Sometimes (Sembilan Belas)

Jonathan

 

Aku terus berlari, mengandalkan sepasang kaki yang terasa sedingin orang mati. Persetan dengan carik-carik napas yang terkoyak karena letih, pun dengan rasa sakit yang mengaum-aum di jemari. Hanya harus berlari mendahului waktu yang bisa saja mengering. Hanya harus menyejajarkan langkah dengan brankar yang didorong bergegas-gegas di sepanjang lorong putih ini. Bukan saatnya bagiku untuk berhenti sekalipun brankar itu telah didorong masuk ke dalam ruang gawat darurat, bertaruh untuk hidup atau mati.

“Maaf, anda tidak boleh masuk,” sergah seorang perawat di depan pintu.

Namun, aku berlagak tuli dan tidak menghentikan langkah kaki. Perawat itu bergeming dan aku mengambil detik yang tepat untuk berhenti, beberapa senti di hadapannya sebelum tubuh kami saling menyentuh.

“Aku harus masuk!” bantahku dengan garang.

Perawat itu melangkah mundur dan menatapku dengan ketakutan. Sejenak kemudian, ia menggeleng dengan gerakan yang kaku dan berkata, “ini sudah menjadi peraturan.”

“Peraturan, katamu?!” salakku tidak tahan, entah kepada perawat itu atau kepada peraturan yang telah membatu. Aku tidak mau tahu dan menarik langkah untuk masuk. Akan tetapi, perawat itu maju selangkah dan memaksa langkahku untuk membeku.

“Anda benar-benar tidak boleh masuk,” ia menegaskan.

Gigiku bergemelutuk, sepakat untuk merutuk. “Kau!” Aku geram, nyaris menerjang perawat itu dan menerobos masuk kalau saja tidak ada yang cepat-cepat menahanku.

“Tenanglah, Nak.”

Aku menoleh ke belakang dan mendapati seorang pria asing sedang berdiri di sana. Ia tersenyum prihatin dan menepuk pundakku dua kali. “Tenanglah,” ia mengulangi.

Dan ketika aku kembali menatap perawat itu, aku mencoba untuk lebih tenang semampuku.

“Saya mohon…” kataku mengiba. “Saya… saya bisa memasang kantung darah, membersihkan lukanya, membawakan ini-itu,” sebutku dengan cepat sampai napasku tercekat. Aku menelan ludah dengan susah, lalu, “apa saja, untuk menyelamatkannya,” desahku dengan suara parau.

Namun apa pun yang aku katakan, seberapa pun aku mengiba, peraturan tampaknya akan selalu menjadi sesuatu yang haram untuk dilanggar. Maka, perawat itu tetap menggeleng. “Maaf, anda tetap tidak boleh masuk,” ucapnya dengan nada menyesal. Ia coba tersenyum menenangkanku, dan, “berdoalah,” pesannya sebelum melangkah masuk dan menghilang di balik pintu.

Aku menyentuh daun pintu dengan tangan yang gemetar dan berlumuran darah. Sesaat aku berdiri dengan limbung sebelum akhirnya rubuh ke atas lantai di dekat pintu. Semua yang aku lakukan kemudian hanyalah meneteskan doa. Sampai akhirnya ia datang, yang aku teteskan pun tidak lagi hanya doa, namun juga air mata.

Hanya di depannya, aku tidak perlu berpura-pura.

“Aku takut,” aku mengaku kepadanya.

 

***

Vesellia

 

Aku tidak tahu lagi bagaimana cara yang tepat untuk menjelaskan apa yang aku rasakan sekarang. Rasa sesak memberatkan napas. Rasa takut merayu jantung berdebar cepat dengan lancang. Rasa bingung membuat pikiran melayang-layang, antara mengkhawatirkan kondisi Sam dan enggan membayangkan apa jadinya Jo sekarang.

Aku berhenti berlari, mengambil jarak sekitar satu langkah dari Jo. Semua bayangan tentang Jo yang sempat aku susun dalam kepala seketika menyusut, lantas luruh menjadi remah-remah. Seburuk-buruknya kemungkinan yang sudah aku terka, melihatnya duduk di atas lantai dengan pandangan kosong adalah yang paling buruk. Sejenak aku hanya berani memperhatikannya dari tempatku berdiri. Lantas, ketika aku hendak mendekat, sebuah suara memaksaku untuk mengurungkan niat.

“Anda yang bernama Magentha?”

Aku menoleh ke samping kiri, lalu menggeleng untuk pria yang baru saja bertanya. “Saya Vesellia, teman Magentha. Anda yang…”

Pria itu menyela dengan anggukan kepala. “Ya, saya yang menghubungi Nona Magentha. Nomor ponselnya ada di daftar panggilan terakhir ponsel korban,” ia menjelaskan.

Aku mengangguk mengerti. Aku menimbang-nimbang sepintas, membuka mulut untuk menanyakan sesuatu, namun mengatupkannya kembali tanpa sempat bersuara. Aku terlalu takut untuk menerima jawabannya.

“Keadaan korban tidak baik kalau itu yang ingin anda tanyakan,” kata pria itu dengan nada menyesal. “Dia sempat terjebak di dalam mobil,” imbuhnya. Pria itu kemudian menunjuk Jo, dan, “teman anda yang di sana yang mengeluarkannya. Dia memecahkan kaca mobil dengan tangannya,” paparnya.

Aku beralih memperhatikan Jo kembali. Tahu-tahu saja napasku tercekat saat aku menelusuri susunan jemarinya yang bermandikan darah. Pelan-pelan aku menekuk jarak, lalu berjongkok di dekatnya.

“Jo,” panggilku. Jo tidak menyahut.

Aku lantas menggerakan tangan yang gemetar, menyentuh jemarinya dengan sejumput gentar. “Jo,” aku memanggilnya lagi. Meski kali ini ia tetap tidak menyahut, namun setidaknya ia berhenti menunduk dan menoleh sedikit ke aku.

“Se-semuanya akan baik-baik saja,” kataku terbata-bata meski dengan ragu yang berbongkah.

Jo tidak berkata apa-apa. Kesadarannya mengambang-ambang dengan sorot mata yang menerawang. Rasanya begitu lama ia seperti itu sampai akhirnya ia mengucapkan sesuatu dengan suara yang saru.

“Aku takut.”

Lalu, Jo menangis.

Aku menutup mulut dan menekannya kuat-kuat dengan tangan, berusaha mencegah isakkanku merembes keluar meski akhirnya terdengar juga di sela-sela desah aksara. “Jangan menangis,” desahku dengan bibir yang bergetar. Dengan sebelah tangan yang bebas, aku menyingkirkan air mata dari wajah Jo.

Lalu, aku memeluknya dan tahu-tahu ikut menangis.

Tuhan, sedetik pun aku tidak ingin ia terluka…

 

***

Mai tiba beberapa menit kemudian, disusul oleh kedua orangtua Sam.

Aku menjelaskan kepada mereka tentang keadaan Sam sebisaku. Mereka tampak terpukul. Mai dan Tante Ellana menangis sementara Oom Herman berusaha keras untuk tegar dan menenangkan istrinya. Dan untuk Mai, aku pun begitu—berusaha tegar dan menenangkannya. Lantas, ketika semuanya berangsur-angsur lebih tenang, pria yang tadi menghubungi Mai pun buka suara.

“Korban lain dalam kecelakaan ini memakai seragam sekolah yang sama dengan yang teman anda pakai.”

Aku bertanya, “seragam sekolah yang sama?” sambil mengangkat sebelah alis.

Pria itu mengangguk. “Saya sempat melihat tanda pengenal di seragamnya. Kalau tidak salah, namanya…” pria itu tampak mengingat-ingat sebentar, lalu dengan agak ragu, ia menyebutkan sebuah nama.

Dan nama itu pun menjadi alasan kenapa mataku terbelalak tiba-tiba. Selama beberapa detik, aku lupa bagaimana cara yang tepat untuk bernapas.

Apa-apaan ini?

“Asta Rakafka?” aku bertanya untuk memastikan.

Dan pria itu mengangguk. “Anda mengenalnya?”

