada karena Jo tinggal di bawah satu atap bersamaku selama 5 tahun belakangan.

Cerita tentang bagaimana Jo bisa sampai tinggal bersamaku dimulai dari peristiwa kecelakaan yang menimpa mama dan papanya. Mereka meninggal dalam kecelakaan itu. Mama Jo adalah adik mamaku. Dan karena Mama merupakan satu-satunya sanak-saudara yang Jo punya, jadilah Jo tinggal bersama keluargaku. Mama dan Papa tidak keberatan. Tentu saja aku juga tidak. Aku yang merupakan anak tunggal terang saja menyambut kehadiran Jo dengan gembira. Setidaknya, ada seseorang yang bisa kuajak bercerita tentang banyak hal, bercanda, bahkan bertengkar.

***

Aku menoleh ke samping kiri saat pintu mobil terbuka. Aku melihat Jo menyusup masuk dan mengempaskan tubuhnya ke jok dengan cepat. Ia menutup pintu, menatapku, lalu, “buka mulutmu,” perintahnya.

“Apa?”

“Buka mulutmu,” ia mengulangi.

Antara ragu dan bingung, aku menurut. Kubuka mulutku, namun belum terbuka penuh, Jo telah menjejal mulutku dengan selembar roti polos yang ia bawa. Aku hampir tersedak karenanya. Aku tidak diberi kesempatan untuk memaki karena Jo lebih dulu bersuara.

“Sarapan itu baik untuk mengawali hari,” katanya. Ia kemudian membuka tasnya dan mengeluarkan buku catatannya. Sementara ia membaca buku catatannya, aku melahap rotiku dengan santai. “Sam…”

Aku mengangkat sebelah alis. “Ya?”

Ia mengalihkan matanya dari buku catatannya, menantang mataku dengan tatapan mata yang runcing kemudian, “tunggu apa lagi? Cepat jalankan mobilnya,” desaknya dengan tidak sabar.

Aku meringis sebal. Cepat-cepat kuhabiskan rotiku. Lantas tanpa menyempatkan diri untuk minum, aku segera menghidupkan mesin dan menjalankan mobilku mencemari udara.

Di tengah perjalanan aku menjulurkan tangan bermaksud untuk menghidupkan radio. Alih-alih menyentuh badan radio, aku justru menyentuh tangan Jo. Rupanya Jo juga menjulurkan tangannya ke arah yang sama, namun entah untuk tujuan yang sama atau tidak. Dan belum sempat aku bereaksi apa-apa, Jo segera menarik tangannya dan membawanya menjauh. Sudah kubilang, kan, sesekali tingkahnya yang menurutku sedikit aneh itu akan tampak.

“Kenapa menarik tangan sebegitu cepatnya? Aku tidak mengidap kusta,” kataku berpura-pura tersinggung.

Aku meliriknya lewat sudut mata dan ia tampak termenung sebentar. Hanya sebentar sebelum akhirnya ia membalas tanpa ekspresi, “aku bukan takut tertular kusta, namun takut tertular sifat bebalmu.”

Aku mendengus terang-terangan. Jo melirikku sedetik, lalu ia termenung kembali. Panjang.

***

Jonathan

“Ini semua salahmu,” tuduhku dengan setengah berbisik. Kedua kakiku bergerak membawa tubuhku mengekori Pak Dewantara yang melangkah dengan langkah-langkah kaku yang angkuh. Penuh wibawa.

Sam yang berjalan tepat di sisi kananku mencibir. Dengan memasang tampang sebal, ia berbisik jengah kepadaku. “Berhenti menyalahkanku.”

Tidak tega menyalahkan Sam terus-menerus, aku berubh haluan menyalahkan Pak Dewantara. Kenapa pria berumur ini harus menjunjung disiplin tinggi-tinggi? Tidak murah toleransi. Terlambat dua menit dengan terlambat dua jam tidak ada bedanya baginya. Sama saja.

Aku mendesah, lalu pasrah. Aku kemudian membayangkan harus mencuci toilet selama satu minggu ke depan. Aku bergidik ogah dan merutuk. Menyebalkan.

Tiba di ruangan Pak Dewantara, aku dikejutkan oleh keberadaan Mai dan Ve. Keduanya berdiri dengan tas yang masih menggantung di bahu mereka. Mereka tampak tidak senang. Sam yang kemudian melangkah masuk ke ruangan langsung tersenyum cerah. Tampang sebal yang sempat ia kenakan tanggal entah ke mana.

“Kalian semuanya dari kelas XI-IPA 3, benar?” tanya Pak Dewantara setelah duduk di belakang mejanya yang penuh dengan berkas-berkas dan map-map. Tanpa menunggu salah satu dari kami menyahut, ia langsung melanjutkan, “kalian terlambat.”

Mai menoleh ke arahku, lalu, “kalian terlambat juga?” tanyanya tanpa bersuara.

Aku mengangguk samar-samar. Mai membulatkan mulutnya, lalu mengangguk. Sam mencuri-curi pandang ke arah Mai kemudian tersenyum-senyum sendiri.

“Baiklah,” Pak Dewantara buka suara. Ia tampak berpikir-pikir sejenak, lalu mengangguk-angguk sendiri. “Saya akan beri hukuman atas keterlambatan kalian. Berhubung redaksi majalah sekolah sedang kekurangan tenaga maka,” Pak Dewantara menggeser letak kacamatanya, “Jonathan Gasastra, Samuel Aditya, Magentha Gradani dan Vesselia Permata, untuk jangka waktu yang belum saya tentukan, kalian harus mengisi kekurangan tenaga itu.”

Dan bermacam-macam ekspresi lepas terbang menghuni ruangan itu. Sam dan Mai tampak gembira sementara aku dan Ve biasa-biasa saja. Akan tetapi diam-diam aku mendesah. Aku punya firasat yang tidak baik untuk ini.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s