Sometimes (Prolog)

Sometimes
Terkadang cinta harus menunggu…

Prolog

          Aku mengempaskan diri ke atas kursi di dekatku. Aku duduk menghadap meja kayu yang di atasnya telah diletakkan dua tumpuk novel. Aku memandang berkeliling sambil menghirup udara, lalu tersenyum kecil. Wajah-wajah antusias pembaca di depanku dan bau novel di sekitar membuatku senang.

Aku melirik jam tangan. Sebentar lagi sesi tanya-jawab akan kumulai. Aku kembali memandang para pembaca. Masing-masing dari mereka membawa novel bersampul warna putih yang terlihat teduh. Ada yang mengapitnya dengan jemari, ada pula yang mendekapnya di depan dada. Mereka berbeda dalam hal itu, namun mereka sama dalam hal lain. Mereka sama-sama tampak antusias, dan itu membuatku yakin semuanya akan berjalan menyenangkan.

“Baiklah. Bagi yang ingin mengajukan pertanyaan, saya persilakan,” kataku dengan ramah. Kububuhkan senyum tipis di akhir.

Saat aku melihat seorang gadis di barisan tengah mengangkat tangan, aku pun mengangguk senang.

“Halo, Kak. Nama saya Denia. Saya pembaca setia novel-novel Kakak,” ucap gadis itu bersemangat.

“Terima kasih,” aku menyela sedikit, lalu tersenyum.

“Aku mau tanya kenapa novel kali ini diberi judul Sometimes?” lanjut gadis itu.

Mataku tersenyum mendengar pertanyaan gadis itu. “Sometimes—yang berarti kadang-kadang—menyiratkan ketidakpastian, dan novel ini bercerita tentang itu.”

Aku tidak tahu apakah gadis bernama Denia itu puas dengan jawaban yang aku berikan atau tidak, namun aku tahu saat ia berbisik-bisik dengan gadis di sampingnya, lalu tersenyum-senyum.

Perhatianku teralih saat ada gadis lain yang mengangkat tangan. Kali ini dari barisan paling depan.

“Ya, silakan,” tanggapku.

“Nama saya Viola, Kak,” gadis itu memperkenalkan diri. Ia menautkan jemarinya di depan dada, menghela napas pendek kemudian, “novel kali ini terasa berbeda dengan novel-novel sebelumnya. Lebih apa adanya, menyentuh dan terasa nyata. Apakah novel ini based on true story?” tanyanya dengan nada ragu.

Aku terkejut mendengarnya, jelas tidak menyangka akan mendapatkan sodoran pertanyaan seperti itu. Aku kelu di tengah kejaran waktu, namun tidak bertahan lama karena aku sadar gadis itu menunggu jawabanku. Kemudian dengan nada suara yang mengawang-awang, aku menyahut dengan pelan, “ya.”

Lalu aku merasa remang melahap sekelilingku. Segalanya tampak luruh mengabur dan aku terseret ke dalam pusaran lamunan yang panjang.

Dan lamunan membawaku membuka lembaran cerita lalu. Tentang aku, dia dan mereka. Saat-saat di mana aku mengerti bahwa terkadang cinta harus menunggu….

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s