 

***

Magentha

 

Aku tidak tahu alasan tepatnya, namun Ve bergegas beranjak setelah pria yang tadi menghubungiku memberitahunya sesuatu tentang korban lain dalam kecelakaan yang dialami Sam. Aku sempat memanggilnya, namun itu tidak cukup untuk menahannya. Ve tetap berlalu dengan langkah yang tergesa-gesa.

Aku menoleh ke samping kanan dan mendapati Jo masih seperti tadi. Ia masih duduk dengan lesu dan meremas-remas tangannya. Sinar matanya yang terampas entah ke mana belum juga pulang. Sepi mencumbui kedua matanya.

Aku bernapas sebaik mungkin, lalu menggenggam tangan Jo sekejap, memberinya sedikit kekuatan yang sebenarnya juga aku perlukan. Tanpa berkata apa-apa, aku kemudian bangkit dari tempat duduk dan berjalan ke kamar kecil untuk membasuh wajah. Sepanjang perjalanan aku lalui dengan setengah melamun. Maka, tidak heran saat aku menabrak tubuh lain dan nyaris terjatuh.

“Maaf, aku tidak senga…” aku menegadah sedikit dan gumamanku pun terhenti. Aku melipat kening dan menatap pria di hadapanku dengan tatapan bertanya-tanya. “Chris?”

Chris terlihat sama terkejutnya dengan aku.

“Sedang apa kau di sini?”

Semestinya itu bukan pertanyaan yang sulit, namun entah kenapa Chris justru menunduk lambat-lambat dan membiarkan pertanyaan itu pergi tanpa membawa jawaban yang pasti.

Aku hendak kembali memintal pertanyaan serupa, namun disela.

“Mai?”

Aku menoleh dan mendapati Ve berdiri di sana dengan wajah yang terlihat lebih pucat dari sebelumnya.

 

Remember (A Short Story)

Dan aku akan mengatakan kepadanya
Saat aku percaya senja itu indah

 

***

 

Aku menekan pelipis dan mendesah dengan berat. Kunang-kunang masih berkeliaran di mata saat aku putuskan untuk menjatuhkan punggung ke sandaran kursi. Menarik napas, lalu membuangnya—aku melakukannya berulang-ulang sampai segalanya kembali tenang. Langit-langit ruanganku menjadi pelabuhan untuk pelayaran mataku yang tiba-tiba terasa lelah. Memejamkannya sejenak sebelum kubawa untuk kembali menyusuri rangkuman aksara di atas sebuah lembaran yang usang.

Tidak banyak aksara yang berdiri di sana. Hanya sebuah puisi pendek, tertulis dengan goresan pensil yang telah samar-samar. Aku tidak lagi memikirkan untuk menghitung sudah berapa kali aku membaca puisi itu, juga puisi-puisi yang lain. Semuanya digubah dengan rangkaian kata yang berbeda, namun tetap saja ada yang sama, yang seumpama benang merah. Ada dua. Pertama, semuanya bernapaskan kata cinta. Kedua, semuanya tertulis untuk satu nama. Arangga Ferdinand, begitu nama itu selalu tertulis di sudut kanan bawah, dengan gaya penulisan yang nyaris selalu sama. Miring dan indah, seolah-olah memiliki nyawa. Dan nama itu menjadi alasan untuk rasa pusing yang mendera kepalaku, juga kerumunan kunang-kunang yang mengacaukan penglihatanku beberapa waktu yang lalu.

Setelah menembus udara, tanganku pun menutup buku di atas meja kerjaku. Aku mendorongnya menjauh dan berniat meneruskan pekerjaanku. Namun setelahnya, aku justru menggeleng. Tidak. Sesuatu yang aku yakini adalah hati mengatakan kepadaku kalau tidak seharusnya begini. Karena kata mereka hati tidak pernah mengingkari, maka aku pun menarik buku itu kembali. Akan tetapi, alasan terbesarnya adalah karena aku rasa aku harus menemukan kepingan ingatan itu kembali.

Aku menggerakkan jemari untuk menyingkap lembar demi lembar. Aku mengayunkan mata untuk membaca kata demi kata.

Dan rasa pusing itu datang menyapa…

Arangga Ferdinand… dia itu siapa?

 

***

 

Tadi dia mengajakku ke atap rumahnya. Dia memperlihatkan kepadaku bagaimana senja yang selama ini aku benci. Aku mengerti caranya mengagumi semburat-semburat merah yang serupa warna mawar baginya, namun warna darah bagiku. Aku memahami kesukaannya pada kicauan burung-burung yang melintas di atas kami, namun dia buta akan kekecewaanku pada kicauan mereka yang terdengar serupa pengantar kematian.

 

Katanya senja itu indah, namun aku tidak sanggup berkata sebaliknya meski aku mau. Aku tidak ingin merusak senyumannya sekalipun dengan begitu aku harus memalsukan seulas senyum untuk senja kala itu.

 

Andai saja dia tahu ibuku dijemput saat senja, akankah dia tetap mengatakan senja itu indah?

 

***

 

Aku menemukan buku ini satu tahun yang lalu, beberapa bulan setelah aku mengalami kecelakaan yang merenggut seluruh ingatanku. Dari semula dan bahkan sampai detik ini, buku ini selalu tampak menarik. Tidak semata-mata karena warna-warni yang menyetubuhi sampul depannya, namun juga semua yang terangkum di dalamnya.

Ini tidak hanya tentang kumpulan puisi. Ini juga tentang hari-hari yang dulunya aku ingat. Tertulis dengan singkat, namun anehnya selalu berkesan. Dipenuhi dengan detil-detil yang menghidupkan jantung dalam detakan yang cepat, atau sesekali menarik kedua sudut bibir untuk membuat sebuah lengkungan. Akan tetapi, tidak jarang malah menjamu rasa pusing dan mual dalam satu waktu.

Aku memang masih belum mengerti, namun aku mendapati diriku tidak bisa mengabaikannya begitu saja. Walau setiap lembarnya sudah menguning dan berbau debu, jemari masih ingin menyentuhnya, mata masih sudi memandangnya. Lagi dan lagi. Lama aku memikirkannya sampai akhirnya aku menyadari sesuatu.

Arangga Ferdinand… siapa pun dia, dia adalah kepingan yang penting.

 

***

 

Aku menanggalkan seragam putih abu-abuku untuk selamanya hari ini. Rasanya berat dan melegakan dalam satu waktu. Aku mengucapkan salam perpisahan kepada semua teman-teman yang aku temui, juga kepada para guru. Berterima kasih dan meminta maaf, lalu mengucapkan selamat tinggal dengan keyakinan akan bertemu lagi, entah kapan, dimana dan bagaimana. Mereka bilang rasanya sungguh tidak rela, namun aku mengatakan kepada mereka kalau ini adalah satu masa yang memang harus dilalui. Seseorang pernah mengatakan kepadaku kalau ini adalah akhir untuk masa sekolah, namun awal untuk masa depan setiap orang. Dan aku percaya.

 

Kepadanya, aku pun begitu. Tersenyum dan memeluknya sebentar sebelum mengucapkan salam perpisahan. Sepanjang sore itu aku merasa berat saat melayangkan kalimat selamat tinggal, dan yang terberat adalah saat aku harus melayangkan kalimat itu kepadanya. Dia sempat hanya tersenyum geli dan mengatakan aku sedikit berlebihan. Namun ketika aku memberitahukan aku akan berkuliah di Melbourne, senyumannya langsung tergelincir.

 

Dengan nada yang membuat hati ngilu, dia bertanya kenapa. Dia ingin menatap mataku, namun aku malah tidak menatap miliknya saat aku mendesah dan menjelaskan kalau papaku sudah mengatur semuanya. Dia berusaha menahanku, tetapi aku katakan kepadanya kalau aku tidak bisa menentang Papa. Akhirnya, dia menyerah meski matanya jelas-jelas masih mengiba.

 

Hari itu, sebelum kami berpisah, aku memberitahunya kalau ada sesuatu yang ingin aku sampaikan kepadanya. Saat dia bertanya, aku berjanji akan menyampaikannya ketika satu masa baru telah tiba. Masa di mana aku percaya kalau senja itu indah.

 

Dia mengangguk, lalu mencium keningku dan melepas kepergianku.

 

***

 

Aku melangkah keluar dari ruang kerjaku. Semula aku berniat langsung menuju pintu keluar untuk mendapatkan sedikit udara segar, namun yang terjadi aku justru berhenti di tengah-tengah langkah kaki.

Dan aku memperhatikannya lagi. Belakangan sering seperti ini sampai-sampai aku mulai mengenali salah satu kebiasaannya. Di jam-jam sore seperti ini, dia akan berada di dekat jendela kaca besar dan memandang ke luar. Jika kedai sedang ramai, dia akan sering-sering berjalan dengan lambat di dekat jendela sambil sesekali membuang pandangan keluar. Namun, jika kedai sedang sepi, dia akan betah berlama-lama berdiri dan memandang ke luar jendela, seperti yang dia lakukan sekarang.

Hari ini aku tidak akan mengabaikannya seperti yang aku biasa aku lakukan. Tanpa memegang satu alasan yang kuat, aku sadar saat aku mulai melangkah, lalu duduk di kursi yang berjarak tidak sampai satu meter darinya. Sejenak aku mengamati penampilannya dalam seragam yang dipakai oleh semua pelayan di kedai es milikku. Seragam itu tampak biasa di tubuh pelayan yang lain, namun di tubuh yang satu ini, seragam itu tampak lebih dari biasa. Sebelum aku lepas kendali dan menilainya dengan poin yang macam-macam, aku putuskan untuk memanggilnya.

Dia menoleh ke arahku dan gelalapan sesaat sebelum menyahut panggilanku dengan gugup. “Ya, Nona.”

“Satu scoop es krim…”

Dia mengangguk dan berlalu dengan cepat padahal aku belum menyebutkan pesananku dengan lengkap. Aku memperhatikan punggungnya sambil bertanya-tanya apakah dia akan berbalik untuk menanyakan rasa apa yang aku mau untuk es krimku. Anehnya, jawaban yang aku dapatkan adalah tidak. Satu-dua menit kemudian, dia kembali dengan satu scoop es krim di dalam sebuah gelas. Dan entah bagaimana bisa, dia benar tentang rasa yang aku mau. Teh hijau.

Aku ucapkan, “terima kasih,” dan dia hanya mengangguk. Aku yakin terasa aneh saat aku menahannya ketika dia ingin berlalu, tetapi dia hanya menatapku tanpa ada sinar persetujuan kalau apa yang aku lakukan itu aneh.

“Ada lagi yang ingin Nona pesan?” tanyanya.

Aku menggeleng, lalu tersenyum. “Duduklah,” kataku.

Tipis memang, namun kali ini aku melihatnya mengangkat sebelah alisnya. “Duduk?”

Aku mengangguk. Melihatnya bergeming dan sedikit kebingungan, aku tertawa kecil, lalu memberitahunya, “ah, karena kamu karyawan baru, tentu saja kamu tidak tahu. Aku sudah biasa mengobrol dengan karyawan di sini.”

“Apa tidak masalah?” ia tedengar ragu dan tampak salah tingkah.

Aku memandang berkeliling dengan cepat dan mengangkat bahu. Jika yang dia permasalahkan adalah tentang perkerjaannya, maka jawabannya sudah pasti, “aku rasa tidak,” karena kedai memang sedang sepi pengunjung.

Entah senyum yang aku sunggingkan berpengaruh atau tidak, namun yang pasti dia akhirnya menurut dan duduk berhadapan denganku.

“Apa yang ingin Nona obrolkan,” ia bertanya dengan nada yang kaku.

Aku memukul tepian gelas dengan sendok kecil yang aku pegang hingga dentingan-dentingan tinggi berlompatan keluar. “Jangan pakai panggilan itu—Nona, maksudku. Untuk beberapa saat ke depan, anggap saja kita ini pelanggan. Tidak ada atasan, tidak ada bawahan. Oke?”

 

***

Aku menanyakan kepadanya apa yang dia perhatikan saat ia berdiri di dekat jendela tadi. Akan tetapi, bukannya menjawab, dia justru menghela napas dan memandang ke luar jendela. Pandangannya menggantung dengan lelah. Beberapa detik ke depan pun dia habiskan dengan membungkam. Jika setiap orang memiliki beberapa hal yang tidak ingin mereka bagi kepada orang lain, bagi dia, sudah pasti ini salah satunya. Maka, ketika aku sadar dia tidak ingin menjawab, aku pun melemparkan pertanyaan lain dengan hati-hati.

“Berhubungan dengan masa lalu?”

Dan meskipun dia tidak menjawab, dari desahan napasnya yang tiba-tiba berubah, aku tahu jawabannya adalah iya. Aku menarik napas panjang, lalu, “mereka bilang tidak ada gunanya mengingat masa lalu,” kataku tanpa ada maksud untuk menyerangnya.

Pelan-pelan, dia beralih menatapku. Dengan cara yang aku suka, dia membetulkan letak kacamatanya sebelum menimpali perkataanku. “Ada yang sependapat, ada yang tidak.”

“Kamu sependapat?” tanyaku.

Dia hanya mengangkat bahu dan malah balik bertanya, “Non—maksudku, kamu?”

“Relatif,” kataku. Saat aku melihatnya mengangkat sebelah alis, aku pun mengimbuhkan, “semuanya tergantung pada bagian mana yang ingin kita ingat. Aku hanya berpikir kalau kita tidak harus melupakan seluruh masa lalu kita, tidak juga perlu mengingat semuanya. Ya, sederhananya sama seperti menyortir buah, misalnya. Buah yang busuk, ya dibuang. Buah yang bagus, ya disimpan.”

Aku mengambil sedikit es krim dengan ujung sendok, lalu membiarkannya meleleh di atas lidah. “Namun, untuk saat ini, aku sedang berada di sisi yang tidak sependapat.”

“Kamu sedang mengingat-ingat masa lalumu?” begitu dia bertanya tanpa menatapku lagi.

Aku mengangguk, entah dia melihatnya atau tidak. “Sedang berusaha mengingat, tepatnya.”

Dia kembali menatapku, hanya untuk sejenak sebelum melabuhkan matanya untuk menekuri tepian piring kecil di atas meja. Dia sedang mengelus permukaan piring kecil itu dengan canggung saat dia bertanya dengan suara yang mengambang, “berusaha mengingat?”

“Aku amnesia setelah mengalami kecelakaan di Melbourne tahun lalu,” aku memperjelas.

Dan kali ini dia mengangkat wajahnya dengan cepat dan matanya terlihat membeliak. Lantas, setelah tersenyum untuk pertama kalinya di hadapanku, ia pun memberitahuku sesuatu. “Kamu tahu, kita tidak terlalu jauh berbeda.” Saat aku melipat kening dengan bingung, dia melanjutkan, “aku juga amnesia.”

 

***

 

Mengetahui kalau dia juga amnesia adalah sebuah kejutan bagiku. Aku tidak pernah menyangka akan bertemu dengan seseorang yang bernasib sama. Mendadak aku merasa lebih ringan dan lega. Ini mungkin karena aku baru saja menemukan seseorang yang lebih bisa mengerti perasaanku dibanding orang lain. Maksudku, aku yakin dia akan mengerti betapa aku merasa bodoh saat harus berkenalan lagi dengan orang-orang yang dulunya aku kenal. Aku juga yakin dia akan mengerti betapa aku ingin menemukan kembali ingatanku, juga betapa sulitnya saat aku berusaha untuk itu. Ya, seperti yang baru dia katakan tadi, ini karena kita berdua sama.

“Kenapa kamu ingin sekali mendapatkan ingatanmu kembali?” tanyanya.

“Memangnya kamu tidak?” aku balas bertanya.

Dia mengendikkan bahunya dan tidak menjawab pertanyaanku. “Kamu tidak takut?”

Aku menatapnya dengan kening yang berkerut-kerut tidak mengerti. Melihat itu, dia pun tersenyum kecil, lalu melapisi pertanyaannya barusan dengan sebuah penjelasan yang tidak pernah aku pikirkan sebelumnya. “Pernahkah kamu berpikir kalau ada beberapa orang di luar sana yang ingin berada di posisi kita sekarang? Melupakan masa lalu mereka dan berharap tidak akan pernah mengingatnya lagi. Karena, mengingatnya hanya akan membenamkan luka yang dalam. Atau, karena mengingatnya hanya akan meninggalkan trauma. Masa lalu yang sangat buruk menciptakan keinginan yang kuat bagi mereka untuk melupakannya. Jadi, bagaimana jika apa yang ingin kamu ingat sekarang adalah semua yang dulunya tidak ingin kamu ingat? Kamu tidak takut?”

Untuk sesaat aku terperangah karena mendengar pemaparannya. Sangat masuk akal dan menohok. Sempat aku diombang-ambing oleh rasa ragu, namun saat aku teringat akan sesuatu, aku tahu kalau mengingat masa laluku adalah apa yang aku mau.

“Aku ingin mengingat semuanya,” begitu kataku, dan dia sedikit terkejut. “Sekalipun masa laluku ternyata buruk, aku tidak akan menyesal. Kamu tahu kenapa? Karena aku yakin seburuk apa pun masa laluku, pasti ada satu bagian yang baik, yang memberiku alasan untuk bertahan.”

“Kenapa kamu sangat ingin mengingat masa lalumu?”

Aku memandangi es krimku yang sudah mencair, lalu setengah menerawang. “Ada seseorang yang ingin aku ingat.”

“Seseorang?”

Aku mengangguk dalam gerakan yang lambat.

“Kenapa?”

“Aku hanya merasa kalau aku harus mengingatnya,” desahku. Aku kemudian memalingkan wajah dan menyadari kalau di luar sana telah lama senja. “Mungkin dengan begitu, aku bisa melihat senja dengan cara yang berbeda, dengan cara yang dia punya.”

 

***

 

Aku menceritakan kepadanya tentang buku itu. Untuk pertama kalinya sepanjang ingatanku, aku bisa bercerita dengan begitu lepas. Aku menceritakan apa saja tentang isi buku itu, kecuali satu. Aku tidak memberitahunya tentang nama yang nyaris selalu muncul di setiap halaman.

“Jadi, menurut buku itu, kamu membenci senja?” tanyanya beberapa saat setelah aku selesai bercerita.

Aku mengangkat bahu dan memiringkan kepala. “Begitulah…”

Hening sebentar, pecah kemudian oleh suaranya yang tiba-tiba terdengar. “Aku sedang melihat senja.”

Aku mengerjap-ngerjapkan mata, sempat bertanya-tanya sebelum akhirnya sadar kalau dia baru saja menjawab pertanyaanku di awal obrolan ini. “Kau menyukai senja?”

Pertanyaan itu membuatnya tersenyum ragu. “Kata mereka aku menyukai senja dan mencintai senja yang berbeda,” paparnya. Aku baru akan menanyakan tentang apa yang maksudnya senja yang berbeda itu saat dia menunjuk ke arah pintu masuk dan berseru, “ada pelanggan. Aku rasa aku harus pergi.”

Dia kemudian bangkit dari kursi, tersenyum dan berkata, “senang mengobrol dengan Nona,” sebelum benar-benar pergi.

Aku memandangi punggungnya dan tersenyum juga. Aku kemudian menanyakan sesuatu kepada pelayan lain yang datang untuk membereskan meja di depanku.

“Kamu tahu siapa namanya?” Aku menunjuk dia dalam gerakan yang kecil.

Pelayan itu mengikuti arah yang aku tunjuk, dan, “maksud Nona, yang melayani pelanggan yang baru datang itu?”

Aku mengangguk. “Ya, dia. Kamu tahu siapa namanya?”

Pelayan itu tersenyum sopan dan mengucapkan sebuah nama. Lalu, aku bisa mendengarkan jantungku mendebarkan kata rindu.

“Arangga Ferdinand.”

 

***

 

Jika di kemudian hari aku mendapatinya menanyakan namaku, aku akan menjawab namaku Alana Senja. Lalu, jika di kemudian hari dia mengingat semuanya kembali, aku akan mengatakan kepadanya kalau aku mencintainya.

 

***

 

Aku mulai merasakannya
Saat dia memanggilku dengan Senja

 

Aku sedang merasakannya
Saat dia melukis cantiknya Senja dengan aksara

Aku akan tetap merasakannya
Saat dia menyentuh Senja dengan bibirnya

Aku sadar telah lama aku mencintainya
Dan aku akan mengatakan kepadanya
Saat aku percaya senja itu indah

 

Arangga Ferdinand

Holiday Writing Challenge by GagasMedia

Ai (cinta tak pernah lelah menanti).
Page 62&63.
Winna Efendi’s version.

“Aku tidak ingin kehilangan kamu, juga tidak ingin kehilangan Shin. Kamu mengerti maksudku?”

Aku berhenti untuk menatapnya lekat-lekat. Akhir-akhir ini, sebuah pertanyaan terus-menerus membuatku risau. “Ai, tidak pernahkah kau merasa aku hanya akan menjadi pengganggu dalam hubunganmu dan Shin?” tanyaku lagi.

Dia tersenyum dan menggeleng. “Kau dan Shin adalah dua orang yang berbeda, tapi kalian sama pentingnya untukku. Bersama Shin, aku menemukan begitu banyak kecocokan, hubungan kami sangat menyenangkan. Tapi, bersamamu, Sei, aku selalu merasa seperti memiliki rumah untuk kembali.”

Aku terhenyak. “Kamu banyak berubah, Ai-chan.” Dia bukan lagi gadis kecil yang manja dan impulsif. Kalimatnya seolah menyadarkanku bahwa kami sudah beranjak dewasa, dengan pilihan-pilihan penting yang harus dibuat.

“Manusia berubah, Sei. Kita tidak bisa jadi orang yang sama selamanya. Tapi, bukan berarti persahabatanku denganmu juga ikut berubah. Aku masih tetap menyayangimu seperti dulu.”

Walau tidak banyak yang diucapkannya, sedikit banyak aku mengerti. “Ai, kamu… benar-benar menyukai Shin?”

Ai terpaku menatapku setelah mendengar pertanyaan itu, lalu tersenyum. “Sei, kau juga benar-benar menyukai Shin, kan?”

Ya, tentu saja. Aku dan Ai sama-sama mengaguminya, dengan cara yang berbeda. Mungkin, nasib yang membawanya ke sini, takdir yang mempertemukannya dengan kami, sama seperti benang merah yang mempertemukan aku dengan Ai. Shin sekarang adalah prioritas baru dalam hidup Ai—aku tidak lagi bisa memiliki Ai sendirian.

“Ikutlah bersama kami ke Tokyo,” pintanya.

Aku berhadapan dengan Ai, memandang wajahnya yang terbakar matahari dengan rambut melambai-lambai. Aku mengangguk.

Siang itu, aku menyerahkan kertas pemilihan universitas kepada sensei. Baris pertama, Todai. Baris kedua, Todai.

Bulan demi bulan berlalu, seakan berlari menuju waktu ujian akhir. Aku, Ai dan Shin sibuk belajar—mengerjakan soal-soal latihan dua kali lebih tekun, mendengarkan sensei dengan lebih saksama, meminjam buku-buku pelajaran lebih banyak. Di sore hari, kami lebih banyak menghabiskan waktu bertiga, belajar di samping dapur sebelum restoran ramai, atau di toko buku, membeli buku referensi latihan soal.

***

Ai
Page 62&63.
My version.

“Aku tidak ingin kehilangan kamu, juga tidak ingin kehilangan Shin. Kamu mengerti maksudku?”

Aku mengangkat wajah untuk menatap Ai sepintas, lalu mendesah lamat-lamat. Sementara Ai kelihatan bingung harus mengatakan apa lagi, aku beranjak dari kursi menuju perapian. Sedari tadi apinya tidak besar dan potongan kayu bakar Redovein—kayu bakar urat merah—terlihat melayang dan berputar di tengah-tengah.

“Ai, tidak pernahkah kau merasa aku hanya akan menjadi pengganggu dalam hubunganmu dan Shin?” aku bertanya tanpa menatap Ai.

“Kau dan Shin adalah dua orang yang berbeda, tapi kalian sama pentingnya untukku. Bersama Shin, aku menemukan begitu banyak kecocokan, hubungan kami sangat menyenangkan. Tapi, bersamamu, Sei, aku selalu merasa seperti memiliki rumah untuk kembali.”

Aku tertegun. Bukan dikarenakan api perapian yang padam oleh angin kencang yang menerobos papan gubuk tua yang sudah keropos ini. Bukan pula karena potongan kayu bakar Redovein terjatuh dan meledak-ledak saat saling berbenturan. Akan tetapi, karena rasa-rasanya tanpa benar-benar aku sadari, Ai sudah berubah. Dan itulah yang aku katakan kepada Ai saat aku berpaling menatapnya.

“Kamu banyak berubah, Ai-chan,” tuturku dengan cara yang tidak biasa.

Ai menyulam senyum tipis di balik cahaya rembulan yang temaram, yang menyelusup masuk melalui lubang atap yang menganga lebar. Aku menciptakan lubang itu tanpa sengaja semalam, setelah aku mendengar rencana yang dibeberkan Ai dan Shin. Mengingat itu, tiba-tiba saja aku ingin meninju apa saja sekarang, hanya saja aku tidak mungkin melakukannya sekarang. Aku tidak mau menakuti Ai seperti yang aku lakukan semalam saat aku memporakporandakan hutan dalam satu detik. Maka, aku hanya menyipitkan mata ke arah perapian dan seketika api kembali membuat Redovein melayang-layang, kali ini lebih cepat.

“Manusia berubah, Sei. Kita tidak bisa jadi orang yang sama selamanya. Tapi, bukan berarti persahabatanku denganmu juga ikut berubah. Aku masih tetap menyayangimu seperti dulu.”

Aku membuang muka dan tersenyum muram. Itu masalahnya, Ai. Tidakkah kau mengerti? Tidak ada manusia yang bisa memporakporandakan hutan hanya dalam sekejap mata. Tidak ada manusia yang bisa mematik api hanya dengan sipitan mata. Tidak ada manusia yang memiliki mata yang bisa menghancurkan apa saja.

Tidak ada manusia yang memiliki Perdiculrum, sepasang mata merah yang hanya dimiliki oleh keturunan suku Perdiditarx, suku yang paling ditakuti di Gerumnoa.

“Ai, kamu… benar-benar menyukai Shin?” aku bertanya meski seharusnya aku sudah tahu jawabannya. Bukankah itu juga yang menjadi alasan kenapa Ai setuju pada rencana Shin untuk meninggalkan Gerumnoa dan kembali ke Tokyo—bagian dari dunia manusia, tempat di mana mereka sepatutnya berada?

“Sei, kau juga benar-benar menyukai Shin, kan?” Ai balik bertanya, dan aku hanya diam. Tidak ingin menjawab. Tidak perlu menjawab. Ai bisa membaca pikiran siapa saja. Mencoba untuk menyangkal adalah hal yang sia-sia. “Ikutlah bersama kami ke Tokyo,” mintanya kemudian.

Aku menggeleng samar-samar, lalu menunduk. Ai menyebutkan namaku, namun aku enggan mengangkat wajah, terlalu takut untuk menatapnya. Bahkan sampai Shin datang untuk menjemput Ai, aku masih betah memandangi lantai kayu yang semakin lama semakin hancur karena tatapanku. Sebelum mereka benar-benar pergi, aku tidak akan mengangkat wajah. Sebab aku tahu, jika aku mengangkat wajah sekarang, mereka akan terkapar tidak bernyawa saat itu juga.

Biasanya aku tidak akan ragu membunuh siapa saja yang memiliki keinginan yang berseberangan dengan keinginanku. Namun kali ini saja, aku ingin membuat semuanya berbeda. Hanya untuk mereka.

Sebab dari mereka, aku tahu apa itu persahabatan, Dari mereka pula, aku mengenal apa itu cinta.

Selamat Ulang Tahun, Gramedia

Terangkum untuk Gramedia Pustaka Utama…

 

Aku sedang mengikuti kisahmu
Dengan jemariku
Lewat jilid-jilid bukumu
Menyingkap jendela di sela-sela padatnya aksara
Berkatmu, aku bisa memandang ke luar dunia

Aku masih mengikuti kisahmu
Tentang semangat berbagi dan memperluas wawasan diri
Bau di jengkal-jengkal kertas adalah bukti
Juga beratus kertas yang sudah menguning
Aku tahu kau tidak sudi untuk berhenti

Sekarang di pundakmu terpanggul angka 38
Rangkuman angka yang menyusun kematangan
Di setiap mata dirimu tidak akan usang
Helaian rambutmu tidak akan memutih
Selalu sehitam tinta pembentuk kata

Jadi, ini hanya untukmu
Selamat ulang tahun dariku
Aku harapkan terkabul
Bahwa dirimu tidak akan runtuh meski dilumat waktu

Holiday Writing Challenge by GagasMedia

Sometimes
Terkadang cinta harus menunggu…

Delapan Belas

***

Magentha

Aku sedang makan siang dengan Sam di Deligracias. Deligracias sendiri adalah sebuah kafe minimalis yang tidak terlalu luas. Awalnya aku sempat ragu. Bagaimana tidak? Namanya terdengar asing di telingaku, apalagi letaknya yang cukup jauh dari pinggir kota. Entah sejak kapan, namun tahu-tahu apa yang aku pikirkan terlihat begitu transparan bagi mata Sam. Pria itu dengan mudahnya membaca pikiranku, lalu tersenyum.

“Jangan terkecoh oleh pikiranmu sendiri,” begitu ia memperingatkanku. “Kafe ini memang tidak begitu terkenal, namun pantas disandingkan dengan semua kafe yang kaukenal,” sambungnya.

Aku tersenyum malu dan mengangguk. Lalu aku mengikutinya masuk ke dalam.

Kesan pertama Deligracias bagiku adalah nyaman. Kursi dan mejanya disusun sedemikian rupa sehingga—tidak jelas bagaimana bisa—terlihat lebih rapi daripada kafe-kafe lain yang pernah aku kunjungi. Lantai kayunya berbunyi setiap kali beradu dengan langkah kaki. Musik klasiknya mengalun dengan volume yang pas. Lampu kuningnya yang menyala tidak terlalu terang. Sebuah perpaduan yang membuatku jatuh cinta dan berjanji akan datang lagi.

“Aku akan datang ke sini lagi,” cetusku setelah memesan sesuatu. Sam hanya tersenyum. “Sekalipun makanannya terbukti tidak enak,” sambungku. Dan senyuman Sam semakin melengkung. Aku tidak tahu kenapa ia begitu namun saat pesananku datang dan aku mencicipinya, mendadak semuanya menjadi begitu jelas.

“Enak,” aku berseru tertahan sambil memandangi steak yang aku pesan dengan takjub.

Sam terkekeh di seberang. “Apa kubilang,” katanya. Kemudian ia mulai menyantap nasi gorengnya. Aku mengangkat bahu dan kembali menyantap steak-ku.

Aku sempat bertanya-tanya kenapa tiba-tiba Sam mengajakku ke sini, kenapa bukan ke kafe tempat kami makan siang bersama untuk pertama kalinya, atau ke kedai mie yang menyediakan mie yang menurut Sam terenak di seluruh Indonesia. Semula aku menyangka karena kafe di sini menyediakan makanan yang tidak kalah enaknya. Akan tetapi saat Sam tiba-tiba mencetuskan sesuatu, aku tahu alasannya tidak sesederhana itu.

“Ini kafe favorit Jo,” cetusnya dengan ringan. Ia tampak tidak masalah menyebutkan sebuah nama yang belakangan ini jarang keluar dari mulutnya. Lalu Sam mulai bercerita.

Katanya, Jo sering minta diantarkan ke sini untuk makan siang. Jika kebetulan mereka sedang beda keinginan—Jo ingin makan siang di sini sementara Sam ingin makan siang di kedai mie favoritnya, Jo akan lebih banyak mengalah. Akan tetapi, sesekali Jo bisa jadi begitu keras kepala sehingga mereka harus melewati perdebatan yang panjang. Pernah satu kali mereka putuskan untuk mengunjungi kedua-duanya. Kedai mie, lalu kafe ini. Namun begitu sampai di sini, mereka malah hanya memesan minuman, terlalu kenyang untuk memesan makanan lagi. Yang terjadi kemudian adalah Sam duduk santai dan menemani Jo yang sedang menulis sampai sore.

Aku kira hanya sampai di situ, namun mungkin bagi Sam itu belum cukup sebab potongan-potongan cerita lain kemudian berlompatan keluar dari mulut Sam. Sam bercerita dengan lancar dan tenang. Sesekali ia akan diam sejenak untuk tersenyum sebelum melanjutkan lagi.

Ia bercerita tentang apa yang sering dipesan Jo di sini. Nasi goreng dengan telur mata sapi setengah matang dan segelas jus belimbing, beritahunya. Ia juga bercerita tentang kebiasaan Jo yang selalu mengoperkan ketimun dan tomat dari piringnya ke piring Sam, juga Jo yang selalu mengaduk jus belimbingnya tiga kali sebelum meminumnya. Sam tidak melewatkan tentang Jo yang suka menyebutkan judul musik klasik yang mengalun bergantian di sini. tidak juga tentang Jo yang otomatis berseru ‘berisik’ setiap kali Sam memainkan lonceng kecil di atas meja seperti anak kecil. Dan masih banyak lagi.

Aku masih mendengarkan Sam saat tiba-tiba aku tersadar akan sesuatu yang membuatku tidak bisa menahan senyum. Sam berhenti, mengamatiku sebentar sebelum bertanya, “kenapa senyum-senyum seperti itu?”

“Kau tidak tahu?” aku balik bertanya, lalu menyentil lonceng kecil di atas meja hingga berdenting sekali. Aku melihat Sam melipat-lipat keningnya dan berpikir. Lalu ia menggeleng dengan lugu.

“Tahu apa?” ia bertanya.

Aku menyunggingkan senyum sepintas, kemudian, “sedari tadi kau terus membicarakan Jo,” beritahuku.

Ia tampak tersengat dengan mata yang tiba-tiba melebar. Ia benar-benar tidak sadar. Lalu pelan-pelan sinar matanya menjadi samar-samar. Ia menengadah sebentar dan sejenak terlihat ingin menghindar. Akan tetapi saat ia menunduk, ia menggumamkan sesuatu dengan saru.

“Aku merindukannya.”

“Kau bisa menemuinya,” kataku, namun Sam mengangkat wajah dan menggeleng. “Kenapa tidak?”

Sam membuka mulutnya, lalu mengatupkannya kembali tanpa sempat mengucapkan sesuatu. Ia ragu, namun aku tahu.

Aku menyentuh tangan Sam. “Sam, dia hanya mencintaimu. Dia tidak meminta apa pun.”

“Tetapi…”

Aku menggenggam tangan Sam dan menyela, “cinta itu tidak memaksa.”
Sam menatapku beberapa waktu dan mengangguk. “Sama sepertimu yang tidak memaksa Jo dulu,” ucapnya.

Aku menyulam senyum dan menggenggam tangan Sam semakin erat. “Juga sepertimu yang tidak pernah memaksaku untuk menerimamu.”

Sometimes (Tujuh Belas)

Vesselia

Aku menoleh ke arah pintu kamar setelah mendengar bunyi ketukkan yang samar-samar. Tidak lama aku seperti itu sebab setelah sekian detik melaju dan berlalu, aku mendapati sepupuku kemudian melangkah masuk. Sementara ia terus melangkah sambil pelan-pelan bersenandung, aku tetap duduk dan kembali larut mengangin-anginkan lukisanku.

Aku tahu saat Kafka berhenti di sampingku dan sebelah tangannya menyentuh puncak kepalaku. Ia berhenti bersenandung setelah itu. Lewat cermin di depan sana aku lihat ia berusaha mencari mataku, lantas beralih mengamati lukisanku. Aku terus menunggu hingga akhirnya ia putuskan untuk menggumamkan sesuatu.

“Dia lagi?”

Aku menengadah, menatapnya sejenak kemudian tersenyum sepintas. Ia membawa tangannya menjauh saat aku berhenti menengadah dan mengangkat bahu.

“Terus melukisnya. Apa itu caramu mencintainya?”

Aku mendesah tidak kentara, lantas, “itu semua yang aku bisa,” aku memberinya jawaban dengan suara yang mengambang.

“Sampai kapan, Ve?” Kafka bertanya lagi.

Aku menyandarkan kepalaku ke pinggang Kafka dan termenung sejenak. Aku menyentuh wajah Jo di kanvas, lantas menjawab setelah melepas napas. “Sampai aku menemukan alasan untuk berhenti melakukannya.”

Kafka menunduk dan menatapku. Aku mengangguk dan kembali termenung. “Hanya dengan melukisnya aku bisa memilikinya… seutuhnya, tanpa peduli pada kenyataan yang terjadi.” Aku meneguk ludah dengan susah, dan sesudahnya, “kenyataan kalau dia mencintai lelaki,” aku menuntaskan.

Aku mengangkat wajah dan mendapati mata Kafka terbelalak yang sesaat kemudian meredup untuk satu alasan yang tidak aku tahu. Ia ikut menyentuh kanvas dengan jemari yang bergerak kaku. Dan saat aku kembali menatapnya, aku terperangah. Ia… ia kelihatan tahu bagaimana rasanya.

Aku mengerjap-ngerjapkan mata saat Kafka berpaling menatapku tiba-tiba. Ia menyunggingkan senyum yang terasa berbeda dan, “kita berangkat sekarang?” tanyanya sambil membetulkan letak ransel sekolah di pundaknya.

***

Jonathan

Aku melangkah keluar rumah bersama kegamangan yang serupa bayangan. Mentari yang bergelayut di batas timur sana mendadak bukan lagi apa-apa. Bagi sepasang mataku, ia tampak begitu saru, jauh dan seperti ilusi lalu. Sebab kini sekelilingku tampak gelap, tidak seperti semestinya.

Belum pernah aku seperti ini sebelumnya di mana napasku terkatung dan diburu rasa takut, juga langkahku setengah menolak untuk maju. Dan semuanya bertambah kacau saat aku melihatnya tidak jauh di depanku. Beberapa waktu yang lalu, saat aku menghampirinya di meja makan, ia bergegas menjauh tanpa mengatakan apa pun. Lantas sekarang bagaimana aku akan menghadapinya jika di matanya aku tampak terlarang untuk dijamah?

Sam melirikku sekilas dan terlihat enggan. Ia menunduk sekelumit dan, “masuk,” katanya tanpa sedikit pun mengayunkan matanya ke arahku.

“Sam,” sebutku, berupaya tidak terganggu oleh nada dingin yang baru ia cetuskan. Aku baru menarik dua langkah untuk mendekatinya saat Sam memenggal langkahku dengan tiba-tiba.

“Jonathan, tolong jangan buat semuanya bertambah sulit,” mintanya dengan lelah. Sam memutar badannya sampai memunggungiku, lalu, “masuklah,” ia mengulangi.

Aku memejamkan mata dan mengepalkan tangan kuat-kuat ketika sakit tertawa dan meninggalkan bilur yang menganga. Dan sakit itu masih ada saat aku membuka mata dan menatap punggungnya lama. Aku menurutinya dengan percah-percah daya, berjalan menjauhinya dan masuk ke dalam mobil.

Hanya ada satu masa di mana Sam memanggilku dengan Jonathan, ketika ia belum mengenalku sepenuhnya. Dan sekarang ia kembali ke masa itu.

Sam tidak lagi mengenalku.

Dan semua ini salahku.

***

Samuel

Hari ini tidak seperti biasanya di mana aku dan Jo bisa berbicara tentang banyak hal, lalu tertawa. Sesuatu sedang salah dan tidak semestinya. Itu mungkin adalah alasan kenapa suara Jo terdengar usang di telinga, mungkin juga alasan kenapa aku bersikeras menjerat mata untuk mengabaikannya. Setelah semua yang ia tutupi meninggalkan celah untuk dibuka, seketika itu pula ia menjelma menjadi sudut yang sebaiknya tidak lagi aku sambangi. Ini bukan benci. Aku hanya harus berlari.

Semua sudah tersingkap, dan berpura-pura tidak ada apa-apa adalah hal yang sia-sia. Amukkan badai bermacam-macam rasa ini tidak bisa luput dari mata, mustahil bisa reda begitu saja. Segala tingkah kami pun berubah dan tidak lagi searah. Setiap inci seakan tidak akan pernah habis terbabat. Jarak yang memisahkan kami begitu hebat. Keinginanku tidak surut sedikit pun untuk menarik langkah dengan cepat, meninggalkan Jo yang mengikutiku diam-diam dengan langkah yang takut-takut. Aku nyaris memasuki kantin saat terdengar derap langkah yang memburu, dan Jo menyambar tanganku sepintas detik setelah itu.

“Kita butuh bicara,” katanya dengan nada memohon.

Aku menggeleng. “Semua yang kita butuhkan hanya jarak,” sahutku dengan nada rendah tanpa berbalik untuk menatapnya. Aku menarik napas, kemudian, “lepaskan,” aku meminta dengan repas.

Tangan Jo gemetaran, begitu pula suaranya. “Sam…”

“Jonathan, lepaskan,” aku mengulangi di sela-sela gemeletuk gigi. Lalu saat Jo bersikeras dengan keinginannya yang tidak akan pulas, rasa geram pun bebas dan lepas. Aku memutar badan sampai menghadapnya dan menyentakkan tanganku agar bebas dari jeratannya. Mataku terbeliak lebar menerjang matanya sementara kedua tanganku mengepalkan diri sekuat-kuatnya. “Jonathan, aku tidak akan pernah,” aku menggeleng dengan gundah, “tidak akan bisa menjadi penyuka sesama jenis sepertimu,” hardikku.

Dan seketika aku tersentak saat kesadaran menendangku dengan telak. Kepalan tanganku terurai begitu saja dan rasa geramku kini entah merayap ke mana. Aku dibuat terperangah oleh kalimat yang aku luapkan sendiri sementara Jo lebih dari terperangah. Matanya sempat terbelalak tidak menyangka, lalu sejenak kemudian berubah sendu setelah kabut turun menyetubuhinya.

Naluri membawaku melangkah maju dan mengulurkan tangan untuk menyentuhnya. Akan tetapi, Jo melangkah mundur dengan kaku. Akan tetapi, ia tergerak untuk menjauh. Ia tidak mau.

“Jo, aku…”

Aku merasa ngilu di hati saat Jo menggeleng dan tersenyum sedih.

“Sam…” Jo merangkai namaku dengan sangat lambat dan pelan, “ini juga cinta, kan?” tanyanya. “Lantas kenapa dipandang hina?”

***

Dan semuanya berawal dari kantin di pagi itu, saat aku menghardik lepas kendali dan beberapa pasang telinga di sekitar diam-diam mencuri. Semestinya mereka menyimpannya hanya untuk diri sendiri, namun manusia memang sulit mengendalikan diri. Dari beberapa mulut yang terkutuk, lalu diteruskan oleh mulut-mulut lain yang sama terkutuknya. Pelan-pelan nila itu tersebar. Menyelusupi setiap pintu dan cela-cela jendela. Menyalami setiap pasang telinga. Meninggalkan jejak yang sukar samar.

Ingin maupun tidak ingin, semua kemudian mendengar. Setitik nila itu sedemikian menggelegar, membuat seluruh penjuru sekolah gempar. Satu per satu pendapat ditukar. Terus saja dibicarakan meski mereka tahu ada yang sedang terkapar. Nila itu seperti tidak akan terasa hambar meski sesungguhnya satu minggu sudah berlalu semenjak sekolah seolah menjadi neraka, bagiku dan terlebih bagi Jo…

***

Sekarang aku sedang memperhatikan Jo dari kejauhan. Ia tampak tenang. Ia tampak biasa, lebih dari semestinya. Biasa terhadap setiap mata yang memandangnya dengan tidak lazim. Biasa melihat bibir miring yang mencibir. Biasa mendengar suara buruk yang membicarakannya layaknya seorang tahanan.

Aku menghela napas panjang, lalu membuang sisa-sisa rasa sesak di dada. Aku marah kepada diriku sendiri. Aku merasa gagal menjadi seorang sahabat untuk Jo. Seharusnya aku tidak di sini. Seharusnya aku berlari ke arahnya dan merangkulnya. Seharusnya aku meyakinkannya kalau semua akan baik-baik saja seperti yang dulu aku lakukan ketika ia diejek karena kurus, atau saat nilai ujiannya merosot jauh. Seharusnya…

Namun aku tidak bisa. Semuanya tidak lagi sama, apalagi setelah Papa tahu semuanya dan dengan terpaksa menyewa sebuah rumah kecil dan membiarkan Jo tinggal di sana sendiri. Berengsek memang, namun harus aku akui kalau aku mulai terbiasa dengan jarak yang membatasi kami. Seperti yang Papa katakan, ini—mungkin—yang terbaik.

***

Magentha

Aku berhenti menarik langkah di dekat Sam. Kuperhatikan wajah lelahnya sebentar, lalu menuntun mata untuk mengikuti arah pandangnya. Melihat Jo ada di sana, sejenak aku pun terlempar ke masa-masa di mana aku mulai bisa memahami Jo, memahami semua tentangnya.

Saat itu masih pagi dan masih terlalu dini untuk sebuah kejutan yang mengubah sepanjang hari. Aku tidak tahu butuh berapa lama sampai akhirnya berita itu tersiar dan mendengung di telingaku. Yang aku tahu, saat itu dunia berputar begitu cepat di dalam kepalaku. Aku terhuyung mundur dan sudah pasti akan jatuh terduduk kalau saja Ve tidak berlari menghampiriku.

Kau sudah tahu? Begitu tanyanya dan aku mengangguk begitu saja, tidak sepenuhnya untuk menyahuti pertanyaannya. Sebab, di detik itu, ada banyak hal yang aku tahu.

Aku tahu alasan di balik tindak-tanduk Jo yang menjauhiku. Aku tahu apa yang sebenarnya ingin ia jaga dengan utuh-utuh. Aku tahu ia mendera sakit saat ia meminta hatiku untuk lelaki yang ia cintai, seperti menyerahkan nyawanya sendiri. Dan di balik semua itu, hanya ada satu hal yang tidak aku tahu. Bagaimana rasanya mencintai dengan cara yang Jo pilih?

Aku menyentuh lengan Sam dan bertanya, “kau baik-baik saja?”

Sam menoleh menatapku dan tersenyum sekilas. Ia lalu kembali memandang ke depan dan mendesah. “Kembalilah kepadanya,” katanya. “Aku tidak apa-apa.”

Namun aku tetap bertahan di dekatnya. Aku meraih tangan Sam dan menggenggamnya agar ia percaya sewaktu aku berkata, “aku akan tetap bersamamu, semampuku.”

Sam tersenyum lagi. “Terima kasih,” ucapnya.

Lalu kami sama-sama terdiam.

“Aku ingin berteriak,” kata Sam tiba-tiba, “namun bukan karena marah. Rasanya juga ingin menangis namun bukan karena sedih. Rasanya… Aku…” Sam tampak kebingungan untuk menjelaskan.

Namun aku tersenyum mengerti. Aku menyentuh dagu Sam dan menuntunnya untuk menatapku. Sam mengerjapkan matanya satu kali, menyerah kalah pada air mata yang kemudian menetes dan mengarungi pipinya. Aku mengusap pipi dan air matanya. “Sam, kau hanya kecewa. Kecewa pada Jo dan dirimu sendiri. Kecewa kenapa harus dirimu yang Jo pilih.”

 

Sometimes (Enam Belas)

Jonathan

Lama aku hanya diam dan memandang ke depan dengan mata yang menyala ketakutan. Bertumpu pada sepasang kaki yang lunglai, aku seperti menyaksikan dunia perlahan hancur dan terberai. Satu-satu napasku melayang keluar dengan gemulai, dan aku tahu hanya tinggal beberapa detik sebelum setan-setan menyeringai dan kehancuranku dimulai.

Tidak jauh di depan sana, Sam menarik diri untuk berdiri. Suaranya terdengar gamang dan mengawang saat ia bertanya, “apa maksudnya?”

Ada rasa kebas yang bermain bebas di sekitar mulutku, menjadikannya berat dan kaku. Maka aku hanya tergugu sementara semua aksara yang aku tahu berserakkan kemudian lumpuh. Lantas ketika aku masih berusaha memungutinya satu per satu, Sam kembali memecutku dengan pertanyaan menakutkan itu.

“Apa maksudnya?” Sam bertanya, mengandalkan suaranya yang berubah parau. Sam mengacungkan kartu lembayung itu. “Semua ini… apa maksudnya?’

“Kau tahu…” Akhirnya aku bersuara, dan sekadar itu yang aku mampu. Aku menelan ludah yang terasa telah membatu, dan Sam tersentak mundur. “Sam, kau tahu…”

Dan seketika itu juga jurang curam meretas permukaan tanah dengan angkuh. Aku melihat Sam berjingkat menjauh. Ia menggeleng dengan gerakan yang kaku dan menggumamkan sesuatu dengan saru. “Tidak…” Ia tertawa tanpa rasa jenaka sedikit pun. “Tidak…”

Aku membiarkan Sam sampai ia berhenti dan berdiri nyaris di sudut dinding. Kemudian saat aku memberanikan diri untuk menepis setiap inci, Sam malah beringsut menjauh dengan tertatih. Satu langkahku yang mendekat dibayar olehnya dengan tiga langkahnya yang menjauh. Dan saat Sam bersuara menentangku, aku tahu semuanya telah berubah keruh.

“Jangan mendekat,” salaknya. Ia mengangkat tangannya, lurus dan tangguh untuk menikamku. Ada sesuatu yang belum pernah aku pandang di balik matanya yang kini mengancam mataku serupa ujung pedang. Tajam dan berang.

“Sam…” Aku menyebutkan namanya, dan nyaris tidak mengenali suaraku sendiri. Serak dan tipis, seperti baru disapu oleh ribuan butir pasir. Aku hendak melangkah kembali, namun Sam segera menerkamku dengan suara tinggi.

“Jangan mendekat!” Urat-urat di wajahnya menegang dan terlihat ingin menembus kulit wajahnya untuk meneriakiku dengan larangan itu lagi.

Aku tidak lagi peduli ketika akhirnya aku berlari. Tergopoh-gopoh aku menyongsong Sam. Aku meraih tangannya dan meremasnya dengan kalut. Sam mencoba menarik tangannya, namun aku mempertahankannya dengan sisa-sisa tenaga. Sam memaki dan menyentakkan tangannya. Rasa marah mungkin sudah membuat tenaganya meledak hingga aku terpaksa pasrah saat tubuhku berputar ke belakang dan terhempas dengan bibir yang membentur sudut ranjang.

Aku berputar dan mendongak untuk menatap Sam. Ia melemparkan kartu lembayungku ke tanah, lalu tanpa sedetik pun menyalami tatapanku, ia melangkah pergi dan membiarkan rasa sakit memasungku seorang diri.

Aku menyentuh sudut bibirku yang berdenyut-denyut, dan saat aku menemukan darah di sana, aku pun menjadi gila. Kutekan sudut bibirku kuat-kuat meski rasa sakit membuat tanganku bergetar hebat. Aku tidak lagi butuh darah. Aku akan mengurasnya sampai tidak ada sisa. Lalu setelah itu semua rasa sakit akan binasa, dan aku akan berhenti menyulam dosa.

Aku berhenti di titik sia-sia, lantas menekuri kartu lembayung yang tergeletak. Diam-diam aku menangis. Air mata dan darah bergantian menetesi kartu itu dan sedikit demi sedikit mengaburkan rangkaian nama di sana.

Samuel Aditya…

***

Samuel

Di depan dada aku menyilangkan tangan dan mencengkram kedua lengan. Aku berjalan mondar-mandir sementara rapalan penyangkalanku tidak kunjung menemukan hilir. Dan seperti satu-dua detik yang baru saja berlalu karena digilir, aku kembali menggelengkan kepala dan mendesau dengan getir. Sekali lagi, untuk kesekian kalinya aku kembali memungkiri dan membisikkan ‘tidak mungkin’.

Ini tidak mungkin, jelas saja. Apa yang baru saja terjadi sungguh mengada-ada dan pasti hanya adegan opera murahan belaka. Sebab, dari awal semuanya berjalan dengan benar. Jo tidak berbeda dan sama seperti lelaki lainnya. Ia tampak begitu biasa dengan setiap lekuk raganya dan semuanya, kecuali…

Tingkah anehnya saat pertama berkenalan denganku…

Penarikkan diri dari setiap sentuhan denganku…

Ketiadaan kaum hawa dalam penggalan kisah yang ia bagi…

Dan semua detil-detil perhatian yang tidak aku sadari…

Lalu benarkah semua ini?  Haruskah aku berbangga hati saat apa yang ia inginkan adalah aku sendiri? Atau, semestinya aku menarik diri dan berlari sampai ia berhenti karena didera letih?

Aku jatuh terduduk di tepi ranjang dengan setumpuk perasaan yang membuatku lelah. Aku menunduk dan mengusap wajah. Setiap detak nyawa seperti kehilangan suara, juga setiap embusan napas seperti kehilangan arah.

Jadi, ini yang disebutnya nila.

Dan seperti inilah rasanya tenggelam di dalamnya.

Aku kemudian mengangkat wajah dan menoleh ke sebelah. Di sana aku menekuri selembar foto di balik sebingkai merah. Foto Jo dan aku. Sama-sama melihat ke arah kamera. Sama-sama tersenyum. Dan sama-sama lelaki…

“Jo, tidak sadarkah kau kalau setelah ini semuanya tidak akan bisa sama lagi?”

 

***

 

Aku menyingkap pintu di depanku perlahan-lahan. Decitan panjang yang terdengar menyedihkan kemudian mengantarku masuk dan melepas langkahku dalam keremangan. Lewat jendela kaca yang entah lupa atau enggan ditutup, angin malam mengendap-endap ramah, menyalami tirai tipis di sana, lantas berbisik samar meski tidak ada yang meminta. Lalu di dekat ranjang aku berhenti, berdiri dan bergeming meski sadar jam dinding terus saja berdetak dan berdetik. Aku ingin tetap seperti ini, meski akhirnya gemuruh di luar sana berhasil membujukku untuk menjamah ranjang dan duduk di garis tepi.

Awalnya aku hanya ingin mencari ponselku yang tertinggal di kamar ini, namun entah bagaimana semuanya kemudian teralih. Yang terjadi justru aku mencoba memelajari di tengah cahaya yang belum sepenuhnya berserah diri. Menapaki setiap inci, menghampiri semua sudut memori… semuanya untuk menggali arti. Lama aku hanya duduk dan memandangi Jo yang tampak pulas dalam tidurnya. Akan tetapi kemudian aku sadar ia tidak begitu ketika ia menahanku sewaktu aku ingin beranjak dan pergi.

“Jangan pergi,’ desahnya tanpa membuka mata.

“Jo… kenapa harus aku?” aku bertanya dengan ngilu.

Hening beberapa saat hingga akhirnya ia menjawab dengan parau, “karena aku mencintaimu.” Jo membuka matanya, dan seketika aku terperangah ketika melihat kesungguhan yang menyala di sana.

Benarkah apa yang aku lihat?

Adakah kesungguhan dalam cinta sewarna? Adakah kehormatan di balik cinta yang dipandang hina?